Pangeran Alwaleed bin Talal Al Saud Menerima Medali Penghargaan dan Apresiasi dari Presiden Sri Lanka tahun 2017. (alwaleed.com.sa)
10 Orang Terkaya di Dunia Arab Tahun 2026 Versi Forbes
Riza Aslam Khaeron • 2 June 2026 18:51
Jakarta: Timur Tengah terkenal sebagai kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas bumi. Selama puluhan tahun, pilar ekonomi negara-negara di wilayah ini—seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar—hampir sepenuhnya ditopang sektor energi fosil.
Namun, dalam satu dekade terakhir, peta kekayaan di kawasan tersebut bergeser drastis. Kini, para miliarder Timur Tengah tidak lagi hanya menggantungkan hidup pada sektor energi bumi. Mereka mulai melebarkan sayap bisnisnya ke sektor properti, perbankan, kesehatan, telekomunikasi, otomotif, hingga instrumen investasi global.
Transformasi tersebut tercermin dengan sangat jelas dalam daftar orang terkaya di dunia Arab tahun 2026 yang dirilis oleh Forbes Middle East. Laporan tersebut memperlihatkan pundi-pundi kekayaan para konglomerat Arab kini dibentuk oleh kombinasi dinamis antara bisnis keluarga yang solid, ekspansi perusahaan ke pasar internasional, serta pertumbuhan pesat sektor-sektor industri baru yang dinamis.
Dari total 36 miliarder Arab asal tujuh negara yang berhasil menembus daftar The World's Richest Arabs 2026, akumulasi kekayaan gabungan mereka mencapai USD 137,3 miliar (sekitar Rp2.455,3 triliun). Naik sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 128,4 miliar (sekitar Rp2.296,2 triliun).
Angka fantastis ini menjadi bagian dari laporan tahunan Forbes World's Billionaires ke-40 yang mencetak rekor sejarah baru: untuk pertama kalinya, jumlah miliarder di seluruh dunia melampaui angka 3.000 orang. Berikut daftar 10 orang terkaya di Timur Tengah tahun 2026:
1. Pangeran Alwaleed bin Talal Al Saud — USD 19,9 Miliar (sekitar Rp355,9 triliun)
Pangeran Alwaleed bin Talal Al Saud menempati posisi teratas sebagai orang Arab terkaya di dunia pada tahun 2026 versi Forbes Middle East. Nilai kekayaannya tercatat mencapai USD 19,9 miliar (sekitar Rp355,9 triliun), melonjak signifikan dari USD 16,5 miliar (sekitar Rp295,1 triliun) pada tahun sebelumnya.
Tokoh bangsawan asal Arab Saudi ini dikenal luas sebagai investor ulung melalui perusahaan investasinya, Kingdom Holding Company, yang memiliki portofolio saham di berbagai sektor berskala global. Lewat Kingdom Holding Company, Alwaleed menggenggam kepemilikan di sejumlah perusahaan ternama dunia, salah satunya jaringan hotel mewah Four Seasons.
Laporan Forbes juga mencatat bahwa pada Februari 2026, Kingdom Holding mengumumkan nilai investasi gabungan mereka bersama Alwaleed di SpaceX—termasuk di platform X, xAI, dan Starlink—telah meningkat menjadi USD 9,2 miliar (sekitar Rp164,5 triliun). Di luar Kingdom Holding, ia juga memiliki aset properti yang luas di Arab Saudi, perusahaan hiburan raksasa Rotana, serta estimasi kepemilikan saham sebesar 1,5 persen di Snap Inc.
Tokoh bangsawan asal Arab Saudi ini dikenal luas sebagai investor ulung melalui perusahaan investasinya, Kingdom Holding Company, yang memiliki portofolio saham di berbagai sektor berskala global. Lewat Kingdom Holding Company, Alwaleed menggenggam kepemilikan di sejumlah perusahaan ternama dunia, salah satunya jaringan hotel mewah Four Seasons.
Laporan Forbes juga mencatat bahwa pada Februari 2026, Kingdom Holding mengumumkan nilai investasi gabungan mereka bersama Alwaleed di SpaceX—termasuk di platform X, xAI, dan Starlink—telah meningkat menjadi USD 9,2 miliar (sekitar Rp164,5 triliun). Di luar Kingdom Holding, ia juga memiliki aset properti yang luas di Arab Saudi, perusahaan hiburan raksasa Rotana, serta estimasi kepemilikan saham sebesar 1,5 persen di Snap Inc.
