Wamen Diktisaintek: Pengangguran Bukan Kurang Loker, tapi Skill Gap di Industri

Wamen Diktisaintek Stella Christie (Tengah). Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda

Wamen Diktisaintek: Pengangguran Bukan Kurang Loker, tapi Skill Gap di Industri

Eko Nordiansyah • 15 January 2026 17:33

Jakarta: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menyoroti isu pengangguran di Indonesia yang menurutnya bukan disebabkan oleh ketiadaan lapangan kerja, melainkan adanya ketimpangan (gap) antara keahlian lulusan dengan kebutuhan industri.

Dalam forum "Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 by IDN Times", Stella mengungkapkan kekhawatirannya terhadap angka pengangguran saat ini. Ia menekankan bahwa solusi masalah pengangguran tidak bisa hanya berdasarkan asumsi, melainkan harus merujuk pada data industri.

“Terkait dengan pengangguran saya sangat khawatir terhadap angka pengangguran. Kalau kita bisa lihat sebenarnya bukanlah notabene tidak tersedianya lapangan kerja. Tetapi yang paling bermasalah adalah lulusan atau Sumber Daya Manusia (SDM) kita ini tidak mempunyai keahlian atau kemampuan yang diinginkan oleh para pemberi pekerjaan,” ungkap Stella dalam forum SAT 2026 by IDN Times, Kamis, 15 Januari 2026.

Stella menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dengan para direktur BUMN pada Konferensi Sains Teknologi Indonesia tahun lalu. Mengejutkannya, perusahaan besar seperti PLN tidak lagi memprioritaskan lulusan dari program studi spesifik, melainkan mencari pekerja yang memiliki kemampuan adaptabilitas, manajemen waktu dan kemampuan sosial.

“Tadinya saya pikir kalau PLN akan bilang ohh saya perlunya prodi ini prodi itu. Tidak ada satupun yang bilang seperti itu dari direktur-direktur PLN. Mereka bilangnya apa? Satu, kami butuh orang yang bisa dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan atau yang diharuskan di perusahaannya. Jadi learning to learn, yang kedua mampu ada kemampuan sosial bekerja sama dengan orang lain dan yang ketiga mengatur waktu,” ungkapnya.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Riset sebagai kunci critical thinking

Stella turut menegaskan, bahwa pengalaman riset di bangku kuliah adalah kunci untuk membentuk kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah (problem solving).

Ia menepis anggapan bahwa riset hanya berguna bagi akademisi. Sebaliknya, riset justru melatih mahasiswa untuk mencari jawaban di tengah keterbatasan metode dan data.

"Saya jamin, kalau Anda adalah seorang yang mampu berpikir, tahu pertanyaan apa yang harus diajukan, dan metode apa yang bisa digunakan untuk mendapat jawaban, pasti kalian akan dipekerjakan oleh para employer. Oleh karena itu, kembali lagi harus memperbanyak peluang untuk bisa melakukan riset," pungkasnya. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)