Presiden AS Donald Trump saat bersama PM Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu
Percakapan Trump dan Netanyahu Terkait Agresi Militer Persulit Dialog Damai dengan Iran
Fajar Nugraha • 4 June 2026 12:21
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menjadi pemimpin AS terbaru yang terlibat perselisihan tajam dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ketegangan ini dipicu oleh benturan sikap terkait aksi militer Israel di Lebanon yang kini menempatkan jalur diplomasi Washington dengan Iran berada dalam pusaran krisis.
Pemerintah Teheran merespons rangkaian serangan udara Israel ke Lebanon dengan mengancam akan menangguhkan seluruh proses perundingan damai dengan AS. Ancaman ini menjadi pukulan telak bagi upaya keras Trump yang sedang berusaha keluar dari perang tidak populer melawan Iran.
Saat dikonfirmasi oleh jurnalis mengenai laporan situs berita Axios yang menyebut dirinya memaki Netanyahu dengan sebutan gila dan menudingnya tidak tahu terima kasih dalam panggilan telepon pada hari Senin, Trump membenarkan kabar tersebut.
Dalam wawancara di podcast Pod Force One yang disiarkan pada hari Rabu, Trump mengaku hal tersebut dilakukannya bukan karena marah, melainkan karena merasa sedikit terganggu oleh sikap Netanyahu yang terus-menerus memicu pertempuran dengan Lebanon.
"Ya," kata Trump kepada podcast Pod Force One dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Rabu. "Saya tidak akan mengatakan marah. Saya sedikit terganggu dengan perselisihannya yang terus-menerus dengan Lebanon, Anda tahu," tambah Trump mengenai alasan kekesalannya, seperti dikutip BBC, pada Kamis, 4 Juni 2036.
Kendati demikian, Trump meredam ketegangan dengan menambahkan bahwa dirinya tetap sangat menyukai sosok Netanyahu dan mengklaim dapat bekerja sama dengan sangat baik bersamanya.
Rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa Trump bukanlah satu-satunya Presiden AS yang harus berhadapan dengan kedegilan PM Israel tersebut, mengingat Netanyahu dikenal memiliki sejarah panjang dalam menguji batas kesabaran Gedung Putih namun selalu berhasil lolos dari dampak politiknya.
Perselisihan terbaru ini mencuat di saat Trump tengah mempertimbangkan draf kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata antara AS dan Iran, yang sekaligus menjadi pintu masuk bagi negosiasi masa depan program nuklir Teheran. Selain masalah pertahanan, nasib pembukaan kembali jalur pelayaran vital dunia di Selat Hormuz juga turut dipertaruhkan dalam momentum krusial ini.
Di pihak lain, Netanyahu tampak menertawakan isu keretakan hubungan diplomatik dengan sekutu utama negaranya tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Rabu, Netanyahu menganalogikan dinamika hubungannya dengan Trump layaknya sebuah perselisihan taktis biasa yang wajar terjadi di dalam keluarga terbaik sekalipun.
"Terkadang, seperti dalam keluarga terbaik sekalipun, kita memiliki perbedaan pendapat taktis, kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikannya, dan kami melakukannya sebagai teman baik," katanya kepada CNBC dalam sebuah wawancara pada hari Rabu.
Netanyahu mengklaim bahwa mereka berdua bisa saja berbeda pendapat di pagi hari, namun sudah kembali sejalan pada sore harinya. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa kebocoran rekaman telepon tersebut mengindikasikan adanya frustrasi mendalam di internal Gedung Putih terkait ketidakselarasan antara tujuan militer dan politik AS-Israel, setelah hampir 100 hari meluncurkan serangan udara bersama ke Iran sejak 28 Februari lalu.
Mantan diplomat sekaligus presiden lembaga komunikasi krisis Global Situation Room, Brett Bruen, menyampaikan kepada BBC bahwa Netanyahu memiliki rekam jejak panjang untuk mengabaikan arahan dari Washington.
Bruen menilai Trump kini sedang memetik pelajaran berharga setelah memutuskan untuk terlibat perang bersama seorang pemimpin yang tidak dapat diprediksi dan memiliki agenda politik yang sering kali tidak sejalan dengan prioritas utama AS.
Secara garis besar, Netanyahu dan Trump sebenarnya sepakat pada target utama AS untuk mencegah Iran memproduksi atau memiliki senjata nuklir. Namun, di wilayah Lebanon, kepentingan kedua negara mulai terpecah di mana Israel bersikeras untuk terus menggempur milisi Hezbollah di saat perundingan AS-Iran sedang berjalan, padahal Iran mensyaratkan Lebanon wajib dimasukkan dalam klausul gencatan senjata.
