Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deden Firman Hendarsyah. Foto: MTVN/Duta Erlangga
OJK Ungkap Strategi Jitu Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah di Indonesia
Al Abrar • 12 February 2026 14:39
Jakarta: Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deden Firman Hendarsyah mengatakan, diperlukan sejumlah jurus jitu agar ekonomi syariah dapat berkembang cepat. Hal tersebut mencakup produk yang inovatif, pengembangan ekosistem terintegrasi hingga keuangan syariah inklusif.
“Tadi sudah disampaikan sebetulnya kita perlu produk yang inovatif, kita perlu kantor cabang yang banyak, kita perlu IT yang canggih karena supaya layanan tidak kalah. Semuanya itu, memerlukan bank yang cukup besar,” ungkap Deden dalam rangkaian acara Metro TV Sharia Economic Forum: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026
Deden mengungkapkan, OJK selalu mendorong konsolidasi perbankan termasuk di bank syariah untuk mendorong bank-bank baru yang memiliki daya saing kuat baik di sektor asuransi, perbankan, asuransi, maupun pembiayaan.
“Karena itu, kita selalu mendorong konsolidasi perbankan termasuk di perbankan syariah untuk mendorong munculnya bank-bank baru,” ungkap dia.
Industri halal belum sepenuhnya bersinergi dengan perbankan syariah
Dirinya mengatakan, penguatan lembaga keuangan saja tidak cukup tanpa didukung oleh pengembangan ekosistem yang terintegrasi. Saat ini, tantangan besar muncul ketika industri halal yang tumbuh pesat belum sepenuhnya bersinergi dengan perbankan syariah.“Memang ini harus ditempuh secara ekosistem, tadi industri halal kita ingin besar tetapi ber-bank nya bukan di bank syariah, jadi enggak bisa besar. Kita sudah punya bank syariah tapi tidak menggunakan asuransi syariah. Jadi ekosistem ini harus dibangun secara bersamaan, dan mudah-mudahan nantinya tercipta semacam di industri perbankan atau industri keuangan syariah, saling menggunakan saling bersinergi, saling mendukung,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan, disisi lain inklusivitas turut diperlukan dalam memperbesar ekonomi syariah di Indonesia. Meskipun jumlah nasabah perbankan syariah saat ini telah mencapai 58 juta, namun secara nominal total aset yang dikelola masih perlu ditingkatkan.
“Memang keuangan syariah itu harus inklusif, sekarang tinggal apa yang akan kita tuju. Kalau hanya inklusif saja dalam arti jumlah nasabah yang ingin dituju itu lebih banyak. Nasabah perbankan syariah menurut data kami hingga hari ini ada 58 juta. Itu sudah lebih banyak dari penduduk Malaysia,” kata dia.

Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deden Firman Hendarsyah. Foto: MTVN/Duta Erlangga
Ia menuturkan, untuk mencapai pertumbuhan yang signifikan, keuangan syariah harus merambah pasar-pasar non-tradisional, yakni menjangkau calon nasabah yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada segmen tertentu. Hal tersebut, diharapkan mampu mengoptimalkan kekuatan ekonomi penduduk Muslim secara nyata dan kompetitif.
“Menurut saya kita juga harus masuk ke pasar pasar non tradisional keuangan syariah, artinya kita juga harus lebih inklusif menjangkau lebih luas lagi calon-calon nasabah di keuangan syariah,” pungkasnya. (Surya Mahmuda)