Sosok Cut Nyak Dhien, Sang 'Ratu Aceh' yang Tangguh di Medan Perang

Pahlawan nasional, Cut Nyak Dhien. Dok. Istimewa

Sosok Cut Nyak Dhien, Sang 'Ratu Aceh' yang Tangguh di Medan Perang

Muhamad Marup • 5 November 2026 20:11

Jakarta: gi masyarakat Aceh, Cut Nyak Dhien adalah pahlawan nasional sekaligus simbol perempuan tangguh pada masa kolonial. Julukan “Ratu Aceh” melekat padanya karena keberanian dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan kemerdekaan tanah air.

Perempuan yang lahir pada 1848 di Lampadang, Aceh Besar, berasal dari keluarga bangsawan yang religius dan terpandang. Meskipun lahir dari keluarga bangsawan, Cut Nyak Dhien tetap berjuang di medan tempur dan memimpin perang di Aceh.

Kematian suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lam Nga, pada 29 Juni 1878 memicu kemarahan besarnya. Peristiwa tersebut membuat ia bertekad akan terus mengangkat senjata dan berperang sampai titik darah penghabisan.

Asal-usul dan Masa Muda

Cut Nyak Dhien lahir di wilayah VI Mukim, Lampadang, Aceh Besar. Tahun kelahirannya tercatat berbeda dalam sejumlah sumber, yakni 1848 dan 1850. Ia berasal dari keluarga bangsawan Aceh yang taat beragama.

Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim. Sejak kecil, Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan agama Islam serta pengetahuan mengenai kehidupan rumah tangga dari orang tua dan guru agamanya.

Pada usia sekitar 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra seorang uleebalang dari Lamnga XIII. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki.

Kehidupan rumah tangganya berubah ketika Perang Aceh melawan Belanda semakin meluas. Suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran di Gle Tarum pada 29 Juni 1878.

Perjuangan Bersama Teuku Umar

Setelah kematian suami pertamanya, Cut Nyak Dhien kembali menikah dengan Teuku Umar pada 1880. Teuku Umar merupakan salah satu tokoh penting dalam perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda.

Awalnya, Cut Nyak Dhien menolak lamaran Teuku Umar. Namun, ia akhirnya bersedia menikah setelah Teuku Umar mengizinkannya untuk ikut berjuang di medan perang.

Pernikahan tersebut semakin memperkuat perjuangan keduanya. Keduanya menjadi duo pejuang yang sangat ditakuti militer Belanda pada masa itu.

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar bersama-sama memimpin perlawanan rakyat Aceh menggunakan strategi gerilya  yang cerdas, termasuk taktik Teuku Umar yang sempat berpura-pura bekerja sama dengan Belanda demi mendapatkan pasokan persenjataan.

Pada 30 September 1893, Teuku Umar bersama sekitar 250 orang pasukannya menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial Belanda. Belanda menyambut baik keputusan tersebut dan Teuku Umar mendapat gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan dipercaya menjadi komandan pasukan dengan kewenangan penuh.

Namun, penyerahan diri itu ternyata merupakan bagian dari strategi untuk mendapatkan kepercayaan Belanda sekaligus mempelajari kekuatan militer mereka. Teuku Umar secara bertahap mengganti personel pasukan dengan orang-orang Aceh.

Setelah memiliki cukup kekuatan, Teuku Umar menjalankan rencana yang telah disiapkan. Ia bersama Cut Nyak Dhien dan pasukannya membawa kabur persenjataan, amunisi, serta perlengkapan militer milik Belanda.

Aksi tersebut membuat Belanda marah dan melancarkan operasi untuk menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Meski demikian, keduanya tetap melanjutkan perlawanan dengan persenjataan yang telah berhasil mereka kuasai.


Foto Cut Nyak Dhien (Dok. Perpusnas)
 

Cut Nyak Dhien Melanjutkan Perjuangan

Perjuangan Cut Nyak Dhien kembali menghadapi ujian ketika Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Cut Gambang.

Kematian suaminya tidak membuat Cut Nyak Dhien menyerah. Ia mengambil alih kepemimpinan pasukan dan melanjutkan perlawanan terhadap Belanda di wilayah pedalaman Meulaboh.

Di bawah kepemimpinannya, pasukan Aceh terus melakukan perlawanan meskipun jumlah personel semakin berkurang. Belanda juga semakin memahami medan pertempuran di Aceh sehingga tekanan terhadap pasukan Cut Nyak Dhien semakin besar.

Memasuki 1901, kondisi Cut Nyak Dhien mulai melemah. Penglihatannya mengalami gangguan dan ia menderita penyakit encok. Selain itu, pasukannya menghadapi keterbatasan makanan dan perlengkapan perang. Cut Nyak Dhien dan sisa pasukannya kemudian berpindah dari Beutong menuju wilayah pedalaman Gayo demi menghindari tekanan militer kolonial Belanda.

Perang tersebut terhenti akhirnya terhenti pada tahun 1907 setelah salah satu pengawalnya, Pang Laot, membocorkan lokasi persembunyian kepada pihak Belanda. Alasan utama Pang Laot membocorkan lokasi Cut Nyak Dhien karena ia merasa iba akan kesehatan dari pemimpinnya yang kian memburuk setelah mengalami rabun jauh serta penyakit encok pada tulang belakang.

Pasukan Belanda akhirnya menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu. Dalam penyerangan tersebut, Cut Nyak Dhien berusaha melawan menggunakan rencong, tetapi berhasil ditangkap.

Sementara itu, putrinya, Cut Gambang, berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perjuangan yang sebelumnya dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Diasingkan ke Sumedang

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh untuk mendapatkan perawatan. Kondisi kesehatannya berangsur membaik, tapi Belanda khawatir keberadaannya di Aceh dapat kembali membangkitkan semangat perlawanan rakyat.

Belanda kemudian mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat, bersama sejumlah tahanan politik asal Aceh. Cut Nyak Dhien sempat ditahan di penjara bawah tanah Batavia sebelum akhirnya diasingkan ke Sumedang. Selama berada di pengasingan, Cut Nyak Dhien dikenal sebagai sosok yang memiliki pemahaman agama Islam yang mendalam. Seorang ulama bernama Ilyas yang menjadi sesama tahanan bahkan menjulukinya sebagai Ibu Perbu berarti ibu ratu yang suci dan sangat dihormati warga setempat karena wawasan ilmu agama Islamnya yang luas.

Cut Nyak Dhien menghabiskan sisa hidupnya di Sumedang hingga meninggal dunia pada 6 November 1908 akibat usia yang semakin tua. Ia dikubur di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat, jauh dari kampung halamannya.

Makam Cut Nyak Dhien sempat tidak diketahui hingga akhirnya ditemukan kembali pada 1959 atas inisiatif Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Makam tersebut kemudian dipugar pada 1987 dan hingga kini menjadi salah satu tempat bersejarah yang mengingatkan masyarakat pada perjuangannya.

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Perjuangan panjang Cut Nyak Dhien dalam melawan penjajahan Belanda mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia. Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.

Pengakuan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas keberanian dan pengorbanannya dalam mempertahankan tanah air.


(Siti Nahdia Usman & Adam Nur Fadhilah)

(Muhamad Marup)