Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika, Ini Sejarah KAA dan Dasasila Bandung

Poster konferensi dari Konferensi Bandung. (Dok. Kemlu RI via Wikimedia Commons)

Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika, Ini Sejarah KAA dan Dasasila Bandung

Riza Aslam Khaeron • 18 April 2026 14:12

Jakarta: Tepat hari ini, 18 April 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang merupakan pertemuan pertama sejumlah bangsa dari benua Asia dan Afrika.

Momentum bersejarah yang terjadi pascapengujung Perang Dunia II dan di tengah gejolak Perang Dingin tersebut tidak hanya melekat dalam ingatan warga Indonesia, tetapi juga meninggalkan jejak mendalam dalam benak masyarakat global.

"Sudah 70 tahun berlalu sejak konferensi di Bandung, yang membawa Asia dan Afrika bersama untuk pertama kalinya untuk mengadvokasikan perdamaian dan kerja sama dunia," ujar Perdana Menteri (PM) Jepang saat itu, Shigeru Ishiba, saat mengulas kembali esensi KAA pada Sidang Majelis Umum PBB, 23 September 2025 lalu.

Semangat dari konferensi ini bertujuan untuk memperkuat solidaritas antarbenua, menegaskan penolakan terhadap segala bentuk kolonialisme, serta mempromosikan prinsip-prinsip perdamaian, non-intervensi, dan kerja sama internasional yang erat.

Kala itu, sebanyak 29 negara hadir for menyatukan visi dan menegaskan komitmen mereka terhadap perdamaian dunia. Seluruh poin kesepakatan tersebut tertuang dalam sebuah deklarasi bersejarah yang dikenal sebagai Dasasila Bandung.

Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah di balik pertemuan besar ini dan apa saja poin-poin utama dalam deklarasi tersebut? Berikut adalah penjelasan selengkapnya.
 

Kondisi Dunia Menjelang Konferensi Asia Afrika


Presiden AS ke-35 John F. Kennedy bertemu pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev. (Dok. Kemlu AS)

Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri ketegangan global. Di kawasan Asia dan Afrika, penjajahan masih menjadi masalah krusial yang telah berlangsung sejak abad ke-15.

Meski sejumlah negara Asia mulai memperoleh kemerdekaannya — seperti Indonesia (1945), Vietnam (1945), Filipina (1946), India dan Pakistan (1947), hingga RRT (1949) — masih banyak bangsa lain kala itu yang berjuang keras untuk merdeka, di antaranya Aljazair, Tunisia, Maroko, dan Kongo.

Bahkan, negara-negara yang sudah merdeka pun tetap menghadapi sisa persoalan kolonialisme seperti sengketa Irian Barat, Kashmir, Aden, dan Palestina.

Situasi makin memanas dengan lahirnya dua blok kekuatan yang saling bertentangan secara ideologis: Blok Barat pimpinan Amerika Serikat (kapitalis) dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet (komunis).

Perang Dingin berkembang menjadi konflik terbuka di Korea dan Indochina, sementara perlombaan senjata nuklir memicu kekhawatiran dunia akan meletusnya Perang Dunia III.
 

Lahirnya Ide Konferensi Asia Afrika

Gagasan untuk menggelar Konferensi Asia Afrika bermula dari inisiatif Indonesia. Pada awal 1954, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para pemimpin pemerintahan dari Burma, India, Indonesia, dan Pakistan untuk menghadiri pertemuan informal yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Kolombo (28 April – 2 Mei 1954).

Melansir laman Museum Konferensi Asia Afrika yang dikelola Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Presiden Soekarno secara khusus meminta Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, untuk menyampaikan ide penyelenggaraan KAA dalam forum tersebut.


Sesi pleno selama Konferensi Bandung. (Dok. Kemlu RI)

Soekarno mengklaim ide ini lahir dari cita-cita yang sudah hampir 30 tahun didengungkan: membangun solidaritas Asia Afrika melawan kolonialisme.

Dalam konferensi itu, Ali Sastroamidjojo mengusulkan perlunya pertemuan yang lebih luas, mengingat persoalan yang dihadapi bukan hanya milik negara-negara yang hadir di Kolombo. Usul ini diterima dengan baik, meski sempat iiringi skeptisisme.

