Rusia Dilaporkan Bantu Iran Kembangkan Rudal Supersonik untuk Hadapi AS

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kyrgyzstan. (EFE/EPA/KRISTINA SOLOVYOVA/Sputnik)

Rusia Dilaporkan Bantu Iran Kembangkan Rudal Supersonik untuk Hadapi AS

Riza Aslam Khaeron • 2 September 2026 16:33

Jakarta: Rusia diam-diam dilaporkan membantu Iran mengembangkan rudal jelajah supersonik yang berpotensi mengancam kapal perang Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan hasil investigasi Financial Times (FT) yang dikutip dari The Telegraph, para ahli menyebut bahwa transfer teknologi militer strategis ke Teheran ini pasti membutuhkan otorisasi dari tingkatan tertinggi di Kremlin.

Program rahasia yang diberi sandi C340L tersebut dimulai pada 2023 dan terus berjalan di tengah peningkatan ketegangan antara AS dan Iran, berpotensi menjadikan kapal induk serta armada kapal perang Amerika di kawasan sebagai sasaran tembak.

Tujuan utama program ini adalah membantu Iran menguasai sistem propulsi ramjet, yaitu teknologi mesin yang memungkinkan rudal jelajah melaju melebihi kecepatan suara.

"Bagi Iran, penguasaan teknologi ini akan memberi mereka sistem senjata strategis baru yang secara kualitatif dapat mengancam kapal-kapal Angkatan Laut AS," ujar Jim Lamson, mantan analis militer CIA.

Melansir laporan The Telegraph, rudal jelajah supersonik sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara. Rudal jenis ini mampu terbang rendah menyusuri permukaan bumi untuk menghindari deteksi radar, dengan kecepatan mencapai sekitar 3.500 km/jam.

Meski Iran diketahui telah membangun dan menguji coba sistem propulsi ramjet tersebut, sejauh ini belum ada bukti bahwa rudal itu telah dioperasikan di lapangan.

"Ini merupakan transfer teknologi militer yang sangat sensitif secara strategis dari Rusia, sesuatu yang telah lama ingin diperoleh Iran selama berpuluh-puluh tahun," kata Fabian Hinz, pakar rudal Iran, kepada FT.

"Program seperti ini pasti memerlukan persetujuan politik dari tingkatan paling atas di Rusia," lanjutnya.
 

Kerja Sama Militer Rusia-Iran yang Semakin Erat


Ramjet rudal Kh-31. (Vitaly V. Kuzmin)

Dalam hubungan timbal balik kedua negara, rezim Iran sebelumnya telah memasok ratusan drone kamikaze jenis Shahed untuk mendukung serangan pemboman Rusia di berbagai kota Ukraina. Di sisi lain, Rusia dilaporkan memberikan bantuan intelijen yang memungkinkan Teheran menyasar pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kerja sama yang makin intensif ini "menunjukkan bahwa Rusia berusaha memperluas cakupan perang Ukraina dan memancing keterlibatan AS di berbagai teater konflik," menurut Nicole Grajewski, profesor di Sciences Po University, Paris. 

Program ini dilaporkan dikelola oleh Rosoboronexport, badan eksportir senjata milik negara Rusia, yang mengoordinasikan proyek bersama NPO Mashinostroyenia, perusahaan roket asal Rusia yang berada dalam sanksi AS sejak 2014.

Pada 2025, NPO Mashinostroyenia menerima sejumlah besar data teknis dari Iran mengenai hasil uji coba sistem propulsi ramjet. Tim insinyur Rusia kemudian menganalisis data uji terbang tersebut dan memberikan tanggapan terperinci untuk menyempurnakan kinerjanya.

Program ini juga melibatkan keahlian para insinyur rudal paling senior dari NPO Mashinostroyenia, beberapa di antaranya dilaporkan melakukan perjalanan langsung ke Iran sebelum penandatanganan kontrak pada 2023.
 
Pada Selasa, 1 September 2026, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Moskow berusaha memberikan bantuan yang dibutuhkan dalam masa sulit, serta memasok barang-barang yang diperlukan selama situasi perang.

Sementara itu, eskalasi militer antara AS dan Iran kembali meningkat sejak akhir pekan lalu setelah sempat mereda selama lebih dari sebulan.

Pasukan AS menggempur dua fasilitas peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu, 30 Agustus 2026 yang berlanjut dengan serangan susulan pada Selasa, 1 September 2026. Sebagai balasan, Iran melepaskan gelombang serangan drone dan rudal yang mengincar posisi-posisi militer Amerika, termasuk di Yordania.

(Riza Aslam Khaeron)