Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP. Foto: Kemendikdasmen.
Kemendikdasmen: 98% Populasi Siswa SMP Ikuti TKA Nasional
Despian Nurhidayat • 6 April 2026 10:44
Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat tingkat partisipasi siswa dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP mencapai 98 persen dari total populasi secara nasional. Angka ini dinilai telah melampaui target awal yang ditetapkan oleh pemerintah.
“Pokoknya 98 persen dari populasi. Sesuai target dan saya kira melebihi target karena sudah mendekati ukuran populasi,” ungkap Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, saat meninjau pelaksanaan TKA di SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Banten, dilansir Media Indonesia, Senin, 6 April 2026.
Baca Juga
Pihak Kemendikdasmen menegaskan tidak ada paksaan bagi siswa untuk mengikuti TKA. Menurut Toni, absennya sebagian kecil siswa tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pilihan pribadi maupun hambatan intelektual tertentu.
“Kita belum deteksi sekolah negeri atau swasta. Tetapi yang 2 persen kan sesuai regulasi kita opsional. Jadi itu bagian dari opsional yang tidak memilih TKA. Jadi kan enggak harus (100 persen), kan tidak wajib. Jangan memancing-mancing wajib. Kan tidak wajib jadi kalau tidak ikut ya tidak apa-apa. 2 persen itu juga mungkin bagian dari hambatan intelektual di siswa bisa juga,” jelas Toni.
Untuk mendukung kelancaran teknis, BSKAP telah menjalin kerja sama dengan PLN dan Telkom guna mengantisipasi gangguan listrik maupun internet selama ujian berlangsung. Hingga saat ini, pelaksanaan dilaporkan berjalan aman tanpa kendala berarti, kecuali jika terjadi bencana alam yang di luar prediksi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (paling kiri). Foto: ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang turut hadir dalam peninjauan tersebut menambahkan bahwa ketidaksiapan psikologis dan sudut pandang orang tua menjadi alasan utama beberapa siswa melewatkan TKA.
“Jadi ada beberapa begini di lapangan kami temukan. Ada yang memang dia tidak siap ya. Tidak siapnya bisa karena faktor-faktor yang bersifat psikologis. Kedua ada sebagian orang tua yang berpendapat tidak perlu TKA karena menurut mereka yang lain lebih penting,” tutur Mu’ti.
Meski demikian, Mu'ti mengapresiasi sekolah-sekolah yang menunjukkan antusiasme tinggi. Ia memberikan contoh SMP Negeri 2 Curug yang tercatat memiliki tingkat partisipasi mencapai 100 persen. Ia menegaskan bahwa prinsip utama TKA adalah kesiapan dan pilihan sadar dari para siswa dan pihak sekolah.