Iran: Kemunculan Kapal Militer di Selat Hormuz sebagai Pelanggaran Gencatan Senjata

IRGC siap untuk tembak yang melintasi Selat Hormuz. Foto: Press TV

Iran: Kemunculan Kapal Militer di Selat Hormuz sebagai Pelanggaran Gencatan Senjata

Fajar Nugraha • 13 April 2026 11:16

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap upaya kapal militer untuk melintasi Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dua minggu dengan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resminya, pada 12 April 2023, IRGC menegaskan akan memberikan respons tegas dan meyakinkan terhadap setiap bentuk pelanggaran tersebut.

Pihak Angkatan Laut IRGC mengatakan bahwa berbeda dengan klaim sepihak dari pihak lawan, Selat Hormuz saat ini tetap terbuka namun berada di bawah kendali dan manajemen intelijen yang ketat. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kapal sipil diperbolehkan melintasi jalur perairan strategis tersebut asalkan mematuhi peraturan spesifik yang telah ditetapkan.

Meskipun demikian, IRGC menekankan posisi militer mereka terhadap kapal perang asing yang mencoba mendekat.

“Bagi kapal militer yang, dengan judul atau dalih apa pun, bermaksud mendekati Selat Hormuz, tindakan tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan dibalas dengan respons yang berat,” tegas pernyataan IRGC, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026.

Peringatan ini muncul setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim bahwa dua kapal perang Amerika, USS Frank Peterson dan USS Michael Murphy, telah melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari misi pembersihan ranjau laut. Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan bahwa pihaknya mulai membangun jalur baru yang aman guna mendorong kelancaran arus perdagangan maritim internasional.

Iran membantah keras klaim tersebut dan menegaskan tidak ada kapal militer Amerika Serikat yang melintasi Selat Hormuz. Ketegangan ini terjadi setelah Iran dan AS menyepakati gencatan senjata pada Selasa lalu, mengakhiri 40 hari konflik bersenjata antara kedua pihak.

Selama konflik berlangsung, angkatan bersenjata Iran meluncurkan 100 gelombang serangan balasan ke berbagai target strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Selain itu, Iran memblokade Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak lawan guna menjaga keamanan perairan tersebut menurut versi Teheran.

Akibat blokade tersebut, lalu lintas di Selat Hormuz melambat drastis dan mengganggu sekitar seperlima dari pengiriman minyak serta gas alam cair dunia. Kondisi ini memicu guncangan besar pada pasar energi global, meskipun Iran memberikan izin lintas bagi sejumlah kapal dari negara-negara sahabat.

Pejabat Iran juga dilaporkan tengah mendiskusikan penerapan sistem biaya masuk bagi kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Di sisi lain, Angkatan Laut IRGC mengingatkan Amerika Serikat dan sekutunya agar tidak melakukan salah perhitungan di Teluk Persia, menyusul ancaman baru yang dilontarkan Presiden Donald Trump terkait jalur energi tersebut.

Melalui unggahan di X, militer Iran memperingatkan bahwa setiap langkah salah dari AS akan menjerumuskan mereka ke dalam pusaran kehancuran yang mematikan di Selat Hormuz. Presiden Trump sendiri dilaporkan semakin frustrasi setelah upaya diplomasi maraton selama 21 jam di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen dengan Iran.

Sebagai bentuk tekanan terbaru, Presiden Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa pasukan angkatan laut Amerika Serikat akan memberlakukan blokade laut penuh terhadap Selat Hormuz. Langkah ini diprediksi akan semakin meningkatkan ketegangan militer di salah satu titik paling kritis bagi ekonomi dunia tersebut.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)