Tak Ingin Trump Hentikan Perang, Netanyahu Perintahkan Peningkatan Serangan ke Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu

Tak Ingin Trump Hentikan Perang, Netanyahu Perintahkan Peningkatan Serangan ke Iran

Fajar Nugraha • 26 March 2026 08:10

Tel Aviv: Israel dikabarkan khawatir dengan rencana 15 poin perdamaian Amerika Serikat (AS), khawatir rencana tersebut tidak cukup untuk membatasi program nuklir dan rudal.

Laporan dari The New York Times pada Rabu 25 Maret 2026, menyebutkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer untuk mempercepat kampanye udara melawan Iran selama 48 jam. Serangan dimaksudkan untuk menghancurkan sebanyak mungkin industri senjata Iran sebelum Washington bergerak menuju gencatan senjata.

Arahan tersebut dikeluarkan setelah pemerintah Netanyahu memperoleh salinan rencana 15 poin yang disusun AS untuk mengakhiri perang dan dilaporkan menyimpulkan bahwa rencana tersebut tidak cukup membahas program nuklir Iran atau kemampuan rudal balistiknya.

“Pejabat Israel khawatir Presiden AS Donald Trump dapat mengumumkan pembicaraan damai kapan saja,” menurut laporan The New York Times, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 26 Maret 2026.

Mengenai rencana yang dilaporkan tersebut, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mendesak kehati-hatian, mengatakan bahwa ia telah melihat rencana tersebut "diperbincangkan di media" tetapi Gedung Putih tidak pernah mengkonfirmasinya. "Ada unsur kebenaran di dalamnya, tetapi beberapa cerita yang saya baca tidak sepenuhnya faktual," tambah Leavitt.

Netanyahu mengeluarkan perintah tersebut selama pertemuan di markas militer pada hari Selasa, setelah menerima pengarahan dari komandan senior tentang target yang masih layak.

Pengaruh terbatas

Urgensi tersebut mencerminkan kendala mendasar yang dihadapi Israel dalam konflik ini, menurut lima pejabat keamanan nasional Israel yang dikutip oleh Times. Keputusan untuk mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Trump, sehingga Netanyahu memiliki sedikit pengaruh atas penyelesaiannya.

Sementara itu, para pejabat Israel tetap terpecah. Beberapa menginginkan setidaknya satu minggu lagi untuk menyelesaikan daftar target yang lebih luas, sementara yang lain lebih menyukai pengakhiran yang lebih awal.

Tiga pejabat, menurut Times, mencatat bahwa keuntungan militer paling signifikan terjadi pada minggu pertama, dengan kekhawatiran yang meningkat atas opini internasional, kerugian finansial perang, dan beban psikologis dan fisik yang semakin besar pada penduduk Israel.

AS dan Israel telah menyerang Iran sejak 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Iran telah membalas dengan serangan di seluruh wilayah, mengganggu aliran minyak global dan penerbangan.

Pada Senin, Trump menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran, sementara kontak tidak langsung AS-Iran melalui perantara dilaporkan terus berlanjut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)