2. Hussain Sajwani — USD 15,3 Miliar (sekitar Rp273,6 triliun)
Di urutan kedua ada Hussain Sajwani dengan kekayaan bersih sebesar USD 15,3 miliar (sekitar Rp273,6 triliun). Ia merupakan pendiri sekaligus chairman dari DAMAC Properties, sebuah perusahaan pengembang properti mewah terkemuka yang berbasis di Dubai. Sajwani mendirikan DAMAC pada tahun 2002 setelah sebelumnya merintis karier di bisnis jasa penyedia makanan (catering).
Kesuksesan Sajwani menembus jajaran miliarder papan atas tidak lepas dari melesatnya pasar properti di Dubai. Forbes mencatat bahwa DAMAC Properties berhasil membukukan rekor penjualan yang fantastis sebesar USD 9,8 miliar (sekitar Rp175,3 triliun) pada tahun lalu.
Menariknya, Sajwani juga sempat menjalin kolaborasi dengan Donald Trump pada tahun 2013 untuk mengembangkan dua lapangan golf eksklusif bermerek Trump di Dubai.
Menariknya, Sajwani juga sempat menjalin kolaborasi dengan Donald Trump pada tahun 2013 untuk mengembangkan dua lapangan golf eksklusif bermerek Trump di Dubai.
3. Sulaiman Al Habib — USD 10,2 Miliar (sekitar Rp182,4 triliun)
Sulaiman Al Habib menempati peringkat ketiga dengan total kekayaan mencapai USD 10,2 miliar (sekitar Rp182,4 triliun). Ia adalah pendiri sekaligus chairman dari Dr. Sulaiman Al Habib Medical Services Group (HMG), salah satu jaringan penyedia layanan kesehatan swasta terbesar di Riyadh, Arab Saudi.
Al Habib sendiri merupakan seorang dokter spesialis anak yang mendirikan HMG pada tahun 1995. Jaringan kesehatan ini kemudian resmi melantai (go public) di Bursa Efek Saudi (Tadawul) pada tahun 2020.
Forbes mencatat bahwa Al Habib menguasai sekitar 40 persen saham HMG, yang kini mengoperasikan belasan rumah sakit, klinik medis modern, serta jaringan apotek di Arab Saudi dan UEA.
Forbes mencatat bahwa Al Habib menguasai sekitar 40 persen saham HMG, yang kini mengoperasikan belasan rumah sakit, klinik medis modern, serta jaringan apotek di Arab Saudi dan UEA.
4. Nassef Sawiris — USD 9,6 Miliar (sekitar Rp171,7 triliun)
Nassef Sawiris menahbiskan dirinya sebagai miliarder terkaya asal Mesir dalam daftar ini dengan total kekayaan sebesar USD 9,6 miliar (sekitar Rp171,7 triliun). Ia merupakan seorang investor global terkemuka sekaligus anggota keluarga Sawiris, dinasti bisnis paling berpengaruh di Mesir. Dua saudara kandungnya, Naguib dan Samih Sawiris, juga tercatat sebagai miliarder dunia.
Sebagian besar kekayaan Nassef bersumber dari berbagai instrumen investasi strategis di tingkat global. Forbes mencatat ia memimpin OCI, salah satu produsen pupuk nitrogen terbesar di dunia yang memiliki fasilitas produksi di Texas serta Iowa, dan sahamnya tercatat di bursa Euronext Amsterdam.
Selain itu, ia juga memegang hampir 6 persen saham di raksasa perlengkapan olahraga Adidas, serta menjadi salah satu pemilik klub sepak bola Liga Utama Inggris, Aston Villa, bersama pengusaha Wes Edens.
Selain itu, ia juga memegang hampir 6 persen saham di raksasa perlengkapan olahraga Adidas, serta menjadi salah satu pemilik klub sepak bola Liga Utama Inggris, Aston Villa, bersama pengusaha Wes Edens.
5. Naguib Sawiris — USD 5,6 Miliar (sekitar Rp100,1 triliun)
Kakak dari Nassef, yakni Naguib Sawiris, menempati posisi kelima dengan kekayaan bersih senilai USD 5,6 miliar (sekitar Rp100,1 triliun). Namanya sangat lekat dengan industri telekomunikasi global.
Naguib membangun imperium bisnisnya melalui Orascom Telecom, yang kemudian diakuisisi oleh raksasa telekomunikasi Rusia, VimpelCom (kini bernama Veon), dalam sebuah transaksi bernilai miliaran dolar AS. Pasca-transaksi tersebut, Naguib memperluas lini bisnisnya ke sektor pertambangan emas dan properti mewah.
Forbes melaporkan bahwa ia kini menjabat sebagai executive chairman Orascom Investment Holding dan mengelola portofolio investasi emasnya melalui La Mancha Resource Capital sejak tahun 2012. Pada tahun 2017, ia juga merambah ke sektor real estat dengan mendirikan ORA Developers Holding Limited.

