Hizbullah terus bertahan melawan Israel. Foto: EFE-EPA
Sekjen Hizbullah: Kesabaran Kami Ada Batasnya
Fajar Nugraha • 5 March 2026 17:05
Beirut: Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, menegaskan bahwa kelompoknya kini memilih untuk membalas serangan militer Israel setelah menahan diri selama 15 bulan.
Dalam pidato resminya, Qassem mengatakan bahwa langkah ini diambil untuk mematahkan ilusi bahwa diamnya Hizbullah akan membawa ketenangan di perbatasan.
Selama periode gencatan senjata, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan sekitar 500 orang di seluruh penjuru Lebanon. Qassem mengungkapkan bahwa sebelumnya Hizbullah sengaja menahan diri untuk memberikan ruang bagi upaya diplomasi agar dunia tidak menuduh mereka sebagai penghambat proses damai.
"Kami berulang kali mengatakan bahwa kesabaran itu ada batasnya," tegas Syekh Naim Qassem dalam pidatonya, seperti dikutip Press TV, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menyayangkan sikap Pemerintah Lebanon yang dinilai melemahkan posisi negara dengan bertindak sesuai kepentingan Tel Aviv dan Washington, yang justru melegitimasi agresi Israel yang terus berlanjut.
Qassem memperingatkan bahwa ambisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mewujudkan Israel Raya merupakan ancaman eksistensial bagi rakyat, tanah air, dan seluruh kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa selama pendudukan masih ada, maka perlawanan bersenjata adalah hak sah yang diakui secara internasional.
"Masalah utamanya adalah pendudukan, bukan masalah internal, senjata, atau perlawanan. Masalahnya adalah pelanggaran kedaulatan yang terus menerus dan pendudukan Israel-Amerika di ruang udara Lebanon," ujar Qassem.
Pernyataan keras ini menyusul laporan operasi militer Hizbullah yang menargetkan situs-situs strategis Israel pada Selasa lalu. Hizbullah mengeklaim telah menyerang pangkalan pengawasan udara Meron, menghantam salah satu radar dan gedung komando di wilayah pendudukan.
Selain itu, Hizbullah juga meluncurkan tembakan roket besar-besaran ke pangkalan Nafah di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, yang diidentifikasi sebagai markas besar Divisi Basha ke-210 tentara Israel. Eskalasi ini menandakan kembalinya konfrontasi terbuka di wilayah Lebanon Selatan seiring gagalnya implementasi gencatan senjata.
(Kelvin Yurcel)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com