Industri Fatty Amine. Foto: Istimewa
Kaltim Promosi Investasi Industri Fatty Amine Rp1,88 Triliun di Bontang
M Sholahadhin Azhar • 20 May 2026 13:39
Jakarta: Peluang investasi di sektor hilirisasi industri Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan taji di kancah internasional. Melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO), Kota Bontang resmi menawarkan proyek strategis pengembangan industri Fatty Amine bernilai fantastis, yakni mencapai Rp1,88 triliun.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar penguatan industri hilir berbasis sumber daya alam di Benua Etam. Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, meramal proyek raksasa ini mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif.
"Sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri di dalam negeri,” kata Muhammad Aspian, dalam keterangan yang dikutip Rabu, 20 Mei 2026.
Industri fatty amine ini direncanakan tegak berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Kawasan ini dipilih karena memiliki keunggulan geopolitik dan logistik yang sangat matang.
Berada sangat dekat dengan pelabuhan utama dan kawasan industri eksisting, didukung penuh oleh infrastruktur energi andalan di Kota Bontang.
Serta berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan raksasa petrokimia. Kaltim, kata Muhammad Aspian, sebagai salah satu lumbung kelapa sawit terbesar di Indonesia menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku secara jangka panjang.
Fatty amine merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi yang menjadi bahan baku utama consumer goods, mulai dari pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.

Industri Fatty Amine. Foto: Istimewa
Hingga saat ini, kebutuhan fatty amine domestik masih sangat bergantung pada pasokan impor. Padahal, ceruk pasar global untuk komoditas ini sangat seksi.
Pada 2022, permintaan dunia menembus 1,7 juta ton dan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 6,6 persen.
Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi fatty amine sebesar 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.
Nilai Internal Rate of Return (IRR) tercatat sebesar 16,28 persen dengan Net Present Value (NPV) mencapai Rp743 miliar. Adapun periode pengembalian investasi (payback period) diproyeksikan sekitar delapan tahun.
Menurut Aspian Nur, proyek strategis ini tidak sekadar mengejar profitabilitas. Proyek ini, kata dia, juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs).
"Kawasan pabrik nantinya akan dilengkapi dengan area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building,” beber Aspian Nur.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran proyek ini akan menjadi katalisator penting bagi perekonomian regional dan nasional. Keberadaan proyek industri Fatty Amine juga ditekankannya tidak hanya bertujuan mendorong angka investasi semata.
Tetapi juga memperkuat posisi Kaltim sebagai episentrum hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia. Menurut Aspian, selain membuka keran ekspor baru untuk produk bernilai tambah, proyek ini diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja baru.
"Mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat daya saing industri nasional di mata dunia," kata Aspian.