Harga Minyak Masih Tertekan, Diramal Bisa Menyusut hingga ke Level USD85/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Masih Tertekan, Diramal Bisa Menyusut hingga ke Level USD85/Barel

Husen Miftahudin • 25 May 2026 10:38

Jakarta: Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Senin, 25 Mei 2026, seiring dominasi sentimen bearish yang terlihat kuat baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pergerakan WTI pada timeframe daily menunjukkan kecenderungan tren turun yang semakin jelas, dengan potensi pelemahan lanjutan apabila level support kunci berhasil ditembus.

Secara teknikal, Geraldo mengungkapkan harga WTI dalam beberapa waktu terakhir beberapa kali gagal menembus area resistance yang terbentuk di sekitar swing high, yang kini menjadi penghalang utama bagi upaya kenaikan harga. Kegagalan tersebut mencerminkan tekanan jual masih mendominasi pasar, sekaligus membatasi ruang penguatan dalam jangka pendek.

"Struktur pergerakan harga yang terbentuk juga mulai menunjukkan pola tren bearish baru, ditandai dengan kegagalan mempertahankan momentum kenaikan sebelumnya dan diikuti oleh penurunan yang kembali sejalan dengan arah tren utama," jelas Geraldo dalam analisis hariannya, Senin, 25 Mei 2026.

Saat ini, level support penting berada di kisaran USD89,89 per barel. Level ini menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya. Apabila harga berhasil menembus area tersebut secara meyakinkan, maka potensi penurunan lanjutan diperkirakan akan membawa harga menuju support berikutnya di sekitar USD85,11 per barel. Kondisi ini menunjukkan risiko penurunan masih cukup terbuka dalam waktu dekat.

Dari sisi indikator, stochastic juga memberikan sinyal yang sejalan dengan tren harga. Pergerakan indikator yang masih mengarah turun menunjukkan momentum bearish belum mereda dan tekanan jual masih cukup kuat.

"Dalam kondisi seperti ini, peluang terjadinya rebound cenderung terbatas, kecuali terdapat katalis signifikan yang mampu mengubah sentimen pasar secara keseluruhan," papar dia.
 

Baca juga: Harga Minyak Dunia Ambruk hingga 5%, Brent Kini Dijual Cuma USD98/Barel


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Permintaan energi global melambat


Sementara itu, ungkap Geraldo, faktor fundamental turut memperkuat tekanan terhadap harga minyak. Kekhawatiran pasar terhadap perlambatan permintaan energi global menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga WTI.

Ketika prospek pertumbuhan ekonomi dunia mulai melemah, pelaku pasar cenderung memperkirakan konsumsi energi, termasuk minyak mentah, akan mengalami penurunan. Hal ini secara langsung berdampak pada berkurangnya permintaan, yang kemudian menekan harga di pasar global.

Selain itu, penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak. Karena minyak diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi negara-negara dengan mata uang lain. Kondisi ini berpotensi mengurangi permintaan global, sehingga semakin memperkuat tekanan bearish terhadap harga minyak.

Pasar juga tengah mencermati potensi peningkatan suplai dari negara-negara produsen utama, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan produksi dari kelompok OPEC+. Jika pasokan minyak meningkat di tengah perlambatan permintaan, maka ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan dapat memperbesar tekanan terhadap harga minyak mentah.

Di sisi lain, sentimen risk-off yang berkembang di pasar global membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berbasis komoditas, termasuk minyak. Dalam kondisi ketidakpastian, pelaku pasar lebih memilih aset yang dianggap lebih aman, sehingga aliran dana ke komoditas energi cenderung berkurang.

Dengan mempertimbangkan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, harga minyak WTI pada hari ini diperkirakan masih bergerak dalam bias bearish dengan potensi pengujian level support yang lebih rendah. Selama harga belum mampu menembus area resistance kunci dan tekanan jual masih mendominasi, peluang penurunan lanjutan tetap terbuka.

"Investor disarankan untuk mencermati perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, serta kebijakan produksi minyak sebagai faktor utama yang akan memengaruhi arah harga dalam waktu dekat," ucap Geraldo mengingatkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)