Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Kembali Tersungkur, 495 Saham Ambruk
Ade Hapsari Lestarini • 23 January 2026 16:24
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini kembali terpeleset ke zona merah. Sejak perdagangan pagi IHSG tak mampu keluar ke zona hijau.
Berdasarkan data RTI, Jumat, 23 Januari 2026, IHSG sore tergelincir 41,173 poin atau setara 0,46 persen ke posisi 8.951. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 9.031. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 8.837 dan tertinggi di posisi 9.039.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 64,150 miliar senilai Rp32,021 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp16,273 triliun dengan frekuensi sebanyak 3.319.590 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 191 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 495 saham melemah, dan 118 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Rommy Pujianto.
Baca Juga :
Intip Rekomendasi 6 Saham Ini Jelang Akhir Pekan
IHSG berpotensi melemah
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya menyebutkan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan. Hal ini seiring aksi jenuh beli pelaku pasar setelah indeks sempat menyentuh level tertingginya.
Sementara dari mancanegara, Ratna menjelaskan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif terhadap Eropa, dan menyatakan sudah mencapai kesepakatan kerangka kerja mengenai Greenland.
Trump tidak memberikan detil kerangka kerja, hanya menyatakan negosiasi tambahan sedang dilakukan mengenai perisai pertahanan Golden Dome, namun PM Greenland menyatakan tidak mengetahui mengenai kerangka kerja tersebut.
Ratna menyebut pelaku pasar akan mencermati pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS The Fed pada pekan depan, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya tetap di kisaran 3,50-3,75 persen.
Dari kawasan Asia, pelaku pasar mencermati data inflasi Jepang bulan Desember 2025, yang diperkirakan melambat di level 2,7 persen year on year (yoy) dari 2,9 persen (yoy) pada November 2025.
Selain itu, pelaku pasar menantikan pertemuan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga tetap di level 0,75 persen. Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data uang beredar dalam arti luas (M2 Money Supply) Desember 2025.