7 Perusahaan Minyak Terbesar di Dunia: Dari Saudi Aramco hingga TotalEnergies

Ilustrasi: Pexels

7 Perusahaan Minyak Terbesar di Dunia: Dari Saudi Aramco hingga TotalEnergies

Riza Aslam Khaeron • 26 May 2026 18:18

Jakarta: Hingga hari ini, minyak dan gas bumi masih menjadi tulang punggung yang menggerakkan roda energi dunia. Di balik putaran bisnis bernilai triliunan dolar ini, terdapat segelintir korporasi raksasa yang memegang kendali dominan.
 
Mengutip daftar Fortune Global 500 edisi 2025, yang memeringkat perusahaan-perusahaan global berdasarkan kinerja pendapatan mereka pada tahun fiskal 2024, berikut adalah ulasan mendalam mengenai tujuh raksasa minyak terbesar di dunia saat ini.
 

Saudi Aramco

Saudi Aramco kokoh berdiri di puncak sebagai perusahaan minyak terbesar di dunia tanpa tandingan yang sepadan. Kekuatan utama Saudi Aramco berakar pada dominasi mutlak mereka di sektor hulu (upstream), khususnya dalam produksi minyak mentah.

Dalam ranking Fortune Global 500 2025, Aramco bertengger di peringkat ke-4 secara keseluruhan. dengan pendapatan USD 480,19 miliar (sekitar Rp8.547,38 triliun), Aramco hanya kalah dari raksasa retail dan utilitas seperti Walmart, Amazon, dan State Grid.

Tidak puas hanya menjual minyak mentah, Aramco kini gencar memperkuat sektor hilir (downstream) lewat ekspansi kilang pengolahan, industri petrokimia, dan jaringan pemasaran global.
Hingga kini, kepemilikan saham mayoritas perusahaan masih berada erat di tangan Pemerintah Arab Saudi.
 

China National Petroleum Corporation (CNPC)

Mengekor tepat di bawah Saudi Aramco, China National Petroleum Corporation (CNPC) menempati peringkat ke-5 dalam daftar Fortune Global 500 2025, CNPC meraih pendapatan sebesar USD 412,65 miliar (sekitar Rp7.345,17 triliun).

Sebagai konglomerasi milik negara, CNPC mengoperasikan bisnis migas secara terintegrasi penuh—mulai dari eksplorasi, produksi, jasa ladang minyak, penyulingan, hingga jaringan distribusi ritel. Peran paling krusial CNPC adalah bertindak sebagai benteng pertahanan bagi keamanan energi nasional Tiongkok.

Belakangan ini, CNPC juga mempercepat transisi portofolionya ke sektor gas alam. Sejalan dengan komitmen Tiongkok untuk menekan emisi karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
 

Sinopec Group

Sinopec Group berada di peringkat ke-6 Fortune Global 500 2025 dengan pendapatan USD 407,49 miliar (sekitar Rp7.253,32 triliun). Perusahaan ini merupakan tulang punggung penyulingan minyak, produksi bahan bakar, dan industri petrokimia di Asia.

Melalui anak perusahaannya, China Petroleum and Chemical Corporation, bisnis Sinopec merambah ke seluruh rantai nilai hilir, termasuk menjalin kemitraan strategis petrokimia dari Laut Utara, Afrika, hingga Brasil. Skala ekonominya yang masif ditopang langsung oleh pasar domestik Tiongkok yang merupakan salah satu konsumen petrokimia terbesar di dunia.
 

ExxonMobil

ExxonMobil memegang mahkota sebagai perusahaan minyak swasta terbesar di Amerika Serikat. Dalam Fortune Global 500 2025, ExxonMobil mencatat pendapatan USD 349,59 miliar (sekitar Rp6.222,70 triliun) dan berada di peringkat ke-14 secara global.

Exxonmobil merupakan salah satu entitas energi paling berpengaruh sepanjang sejarah. Berdiri sejak tahun 1870 dari dinasti bisnis Standard Oil, ExxonMobil beroperasi secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, mencakup penemuan cadangan baru, penyulingan bahan bakar, hingga produksi bahan kimia industri. 

SPBU Shell. Foto: MI/Usman Iskandar
 

Shell

Shell merupakan raksasa energi multinasional asal Eropa dengan pendapatan mencapai USD 289,03 miliar (sekitar Rp5.144,73 triliun) pada tahun 2024. Shell terkenal memiliki portofolio bisnis paling terdiversifikasi—mulai dari minyak bumi, pelumas, petrokimia, perdagangan energi, hingga jaringan ritel SPBU global.

Namun, senjata rahasia terbesar Shell terletak pada kepemimpinannya di sektor Gas Alam Cair (LNG). Mereka telah mendominasi rantai pasok dan perdagangan LNG global selama bertahun-tahun.
 
Baca Juga:
Harga Minyak Dunia Ambruk Lagi, Harga BBM di Indonesia Bakal Ikut Turun?
 

Chevron

Chevron berdiri tegak sebagai raksasa energi terintegrasi terbesar kedua di Amerika Serikat, tepat di belakang rival abadinya, ExxonMobil. Keunggulan kompetitif Chevron bertumpu pada model bisnis dari hulu ke hilir yang kokoh.

Pola ini mengintegrasikan pengeboran minyak di berbagai belahan dunia dengan jaringan pengolahan serta penjualan ritel melalui lebih dari 8.000 SPBU bermerek Chevron dan Texaco di AS.
Dibandingkan dengan para pesaingnya di Eropa yang agresif merambah energi terbarukan, Chevron memilih pendekatan yang lebih konservatif dan pragmatis.

Fokus utama mereka tetap tertuju pada penguatan produksi minyak bumi, ekspansi LNG, serta peningkatan efisiensi operasional pada aset-aset yang sudah ada. Dalam daftar Fortune, Chevron mencatat pendapatan USD 202,79 miliar (sekitar Rp3.609,66 triliun) dan berada di peringkat ke-29 secara global.
 

TotalEnergies

TotalEnergies menutup daftar ini sebagai raksasa energi asal Prancis yang paling vokal dan agresif dalam mengubah citra diri menjadi perusahaan multi-energi. Perusahaan asal Prancis tersebut berada di peringkat ke-32 Fortune Global 500 2025 dengan pendapatan USD 195,61 miliar (sekitar Rp3.481,86 triliun).

TotalEnergies berbeda dengan sebagian besar kompetitornya yang masih berpegang teguh pada komoditas fosil. TotalEnergies bergerak cepat mengalirkan investasi masif ke sektor energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidrogen, hingga infrastruktur mobilitas listrik.

Perusahaan ini bahkan membidik target ambisius untuk menguasai 100 gigawatt kapasitas energi terbarukan pada tahun 2030. Kendati demikian, lini bisnis minyak dan gas bumi tetap menjadi mesin uang (cash cow) utama yang mendanai agenda transisi hijau tersebut.
 

(Muhamad Marup)