Harga Minyak Dunia Ambruk Lagi, Harga BBM di Indonesia Bakal Ikut Turun?

Ilustrasi penurunan harga minyak. Foto: Energyintel.com

Harga Minyak Dunia Ambruk Lagi, Harga BBM di Indonesia Bakal Ikut Turun?

Husen Miftahudin • 26 May 2026 08:38

Houston: Harga minyak anjlok tajam pada perdagangan Senin waktu setempat, dengan Brent menembus di bawah USD100 per barel. Ini terjadi setelah para pejabat Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan beberapa kemajuan menuju kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
 
Mengutip Investing.com, Selasa, 26 Mei 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional untuk kontrak beli atau jual di masa depan, turun sebanyak 5,8 persen menjadi USD94,40 per barel.
 
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai standar untuk penetapan harga minyak di AS, turun hingga 6,1 persen menjadi USD90,74 per barel.
 

Baca juga: Harga Minyak Masih Tertekan, Diramal Bisa Menyusut hingga ke Level USD85/Barel
 

Iran-AS capai kerangka kesepakatan akhiri konflik

 
Iran dan AS telah mencapai kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik mereka yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, tetapi nota kesepahaman potensial tersebut tidak mencakup rincian spesifik tentang pengelolaan Selat Hormuz.
 
Kesepakatan antara Teheran dan Washington belum dapat dikatakan akan segera tercapai, meskipun kedua belah pihak telah mencapai kesimpulan mengenai berbagai topik.
 
Komentar tersebut muncul setelah laporan media pada akhir pekan, yang mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih, menyatakan kesepakatan kerangka kerja telah tercapai. Kesepakatan itu akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air vital di lepas pantai selatan Iran yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia.
 
Selat tersebut hampir sepenuhnya ditutup untuk lalu lintas kapal tanker selama berminggu-minggu, yang menyebabkan kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi di berbagai negara di dunia.
 
Sebagai imbalannya, AS dilaporkan akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran tidak akan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut, yang berpotensi membalikkan ancaman besar Teheran akan berupaya memperkuat cengkeraman finansial atas jalur tersebut. Namun, juru bicara tersebut mencatat layanan apa pun yang akan diberikan akan memerlukan harga, tetapi tidak boleh disebut sebagai biaya tol.
 
Melalui media sosial, Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan ia telah memberi tahu perwakilannya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan, menambahkan blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.
 
Laporan pada Senin menyebutkan beberapa kapal telah melewati Selat Hormuz, meskipun lalu lintas masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Para analis juga memperingatkan bahwa, bahkan jika perang segera berakhir, pemulihan aliran minyak melalui jalur tersebut dapat memakan waktu beberapa bulan dan harga energi mungkin tidak akan kembali ke level sebelum dimulainya konflik.


(SPBU Shell, Pertamina, Vivo, dan BP-AKR. Foto: dok Istimewa)
 

Harga BBM di Indonesia bakal ikut turun?

 
Penurunan harga minyak dunia ternyata tak serta merta langsung membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia ikut turun. Ini karena adanya skema subsidi, regulasi evaluasi harga berkala dari pemerintah, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga kondisi stok.
 
Faktor utama yang menyebabkan harga BBM sering kali tidak langsung merespons perubahan pasar global meliputi sistem evaluasi berkala, yakni penghitungan menggunakan formula khusus dengan rata-rata harga minyak mentah dalam kurun waktu tertentu (biasanya rata-rata bulanan). Sehingga, tidak bergerak instan mengikuti harga harian global.
 
Lalu, kebijakan subsidi dan kompensasi. Untuk BBM tertentu yang disubsidi (seperti Pertalite dan Solar), pemerintah menetapkan harga eceran tetap dalam jangka waktu tertentu untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. Saat harga minyak global tinggi, pemerintah menanggung selisihnya melalui dana subsidi.
 
Kemudian, nilai tukar rupiah. Pembelian minyak mentah dilakukan dalam mata uang dolar AS (USD). Jika harga minyak mentah dunia turun namun nilai tukar rupiah melemah secara signifikan, biaya riil untuk mengimpor minyak tetap tinggi.
 
Serta biaya pengolahan dan distribusi. Harga jual BBM di SPBU tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah, tetapi juga memperhitungkan biaya kilang (karena sebagian masih impor BBM olahan), biaya penyimpanan, serta distribusi logistik domestik ke seluruh wilayah nusantara.

(Husen Miftahudin)