Protes di Iran. (West Asia News Agency/WANA)
Pejabat Iran Sebut Jumlah Korban Jiwa Demonstrasi Tembus 5.000 Orang
Riza Aslam Khaeron • 20 January 2026 09:24
Teheran: Sedikitnya 5.000 orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes yang melanda Iran sepanjang Januari 2026, menurut pernyataan seorang pejabat Iran yang dikutip oleh Reuters. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 orang di antaranya merupakan personel keamanan.
Jumlah ini merupakan angka korban jiwa tertinggi yang pernah diungkap secara resmi oleh perwakilan pemerintah Iran. Aksi protes ini mengguncang stabilitas politik dalam negeri dan menyeret hubungan Iran-Amerika Serikat ke ambang konflik terbuka.
Melansir TIME, gelombang unjuk rasa bermula di ibu kota Teheran pada 28 Desember 2025 setelah mata uang nasional, rial, anjlok tajam.
Ketidakstabilan ekonomi tersebut menyulut kemarahan publik dan memicu gelombang demonstrasi yang dengan cepat berkembang menjadi gerakan nasional anti-pemerintah, menyerukan penggulingan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut pejabat yang dikutip Reuters, Iran menuding keterlibatan Israel dan kelompok-kelompok bersenjata di luar negeri sebagai penyebab utama tingginya jumlah korban. Namun, pejabat itu menambahkan bahwa angka resmi kemungkinan tidak akan jauh meningkat.
Pada 8 Januari 2026, pemerintah Iran mulai melakukan pemutusan total jaringan internet di seluruh negeri. Langkah tersebut menutup akses informasi dari dan ke luar negeri, serta menyulitkan lembaga-lembaga kemanusiaan dalam memverifikasi insiden dan jumlah korban di lapangan.
Selama periode tersebut, menurut organisasi Iran Human Rights (IHR), lebih dari 20.000 orang telah ditangkap karena diduga terlibat dalam protes.
Informasi tambahan diperoleh dari sekelompok akademisi dan profesional medis yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit di berbagai wilayah. Mereka yang dihubungi oleh TIME menyatakan bahwa hanya dalam rentang waktu tiga hari, dari 8 hingga 10 Januari, jumlah korban jiwa dapat mencapai 6.000 orang.
Namun demikian, angka tersebut masih belum dapat dikonfirmasi secara independen.
| Baca Juga: Dubes Iran Klaim Stabilitas Ekonomi, Sebut Protes Diprovokasi Pihak Luar |
Pemimpin Agung Iran Akui Korban Tewas Protes Capai Ribuan Orang
Dalam pidato video yang disampaikan pada Sabtu, 13 Januari 2026, Ayatollah Khamenei secara eksplisit menyatakan bahwa "ribuan" orang telah meninggal dunia dalam protes tersebut, beberapa di antaranya "dengan cara yang tidak manusiawi dan biadab." Ia menyalahkan Amerika Serikat dan Presiden Donald Trump atas masifnya kerusakan yang terjadi.
"Kami tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang, tetapi kami juga tidak akan membiarkan penjahat domestik maupun internasional lolos tanpa hukuman," ujar Khamenei.
Di pihak lain, Presiden Donald Trump mengaku sempat mempertimbangkan penggunaan opsi militer sebagai tanggapan atas tindakan keras pemerintah Iran. Pada 13 Januari, ia menyatakan, "bantuan sedang dalam perjalanan," dan mengklaim bahwa Iran telah membatalkan eksekusi terhadap sekitar 800 demonstran.
"Keputusan terbaik yang pernah dia buat adalah tidak menggantung lebih dari 800 orang dua hari lalu," sebut Trump kepada POLITICO, Sabtu, 17 Januari 2026.
Namun, Trump menyampaikan kemarahan atas tudingan Khamenei yang menyebut dirinya sebagai dalang di balik tingginya angka kematian.
"Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran," ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa Khamenei "seharusnya fokus mengelola negaranya dengan benar, seperti yang saya lakukan di Amerika Serikat, dan bukan membunuh ribuan orang hanya demi mempertahankan kekuasaan."
Hingga kini, belum jelas apakah Trump masih mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran. Namun, sejumlah media internasional pada Jumat, 12 Januari 2026, melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln telah diarahkan ke kawasan Timur Tengah dan dijadwalkan tiba dalam waktu sekitar satu minggu.