Dua Pejabat Senior Mossad Dipecat Usai Gagal Gulingkan Pemerintah Iran

Pemerintahan Iran masih tetap berdiri teguh meskipun diserangan AS dan Israel. Foto: Anadolu

Dua Pejabat Senior Mossad Dipecat Usai Gagal Gulingkan Pemerintah Iran

Fajar Nugraha • 7 August 2026 08:29

Tel Aviv: Kepala Mossad, Roman Gofman memecat dua pejabat senior intelijen Israel setelah rencana untuk menggulingkan pemerintah Iran gagal atau tidak pernah dilaksanakan.

Menurut laporan saluran penyiaran Israel, Channel 12, pada hari Kamis, kedua pejabat tersebut adalah kepala direktorat intelijen -,yang baru ditunjuk beberapa bulan lalu,- dan kepala divisi Iran di badan tersebut, demikian dilaporkan saluran itu. Identitas kedua pejabat tersebut tidak diungkapkan.

Channel 12 mengklaim bahwa rencana tersebut disusun melalui koordinasi dengan AS dan bertujuan memicu gerakan internal untuk melawan pemerintah Iran, termasuk memberikan dukungan bagi kelompok oposisi, di bawah perlindungan udara militer gabungan Israel-AS yang luas.

“Rencana itu gagal atau bahkan tidak pernah mencapai tahap operasional,” menurut laporan Channel 12, seperti dikutip Anadolu, Jumat 7 Agustus 2026.

Sumber-sumber keamanan mengatakan kepada Channel 12 bahwa hubungan Gofman dengan kedua pejabat tersebut sudah renggang sejak awal, seraya menambahkan bahwa pemecatan itu terjadi di tengah perombakan yang lebih luas terhadap kepemimpinan dan prioritas Mossad, khususnya terkait Iran.

Saluran itu juga mengutip laporan internasional yang menyebutkan bahwa rencana tersebut mencakup skenario penggantian kepemimpinan Iran serta koordinasi dengan pejabat AS mengenai kemungkinan fase "pascarezim".

“Namun, upaya tersebut terhenti pada tahap awal, sehingga usulan itu akhirnya dibatalkan dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban,” menurut laporan tersebut.

Belum ada komentar resmi dari pihak Israel terkait laporan pemecatan tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui pada 13 Maret bahwa menggulingkan pemerintah Iran akan sulit dilakukan, seraya mengatakan bahwa "tidak ada kepastian hal itu akan terjadi."

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut serta target-target di Israel, yang menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Pada 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani perjanjian kerangka kerja dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir, namun pembicaraan tersebut kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Ketegangan kembali memuncak bulan lalu setelah AS melancarkan serangan baru di wilayah Iran, yang memicu Teheran untuk melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah, termasuk di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

(Fajar Nugraha)