Hussain Sajwani di Young Arab Leaders Forum tahun 2025. (Instagram/@hussainsajwani)
Naguib membangun imperium bisnisnya melalui Orascom Telecom, yang kemudian diakuisisi oleh raksasa telekomunikasi Rusia, VimpelCom (kini bernama Veon), dalam sebuah transaksi bernilai miliaran dolar AS. Pasca-transaksi tersebut, Naguib memperluas lini bisnisnya ke sektor pertambangan emas dan properti mewah.
Forbes melaporkan bahwa ia kini menjabat sebagai executive chairman Orascom Investment Holding dan mengelola portofolio investasi emasnya melalui La Mancha Resource Capital sejak tahun 2012. Pada tahun 2017, ia juga merambah ke sektor real estat dengan mendirikan ORA Developers Holding Limited.

Hussain Sajwani di Young Arab Leaders Forum tahun 2025. (Instagram/@hussainsajwani)
6. Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani — USD 5,2 Miliar (sekitar Rp93 triliun)
Mantan Perdana Menteri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, berada di posisi keenam dengan estimasi kekayaan mencapai USD 5,2 miliar (sekitar Rp93 triliun). Tokoh berpengaruh ini menjabat sebagai Perdana Menteri Qatar pada periode 2007–2013 dan Menteri Luar Negeri pada periode 1992–2013.
Pundi-pundi kekayaan Hamad bin Jassim sebagian besar dikelola melalui berbagai instrumen keuangan dan investasi kelas dunia. Forbes mencatat bahwa melalui entitas Paramount Services Holdings miliknya, ia menguasai 4,5 persen saham di Deutsche Bank, yang sekaligus menjadi kepemilikan saham publik terbesarnya saat ini.
7. Abdulla Al Futtaim dan Keluarga — USD 4,8 Miliar (sekitar Rp85,8 triliun)
Abdulla Al Futtaim bersama keluarganya menempati peringkat ketujuh dengan total kekayaan bersih mencapai USD 4,8 s/d USD 5 miliar (sekitar Rp85,8 triliun hingga Rp89,4 triliun), atau tepatnya berada di angka USD 4,8 miliar (sekitar Rp85,8 triliun). Ia merupakan pemilik dari Al-Futtaim Group, konglomerasi raksasa asal UEA yang saat ini dipimpin oleh putranya, Omar Al Futtaim, selaku vice chairman dan CEO.
Al-Futtaim Group memiliki dominasi yang sangat kuat di sektor otomotif dan ritel di kawasan Teluk. Sejak tahun 1955, grup ini dipercaya menjadi distributor eksklusif kendaraan Toyota di UEA dan berhasil mempertahankan hak distribusi tersebut hingga hari ini.
Forbes juga mencatat bahwa Al-Futtaim memegang lisensi eksklusif untuk mengoperasikan waralaba global ternama seperti Hertz, Ikea, Toys “R” Us, dan Marks & Spencer di wilayah UEA.
Forbes juga mencatat bahwa Al-Futtaim memegang lisensi eksklusif untuk mengoperasikan waralaba global ternama seperti Hertz, Ikea, Toys “R” Us, dan Marks & Spencer di wilayah UEA.
| Baca Juga: 50 Orang Terkaya di Dunia Versi Forbes 2026 |
8. Abdulla bin Ahmad Al Ghurair dan Keluarga — USD 4,5 Miliar (sekitar Rp80,5 triliun)
Abdulla bin Ahmad Al Ghurair beserta keluarganya menempati posisi kedelapan dengan kekayaan bersih senilai USD 4,5 miliar (sekitar Rp80,5 triliun). Ia dikenal luas sebagai pendiri Mashreq Bank, salah satu lembaga perbankan swasta terkemuka di UEA yang ia rintis sejak tahun 1967.
Di luar sektor perbankan, gurita bisnis keluarga Al Ghurair mencakup sektor pangan, konstruksi, mobilitas, manajemen aset, hingga real estat. Laporan Forbes mencatat bahwa perusahaan konstruksi milik keluarganya turut andil dalam pengerjaan panel eksterior (cladding) gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, serta proyek pembangunan jalur kereta Dubai Metro.
Pada tahun 2026, grup bisnis ini juga memperluas portofolionya dengan menandatangani perjanjian distribusi eksklusif dengan Chery Group untuk memasarkan merek kendaraan Karry di UEA.
Pada tahun 2026, grup bisnis ini juga memperluas portofolionya dengan menandatangani perjanjian distribusi eksklusif dengan Chery Group untuk memasarkan merek kendaraan Karry di UEA.
