Iran Tuduh NATO Ikut Perang AS, Benarkah Eropa Terlibat?

Pertemuan Sekjen NATO Mark Rutte dengan Presiden Donaldt Trump. Foto: The New York Times

Iran Tuduh NATO Ikut Perang AS, Benarkah Eropa Terlibat?

Muhammad Reyhansyah • 26 June 2026 10:13

Teheran: Iran menuduh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ikut terlibat dalam perang Amerika Serikat (AS)-Israel setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengungkap bahwa sejumlah negara Eropa memberikan dukungan logistik kepada militer AS selama konflik dengan Teheran. 

Pengakuan tersebut memicu kecaman dari Iran sekaligus memunculkan bantahan dari Italia yang disebut menjadi salah satu negara pendukung operasi Washington.

Tuduhan itu mencuat setelah Rutte, dalam kunjungannya ke Washington pada Rabu, 24 Juni 2026, menjelaskan bahwa sejumlah negara anggota NATO telah memfasilitasi operasi militer AS selama perang dengan Iran. 


Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan sejumlah sekutu Eropa yang dinilai tidak memberikan dukungan penuh terhadap kampanye militer Washington.

Mengutip Al Jazeera, Jumat, 26 Juni 2026, Trump secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap sejumlah negara Eropa yang dianggap tidak memberikan dukungan sebagaimana diharapkan. 

"Saya kecewa dengan Italia. Saya kecewa dengan Inggris, Jerman, dan Prancis. Kami kecewa dengan sebagian besar dari mereka," kata Trump saat bertemu Rutte.


Rutte Beberkan Dukungan Eropa 

Namun, Rutte membela sekutu-sekutu Eropa. Ia mengatakan sebagian besar negara anggota NATO tetap memberikan bantuan kepada AS, terutama dalam bentuk dukungan logistik meski tidak ikut bertempur secara langsung.

Dalam wawancara dengan Fox News, Rutte mengungkap sekitar 4.000 hingga 5.000 pesawat militer AS lepas landas dari pangkalan-pangkalan di Eropa selama enam pekan perang berlangsung.

"Negara demi negara, sekutu demi sekutu, telah menyediakan pangkalan mereka untuk Operation Epic Fury," ujar Rutte, merujuk pada nama operasi militer AS terhadap Iran.

Ia menjelaskan sekitar 500 pesawat AS diberangkatkan dari pangkalan militer di Italia selama operasi tersebut. Sementara itu, Rumania mengurangi penerbangan komersial di salah satu bandaranya agar pesawat tanker militer AS dapat ditempatkan di lokasi tersebut.

Rutte juga mengatakan negara-negara Eropa masih membantu AS menjaga keamanan di sekitar Selat Hormuz dengan menempatkan berbagai aset yang dapat digunakan, antara lain, untuk mendukung operasi pembersihan ranjau.

Meski demikian, ia mengakui terdapat beberapa negara yang menolak memberikan dukungan penuh kepada Washington. Menurutnya, kasus tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil anggota NATO.

Di sisi lain, sejumlah negara Eropa memang memilih tidak terlibat langsung dalam perang. Banyak pemerintah di kawasan itu menilai konflik tersebut bukan merupakan perang Eropa sehingga tidak perlu diikuti dengan pengerahan pasukan.

Selain itu, sejumlah negara Eropa mempertanyakan dasar hukum operasi militer AS yang dilakukan tanpa konsultasi dengan Uni Eropa. Washington dan Israel beralasan Iran berada di ambang pengembangan senjata nuklir, namun klaim tersebut dipersoalkan karena tidak sejalan dengan penilaian badan intelijen AS sendiri.

Negara-negara Eropa juga menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak kemanusiaan akibat perang. Serangan terhadap wilayah sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit, menjadi salah satu alasan sebagian negara lebih mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi. Beberapa negara, seperti Spanyol, bahkan secara terbuka menyerukan gencatan senjata dan kepatuhan seluruh pihak terhadap hukum internasional.

Iran Tuduh NATO Terlibat

Pernyataan Rutte kemudian dimanfaatkan Iran untuk menuding NATO ikut bertanggung jawab atas perang yang menurut Teheran telah menewaskan lebih dari 3.400 orang serta menyebabkan kerusakan luas terhadap infrastruktur minyak dan fasilitas sipil.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut pengakuan Rutte sebagai bukti keterlibatan aktif NATO dalam perang yang dianggap melanggar hukum internasional.

"Ini merupakan pengakuan yang jelas dan memberatkan mengenai keterlibatan aktif NATO dalam perang agresi yang melanggar hukum terhadap negara anggota PBB yang berdaulat," tulis Baghaei melalui akun X.

Ia menegaskan NATO beserta negara-negara anggotanya yang ikut mengambil keputusan maupun memberikan dukungan terhadap operasi militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas seluruh konsekuensi perang tersebut.

"Mereka, bersama setiap negara Eropa yang membantu agresi Amerika dan Israel terhadap Iran, harus menjelaskan kepada rakyat mereka sendiri dan kepada dunia mengapa memilih bersekongkol dalam tindakan agresi yang terang-terangan," lanjutnya.

Italia Bantah Ikut Operasi Tempur

Pernyataan Rutte turut memicu kontroversi di Italia. Pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni sebelumnya telah menegaskan bahwa negaranya tidak akan ikut berperang melawan Iran.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto membantah bahwa negaranya terlibat dalam operasi tempur AS. Menurutnya, pernyataan Rutte memberikan kesan yang menyesatkan karena mencampuradukkan penerbangan dukungan yang telah diizinkan dengan operasi militer.

"Seperti yang telah dijelaskan di parlemen, pemerintah hanya mengizinkan aktivitas teknis dan logistik yang tidak berkaitan dengan operasi tempur," kata Crosetto.

Ia menambahkan seluruh dukungan yang diberikan Italia dilakukan sesuai konstitusi negara itu, perjanjian internasional, dan kesepakatan bilateral yang telah lama berlaku dengan Amerika Serikat.

Ketegangan antara Washington dan sekutu-sekutu Eropanya sebenarnya telah berlangsung sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. Ia berulang kali mengkritik negara-negara anggota NATO karena dinilai belum memberikan kontribusi pertahanan yang sebanding dengan Amerika Serikat.

Perbedaan sikap mengenai perang melawan Iran semakin memperlebar jarak antara Washington dan sejumlah ibu kota Eropa. Meski mengakui AS tidak membutuhkan bantuan militer secara langsung, Trump mengatakan akan lebih baik apabila negara-negara Eropa turut memberikan dukungan selama konflik berlangsung.

(Fajar Nugraha)