Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Kenaikan Permintaan Dorong Penguatan Dolar AS, Yen Jadi Sorotan
Eko Nordiansyah • 5 May 2026 08:50
New York: Dolar AS menguat di tengah meningkatnya permintaan aset aman. Ketegangan kembali muncul di Timur Tengah, di tengah serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan serangan terhadap pusat energi penting di Uni Emirat Arab (UEA).
Dilansir dari Investing.com, Selasa, 5 Mei 2026, indeks dolar AS, yang melacak nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen menjadi 98,37.
Yen dan intervensi
Yen Jepang tetap lebih lemah terhadap dolar, dengan pasangan USD/JPY terakhir naik 0,1 persen menjadi USD157,21, setelah sebelumnya naik ke level tertinggi sesi di USD155,69. Sebagian besar kenaikan tersebut terjadi selama periode singkat.Libur pasar di Jepang dan Tiongkok Daratan membuat volume perdagangan secara keseluruhan tetap rendah. Pekan lalu, yen menguat terhadap dolar sekitar 1,5 persen, kenaikan mingguan terbesar sejak Februari.
Para pelaku pasar kini secara luas meyakini bahwa para pejabat di Tokyo melakukan intervensi di pasar mata uang pada Kamis lalu, dengan tujuan menjaga pasangan dolar-yen di bawah 160 tahun ini.
"Dengan Jepang memasuki liburan Golden Week hingga Rabu depan, likuiditas kemungkinan akan tipis dan pergerakan harga lebih cenderung ke satu arah, sehingga pihak berwenang mungkin bertujuan untuk mengoreksi level tersebut sebelum periode itu," kata analis di Barclays.
.jpg)
(Ilustrasi yen Jepang. Foto: Freepik)
Menurut sumber yang dikutip oleh Reuters, otoritas Jepang memang ikut serta dalam aktivitas pembelian yen untuk pertama kalinya dalam dua tahun, meskipun Kementerian Keuangan tidak segera mengkonfirmasi laporan tersebut.
Reuters menambahkan data pasar uang dari Jumat menunjukkan Tokyo mungkin telah mengeluarkan sebanyak 5,48 triliun yen (USD35 miliar) untuk pembelian yen minggu lalu.
"Intervensi dapat membatasi pelemahan yen lebih lanjut daripada menghasilkan reli yang berkelanjutan, karena latar belakang makro masih bekerja melawan yen," kata analis di BCA Research dalam sebuah catatan.
"Harga minyak tinggi, Fed [Reserve Federal Reserve] tidak memotong [suku bunga], suku bunga riil Jepang tetap jauh di bawah negara-negara lain, dan volatilitas tersirat yang rendah terus mendukung perdagangan carry trade di mana JPY digunakan sebagai mata uang pendanaan," tambah mereka.
Melihat mata uang lain, euro turun 0,3 persen menjadi USD1,1690, sementara poundsterling turun 0,3 persen menjadi USD1,3530. Pasar Inggris tutup karena hari libur nasional pada hari Senin.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com