Melampaui Kartini: Saatnya Perempuan Indonesia Memimpin Masa Depan

Farahdibha Tenrilemba. Dok Pribadi.

Melampaui Kartini: Saatnya Perempuan Indonesia Memimpin Masa Depan

Arga Sumantri • 21 April 2026 16:08

Lebih dari satu abad yang lalu, Raden Ajeng Kartini menuliskan kegelisahannya tentang dunia yang membatasi perempuan. Ia hidup dalam sistem yang menutup akses pendidikan, membatasi ruang gerak, dan menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Dalam keterbatasan itu, Kartini tidak berhenti berpikir. Ia membaca, menulis, dan membangun gagasan tentang kebebasan berpikir, pendidikan, dan martabat perempuan, gagasan yang jauh melampaui zamannya.

Kartini tidak hidup cukup lama untuk menyaksikan perubahan yang ia impikan. Ia wafat pada 1904, setelah melahirkan anak pertamanya. Gagasannya baru dikenal luas ketika surat-suratnya diterbitkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang pada 1911. Dari sanalah pemikiran Kartini menjadi fondasi awal gerakan perempuan di Indonesia, sebuah fondasi yang hingga hari ini masih kita pijak.

Lebih dari 115 tahun kemudian, kita hidup dalam realitas yang sangat berbeda. Perempuan Indonesia telah mengakses pendidikan, memasuki dunia kerja, dan terlibat dalam berbagai sektor strategis. Namun pertanyaan penting yang harus kita jawab secara jujur adalah: apakah kita sudah mencapai tujuan akhir dari perjuangan Kartini? Jawabannya: belum.

Kemajuan yang kita capai memang signifikan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan peningkatan akses pendidikan perempuan di hampir semua jenjang. Namun ketika kita melihat lebih dalam, pada kualitas kesempatan dan posisi strategis, kesenjangan masih sangat terasa. Perempuan masih menghadapi keterbatasan dalam kepemimpinan puncak, kesenjangan upah dan akses ekonomi, beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab domestik, serta representasi yang belum setara dalam pengambilan kebijakan.

Temuan UN Women menunjukkan bahwa kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi merupakan fenomena global yang bersifat sistemik. Artinya, tantangan yang kita hadapi bukan sekadar persoalan lokal, melainkan bagian dari struktur yang lebih besar.

Dengan kata lain, kita telah berhasil membuka pintu. Namun kita belum memastikan siapa yang bisa naik ke atas.

Perempuan Indonesia hari ini juga menghadapi kompleksitas baru yang tidak pernah dihadapi Kartini. Jika Kartini berjuang untuk akses pendidikan, maka perempuan masa kini berhadapan dengan disrupsi teknologi, digitalisasi, persaingan global, perubahan struktur ekonomi, serta tantangan kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

Namun di balik kompleksitas tersebut, terdapat peluang yang sangat besar. Perempuan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di bidang teknologi dan inovasi, penggerak ekonomi digital, pembuat kebijakan yang responsif gender, serta agen perubahan dalam pembangunan berkelanjutan.

Tantangannya bukan lagi 'boleh atau tidak', melainkan: siap atau tidak.

Jika kita ingin melanjutkan Kartini secara relevan, maka arah perjuangan harus bergeser secara fundamental, dari sekadar partisipasi menuju kepemimpinan strategis.

Pertama, perempuan harus bergerak dari posisi partisipan menjadi pengambil keputusan. Kehadiran saja tidak cukup. Perempuan harus berada di ruang-ruang strategis, terlibat dalam perumusan kebijakan, dan memimpin institusi yang menentukan arah pembangunan.

Kedua, perempuan harus bergeser dari penerima program menjadi perancang sistem. Selama ini, perempuan sering ditempatkan sebagai objek pembangunan. Ke depan, perempuan harus menjadi subjek yang merancang kebijakan, mengembangkan solusi, dan mengendalikan arah perubahan.

Ketiga, isu perempuan harus ditempatkan sebagai agenda strategis nasional, bukan sekadar isu sosial. Kesetaraan gender harus menjadi bagian dari pembangunan ekonomi, ketahanan nasional, dan bahkan diplomasi global. Untuk mencapai transformasi tersebut, diperlukan pendekatan yang terintegrasi. Pendidikan harus menjadi fondasi utama, dengan mendorong perempuan masuk ke bidang STEM, mengembangkan kepemimpinan sejak dini, serta menanamkan kemampuan berpikir kritis. Kebijakan publik harus responsif gender, termasuk dalam perlindungan pekerja perempuan, kesetaraan upah, dan dukungan terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan. Selain itu, ekosistem yang mendukung harus dibangun, melalui akses pembiayaan, jaringan profesional, dan platform kolaborasi.

Tanpa ekosistem yang kuat, perempuan akan terus menghadapi batas-batas yang tidak terlihat, batas yang tidak tertulis, tetapi nyata dalam perjalanan karier dan kepemimpinan mereka.

Kartini telah membuka jalan. Generasi setelahnya telah melanjutkan. Namun generasi hari ini memiliki tanggung jawab yang lebih besar: bukan hanya melanjutkan, tetapi mendesain masa depan.

Perempuan Indonesia tidak boleh hanya menjadi bagian dari perubahan. Mereka harus menjadi pengarah perubahan, yang menentukan arah, merancang sistem, dan memimpin transformasi.

Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi dari sejauh mana ia mampu memberikan ruang yang adil bagi seluruh warganya, termasuk perempuan.

Lebih dari satu abad lalu, Kartini mempertanyakan mengapa perempuan tidak diberi kesempatan. Hari ini, pertanyaan kita harus lebih maju: bagaimana memastikan perempuan memimpin masa depan?

Sejarah telah memberi kita fondasi. Data telah memberi kita arah. Pengalaman telah memberi kita pelajaran. Kini, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Dan di situlah peran kita sebagai pendidik, pemimpin, ibu, dan bagian dari gerakan perempuan, menjadi sangat menentukan.

Penulis adalah pendidik, pemimpin organisasi, dan praktisi kebijakan publik di bidang gender, kesehatan, dan pembangunan sosial, Dr. Hj. Farahdibha Tenrilemba, M.Kes

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)