Ekspor Minyak Iran Lewat Selat Hormuz Anjlok Akibat Blokade AS

Kapal tanker yang berada di Selat Hormuz. Foto: Anadolu

Ekspor Minyak Iran Lewat Selat Hormuz Anjlok Akibat Blokade AS

Riza Aslam Khaeron • 2 September 2026 09:39

Jakarta: Untuk pertama kalinya, Iran tidak dapat mengirimkan ekspor minyak mentah dalam jumlah signifikan melalui Selat Hormuz selama sekitar tujuh minggu.

Kondisi ini terjadi akibat blokade laut Amerika Serikat (AS) yang memotong salah satu sumber utama pendapatan mata uang asing Teheran, hal yang sebelumnya gagal dicapai oleh sanksi ekonomi bertahun-tahun.

Berbeda dengan kampanye sanksi sebelumnya di mana minyak mentah Iran tetap berhasil mencapai pembeli, blokade saat ini menghentikan pasokan kargo minyak mentah baru ke Tiongkok, yang merupakan satu-satunya pelanggan utama minyak Iran yang tersisa.

Kondisi tersebut meningkatkan tekanan pada keuangan pemerintah dan cadangan devisa Iran.

Melansir The Straits Times, Reuters melaporkan bahwa sejak AS memberlakukan kembali blokade terhadap Iran pada 14 Juli lalu sebagai bagian dari konflik yang telah berlangsung enam bulan, tidak ada kargo minyak mentah Iran yang berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Tiongkok. Data ini dikonfirmasi oleh Kpler, Vortexa, dan TankerTrackers.com.

Dampaknya, Iran kini hanya dapat menjual minyak mentah ke Tiongkok dari pasokan penyimpanan terapung (floating storage) di Asia. Pasokan ini tidak dapat diisi ulang karena minyak mentah baru terus menumpuk di dalam kapal-kapal tanker yang tertahan di dalam selat.

"Bahkan pada puncak sanksi tekanan maksimum pada 2019-2020, beberapa minyak mentah Iran masih dapat melintasi Hormuz setiap bulannya. Tidak pernah ada masa di mana aliran keluar turun mendekati nol dalam jangka waktu lama seperti yang terjadi sejak pertengahan Juli," ujar analis Vortexa, Claire Jungman.
 

Penurunan Drastis Ekspor Minyak Iran


Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Menurut perkiraan Vortexa dan Kpler, Iran memuat sekitar 220.000 hingga 255.000 barel minyak mentah dan kondensat per hari pada Agustus. Angka ini turun drastis dibandingkan Juli yang mencapai sekitar 740.000 barel per hari, serta Maret yang sempat menyentuh 2 juta barel per hari.

Analis Kpler, Homayoun Falakshahi, menjelaskan bahwa anjloknya volume ekspor menguras salah satu sumber utama pendapatan mata uang asing Iran. Kondisi ini dapat memaksa Teheran membiayai pengeluaran negara dengan mencetak uang baru, yang berisiko memicu lonjakan inflasi lebih tinggi.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat inflasi Iran tahun ini hampir menyentuh 70%, menjadi yang tertinggi ketiga di dunia setelah Venezuela dan Sudan. Pada pekan lalu, Washington berupaya memperketat tekanan dengan mengancam negara-negara yang masih berdagang dengan Teheran, meski belum langsung menjatuhkan sanksi baru.
 

Kapal Tanker Terjebak dan Pasokan Minyak Menyusut

Salah satu pendiri TankerTrackers.com, Samir Madani, menyebutkan bahwa Iran saat ini memiliki 29 kapal tanker di dalam selat yang membawa 36,11 juta barel minyak mentah.

Blokade AS sendiri tidak mencakup seluruh garis pantai Iran, melainkan berfokus di area lebih selatan, yakni antara Teluk Oman dan Laut Arab. Di wilayah tersebut, kapal-kapal Angkatan Laut AS memeriksa setiap kapal yang keluar maupun mendekati pelabuhan Iran.

Di luar zona blokade, puluhan kapal tanker dari armada bayangan (shadow fleet) yang terhubung dengan Iran masih beroperasi. Menurut David Tannenbaum dari Blackstone Compliance Services, sebanyak 51 kapal beroperasi di Teluk Oman dan 81 kapal lainnya melakukan pengiriman di Asia atau menunggu di lepas pantai Malaysia.

Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa minyak mentah Iran sebenarnya masih ditawarkan secara terbuka untuk pengiriman September dan Oktober ke Tiongkok. Namun, volume yang tersedia jauh lebih rendah dibandingkan Juli dan Agustus karena cadangan penyimpanan terapung di luar Teluk terus menyusut tanpa adanya pasokan baru yang masuk.
 
Data Vortexa mencatat bahwa minyak mentah Iran dalam penyimpanan terapung di sebelah barat garis blokade naik menjadi 41,7 juta barel pada 26 Agustus dari 35,5 juta barel pada akhir Juli. Sebaliknya, total minyak mentah Iran yang terapung secara keseluruhan turun menjadi 107 juta barel dari sebelumnya 135 juta barel.

"Tiongkok dapat mengambil pasokan apa pun yang terapung di wilayah mereka, tetapi hanya sebatas itu yang bisa dilakukan saat ini," kata Samir Madani.

Setelah mengantar muatan, kapal-kapal tanker kosong tidak dapat kembali ke pelabuhan Iran akibat blokade, sehingga terpaksa menganggur di lepas pantai. Jungman dari Vortexa menambahkan bahwa sebanyak 27 kapal tanker terkena sanksi yang terkait dengan perdagangan minyak Iran saat ini tertahan di lepas pantai Sri Lanka dalam keadaan kosong karena tidak bisa kembali ke Iran.

(Riza Aslam Khaeron)