Ketegangan geopolitik ini mengemuka di tengah meningkatnya sentimen kritis dari publik Amerika Serikat terhadap dukungan tanpa syarat yang diberikan pemerintah mereka kepada Israel. Jajak pendapat dari Pew Research yang dirilis pada bulan April menunjukkan bahwa 60 persen warga AS kini memandang Israel secara negatif, melonjak tajam dari angka 42 persen sebelum perang melawan Hamas pecah pada tahun 2023 lalu.
Beberapa tokoh konservatif terkemuka AS bahkan secara terbuka mulai mengecam apa yang mereka sebut sebagai peran terselubung Israel dalam menyeret Trump ke dalam jurang peperangan melawan Iran, meskipun tuduhan itu dibantah keras oleh Gedung Putih dan Netanyahu. Salah satu kritik tajam datang dari Joe Kent, mantan kepala Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional yang mengundurkan diri pada Maret lalu.
Kent secara blak-blakan mengatakan keyakinannya bahwa AS memulai perang ini akibat adanya tekanan masif dari Israel beserta kelompok lobi Amerikanya yang sangat kuat. Kelompok lobi pro-Israel, American Israel Public Affairs Committee, langsung merespons mundurnya Kent dengan merilis pernyataan yang menuduh dirinya tengah menyebarkan kiasan antisemit kuno.
Di tengah iklim politik domestik yang sensitif seperti ini, beberapa pengamat menilai Trump memiliki insentif politik untuk sengaja menunjukkan perbedaan sikap dengan Netanyahu demi meredam kritik di dalam negerinya. Bruen menilai saat ini terdapat kebutuhan politik yang mendesak untuk menciptakan jarak yang jelas antara Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, beberapa langkah yang dipilih Netanyahu, baik di Lebanon maupun di Gaza, telah menjadi masalah politik yang pelik bahkan bagi posisi Trump serta Partai Republik.
Sejarah mencatat deretan Presiden AS sebelumnya juga kerap dibuat frustrasi oleh Netanyahu. PM Israel tersebut tercatat pernah berselisih sengit dengan Bill Clinton terkait implementasi perjanjian damai Oslo. Hubungan yang jauh lebih buruk juga terjadi pada masa Presiden Barack Obama, terutama setelah Netanyahu nekat berpidato di depan Kongres AS pada Maret 2015 mengenai kebijakan Iran tanpa sepengetahuan dan izin dari pihak Gedung Putih.
Hubungan Netanyahu dengan Joe Biden juga sempat memburuk setelah ia menuduh AS sengaja menahan pasokan senjata dan amunisi untuk negaranya, sebuah pernyataan yang disebut oleh pejabat Gedung Putih sebagai tindakan yang menjengkelkan dan sangat mengecewakan.
Pakar hubungan AS-Israel dari Middle East Institute, Natan Sachs, menegaskan bahwa Netanyahu memiliki hubungan yang sangat bermasalah dengan para presiden AS. Sachs menilai Netanyahu adalah seorang negosiator yang sangat sulit dihadapi, tidak hanya karena sikapnya yang keras, tetapi juga karena ia dipenuhi rasa curiga yang tinggi.
Trump sendiri sebelumnya pernah mengekspresikan kekesalannya terhadap Netanyahu dengan melontarkan makian di depan kamera wartawan tahun lalu, setelah serangan udara Israel ke Iran mengancam stabilitas gencatan senjata yang rapuh pada akhir perang 12 hari dengan Teheran.
Meski demikian, secara keseluruhan hubungan keduanya tergolong positif, di mana Netanyahu berulang kali melayangkan pujian dengan menyebut Trump sebagai sahabat terbaik bagi Israel dalam sejarah AS.
Sachs menganalisis bahwa bersama Trump, Netanyahu menemukan sosok pemimpin yang bersedia mendobrak pakem konvensional dalam pengelolaan urusan Timur Tengah. Hal tersebut dinilai sangat sesuai dengan keinginan Netanyahu yang sejak lama ingin mengubah aturan main serta menegaskan kesiapan AS dan Israel untuk mengonfrontasi poros Iran secara militer.
Kendati demikian, sejauh mana perselisihan terbaru ini akan memengaruhi hubungan hangat kedua pemimpin dalam jangka panjang masih menjadi tanda tanya.
Sachs menyimpulkan bahwa insiden ini berpotensi menjadi hal yang signifikan karena publik belum mengetahui apakah pertengkaran ini hanya terjadi sekali atau justru menjadi indikator awal dari keretakan hubungan yang lebih luas, mengingat Trump dikenal kerap mengubah pandangannya terhadap seseorang di masa lalu.
(Kelvin Yurcel)