9. Mohamed Mansour — USD 4 Miliar (sekitar Rp71,5 triliun)
Di urutan kesembilan ada Mohamed Mansour dengan kekayaan bersih sebesar USD 4 bahwasanya tercatat sebesar USD 4 miliar (sekitar Rp71,5 triliun). Ia memimpin Mansour Group, sebuah konglomerasi bisnis keluarga asal Mesir yang didirikan oleh ayahnya, Loutfy Mansour dan saat ini, grup usaha berskala multinasional tersebut mempekerjakan sekitar 60.000 karyawan.
Mansour sukses membangun bisnis raksasa melalui distribusi otomotif dan alat berat. Forbes mencatat bahwa ia mendirikan jaringan diler resmi General Motors (GM) pertama di Mesir pada tahun 1975, yang kemudian berkembang menjadi salah satu jaringan distributor GM terbesar di dunia.
Selain itu, Mansour Group juga memegang hak distribusi eksklusif untuk alat berat Caterpillar di Mesir serta beberapa negara di benua Afrika.
Selain itu, Mansour Group juga memegang hak distribusi eksklusif untuk alat berat Caterpillar di Mesir serta beberapa negara di benua Afrika.
10. Najib Mikati — USD 3,8 Miliar (sekitar Rp68 triliun)
Najib Mikati menduduki peringkat ke-10 dengan total kekayaan bersih mencapai USD 3,8 miliar (sekitar Rp68 triliun). Ia merupakan salah satu pendiri M1 Group, sebuah firma investasi global yang berbasis di Beirut, Lebanon.
Najib bersama saudara kandungnya, Taha Mikati, merintis bisnis telekomunikasi bernama Investcom pada tahun 1982. Bisnis tersebut awalnya berfokus pada penjualan telepon satelit di tengah berkecamuknya perang saudara di Lebanon, sebelum akhirnya berekspansi ke pasar Afrika dengan membangun menara telekomunikasi di Ghana, Liberia, dan Benin.
Najib bersama saudara kandungnya, Taha Mikati, merintis bisnis telekomunikasi bernama Investcom pada tahun 1982. Bisnis tersebut awalnya berfokus pada penjualan telepon satelit di tengah berkecamuknya perang saudara di Lebanon, sebelum akhirnya berekspansi ke pasar Afrika dengan membangun menara telekomunikasi di Ghana, Liberia, dan Benin.
Pada tahun 2009, raksasa telekomunikasi asal Afrika Selatan, MTN Group, mengakuisisi saham keluarga Mikati di Investcom senilai USD 3,6 miliar (sekitar Rp64,4 triliun). Selain dikenal sebagai pebisnis sukses, Najib Mikati juga merupakan tokoh politik penting yang menjabat sebagai Perdana Menteri Lebanon hingga Februari 2025.
10. Taha Mikati — USD 3,8 Miliar (sekitar Rp68 triliun)
Taha Mikati juga menempati peringkat ke-10 dengan kekayaan bersih yang sama, yaitu USD 3,8 miliar (sekitar Rp68 triliun). Bersama dengan saudaranya Najib, ia mendirikan M1 Group yang menjadi motor utama investasi keluarga mereka.
Portofolio investasi M1 Group saat ini mencakup kepemilikan saham di MTN Group, peritel fesyen Pepe Jeans, serta deretan properti mewah di lokasi-lokasi premium dunia seperti New York, London, dan Monako.
Portofolio investasi M1 Group saat ini mencakup kepemilikan saham di MTN Group, peritel fesyen Pepe Jeans, serta deretan properti mewah di lokasi-lokasi premium dunia seperti New York, London, dan Monako.
Sama halnya dengan Najib, fondasi utama kekayaan Taha berasal dari kesuksesan Investcom, perusahaan telekomunikasi yang mereka bangun sejak dekade 1980-an. Keberanian ekspansi perusahaan ke benua Afrika terbukti menjadi pilar terpenting dalam menumpuk kekayaan keluarga Mikati sebelum akhirnya kepemilikan saham mereka dilepas kepada MTN.
Daftar Forbes Middle East tahun 2026 ini kembali menegaskan dominasi tiga kekuatan ekonomi utama—Arab Saudi, UEA, dan Mesir—dalam peta kekayaan para konglomerat di dunia Arab. Arab Saudi memimpin sebagai negara dengan jumlah miliarder terbanyak, yaitu sebanyak 11 orang dengan total kekayaan kolektif mencapai USD 49 miliar (sekitar Rp876,3 triliun).
Sementara itu, UEA menyusul erat di peringkat kedua dengan menyumbangkan 7 miliarder berharta gabungan senilai USD 35,4 miliar (sekitar Rp633,1 triliun).
Sementara itu, UEA menyusul erat di peringkat kedua dengan menyumbangkan 7 miliarder berharta gabungan senilai USD 35,4 miliar (sekitar Rp633,1 triliun).