Penyebab Krisis Air, Warga Desa Cigobang Cirebon Tolak Keberadaan Kebun Sawit

Warga Desa Cigobang sedang mencabut pohon sawit yang ditanam disalah satu kebun di desa tersebut.

Penyebab Krisis Air, Warga Desa Cigobang Cirebon Tolak Keberadaan Kebun Sawit

Ahmad Rofahan • 17 January 2026 12:31

Cirebon: Warga Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, melakukan aksi pencabutan pohon sawit secara mandiri di kebun sawit seluas 2,5 hektare, Jumat, 16 Januari 2026. Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap keberadaan perkebunan sawit, yang juga dipicu kekhawatiran krisis air bersih yang kerap terjadi saat musim kemarau.

Pencabutan pohon sawit secara mandiri tersebut dilakukan karena tidak adanya tindak lanjut dari pihak perusahaan, meskipun batas waktu yang dijanjikan hingga 15 Januari 2026 telah terlewati.

Pantauan di lokasi menunjukkan warga berbondong-bondong mendatangi area perkebunan sambil menyuarakan yel-yel "cabut sawit". Beberapa warga secara bergantian mencabut pohon sawit, sementara yang lain menyaksikan aksi tersebut.

Namun, pada pencabutan pohon ketiga, aksi warga dihentikan setelah Kepala Desa Cigobang, M Abdul Zei, datang ke lokasi. Penghentian dilakukan karena akan ada koordinasi lanjutan yang direncanakan pada Senin, 19 Januari 2026.

Warga memilih menghentikan aksi sebagai bentuk penghormatan kepada kepala desa. Mereka sepakat menunggu keputusan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon dan pihak perusahaan terkait.
 


"Untuk pencabutan sawitnya ini karena sesuai kesepakatan dari pihak perusahaan itu cuma minta surat pemindahan dari pemilik lahan untuk dipindahkan sawit ini. Mohon ibu-ibu jangan terprovokasi, jangan anarkis," ujar Kuwu Cigobang, M Abdul Zei.

Ia menyampaikan akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait dan meminta warga tidak bertindak anarkis. “Insya Allah kami segera akan berkoordinasi sama dinas terkait. Saya mohon, ibu-ibu nanti membubarkan diri secara teratur,” katanya.

Abdul Zei berharap pemerintah daerah segera menyelesaikan persoalan sawit di desanya. Ia khawatir jika tidak ada kejelasan, gejolak warga bisa kembali terjadi. Salah seorang warga, Sara, mengungkapkan aksi pencabutan dilakukan karena kekecewaan warga terhadap janji perusahaan yang tidak kunjung ditepati.


Ilustrasi kebun sawit. Foto: dok Ditjenbun Kementan.

“Katanya mau dicabut ternyata tidak, makanya saya sama masyarakat melakukan aksi pencabutan. Saya serahkan ke Pak Kuwu, kalau tidak ada Pak Kuwu ini sudah mau dicabut semua,” ujarnya.

Sara menegaskan warga tidak berniat anarkis, namun meminta tuntutan mereka dipenuhi. Penolakan warga dilatarbelakangi persoalan krisis air yang dialami Desa Cigobang, terutama saat musim kemarau. Warga menilai keberadaan sawit memperparah kondisi tersebut.

“Kurang air, Pak. Kita aja ngebor sampai dalamnya 25 kadang-kadang nggak dapat air. Tetangga saya aja sampai tiga titik ngebor tidak dapat air,” ungkap Sara.

Ia khawatir jika kebun sawit tetap dibiarkan, krisis air akan semakin parah dan mengancam keberlangsungan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di desa itu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)