Setelah Konferensi Kolombo, Indonesia aktif melakukan pendekatan diplomatik ke 18 negara Asia Afrika lainnya untuk menjajaki dukungan terhadap ide besar tersebut.
 

Jalannya Konferensi: 18–24 April 1955


Konferensi Asia Afrika 1955 di Savoy Homann. (Istimewa)

Pada Senin, 18 April 1955, Konferensi Asia Afrika resmi dibuka di Gedung Merdeka, Bandung. Ribuan warga memadati Jalan Asia Afrika sejak pagi hari untuk menyambut para delegasi dari 29 negara yang berjalan kaki menuju lokasi sidang—sebuah prosesi ikonik yang dikenang sebagai "The Bandung Walks."

29 Negara yang Hadir Antara Lain:
  1. Afghanistan
  2. Indonesia
  3. Pakistan
  4. Birma
  5. Filipina
  6. Kamboja
  7. Irak
  8. Iran
  9. Arab Saudi
  10. Ceylon
  11. Jepang
  12. Sudan
  13. Republik Rakyat Tiongkok
  14. Yordania
  15. Suriah
  16. Laos
  17. Thailand
  18. Mesir
  19. Libanon
  20. Turki
  21. Ethiopia
  22. Liberia
  23. Vietnam (Utara)
  24. Vietnam (Selatan)
  25. Pantai Emas (Ghana)
  26. Libya
  27. India
  28. Nepal
  29. Yaman
Presiden Soekarno membuka konferensi dengan pidato bersejarah bertajuk "Let a New Asia and a New Africa Be Born". Pidato tersebut merupakan seruan tentang persatuan bangsa-bangsa Asia-Afrika yang memiliki nasib serupa sebagai korban kolonialisme serta keinginan bersama untuk memperkokoh perdamaian dunia.


Soekarno berpidato di KAA. (Dok. Museum Museum Konferensi Asia Afrika)

"Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru and Afrika Baru telah lahir!" tutup Soekarno dalam pidatonya.

Para pemimpin negara kemudian melakukan sejumlah persidangan selama tujuh hari yang diwarnai oleh berbagai perbedaan pandangan, terutama di dalam Komite Politik. Melansir Britannica, debat utama berpusat pada pertanyaan apakah kebijakan Uni Soviet di Eropa Timur dan Asia Tengah harus dikecam setara dengan kolonialisme Barat.

Pada akhirnya, sebuah konsensus tercapai di mana forum sepakat untuk mengutuk "kolonialisme dalam segala manifestasinya". Keputusan ini secara implisit memberikan teguran baik kepada Uni Soviet maupun pihak Barat.
 
Baca Juga:
Kawasan Konferensi Asia Afrika Diajukan Jadi Warisan Dunia UNESCO
 

Hasil Konferensi: Dasasila Bandung

Pada 24 April 1955, Sidang Umum terakhir ditutup dengan menghasilkan komunike akhir yang mencakup enam agenda utama: kerja sama ekonomi, kerja sama kebudayaan, hak asasi manusia, masalah rakyat terjajah, serta deklarasi tentang perdamaian dunia.


Para pencetus Gerakan Non-Blok, dari kiri ke kanan: Jawaharlal Nehru, Kwame Nkrumah, Gamal Abdul Nasser, Ir Soekarno, Joseph Broz Tito. (Istimewa)

Butir terakhir dari komunike ini kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung, yang juga kerap disebut sebagai Bandung Spirit atau Deklarasi Bandung. Berikut adalah sepuluh prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa Asia Afrika:
  1. Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan serta prinsip dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.
  3. Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara, baik besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan diri secara sendiri atau kolektif sesuai Piagam PBB.
  6. (a) Tidak menggunakan pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. (b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun.
  7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi maupun penggunaan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun.
  8. Menyelesaikan semua perselisihan internasional secara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrase, atau penyelesaian hukum sesuai Piagam PBB.
  9. Meningkatkan kepentingan dan kerja sama bersama.
  10. Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban internasional.
Deklarasi ini kemudian menjadi kerangka dasar bagi pembentukan Gerakan Non-Blok serta memengaruhi hubungan diplomatik di antara negara-negara berkembang selama masa Perang Dingin.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)