RSUD dr Ben Mboy Ruteng Kekurangan Obat dan Alat Kesehatan Pascagempa

Rumah Sakit Lapangan yang didirikan Kementerian Kesehatan. Foto: dok. Kemenkes.

RSUD dr Ben Mboy Ruteng Kekurangan Obat dan Alat Kesehatan Pascagempa

Media Indonesia • 20 August 2026 14:10

Manggarai: Keterbatasan stok obat dan alat kesehatan membuat penanganan korban gempa di RSUD dr Ben Mboy Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlangsung dengan fasilitas terbatas. Rumah sakit juga memindahkan puluhan pasien ke tenda darurat setelah bangunan utama, terutama lantai dua dan tiga, mengalami kerusakan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Humas RSUD dr Ben Mboy Ruteng, Yohana RD Mari, mengatakan kerusakan terjadi pada sejumlah bagian bangunan, mulai dari dinding, tangga, hingga akses menuju lantai dua dan tiga. Beberapa bagian bangunan bahkan mengalami kerusakan hingga ambruk.

Kondisi tersebut membuat pihak rumah sakit tidak menempatkan pasien di sejumlah ruangan yang masih dinilai rawan. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pagi, sebanyak 35 pasien menjalani perawatan di tenda darurat. Mereka terdiri atas korban gempa, pasien Trias IGD, pasien ruang bedah, dan pasien penyakit dalam.

Sementara itu, pasien ICU, NICU, pascaoperasi, dan ibu bersalin ditempatkan di gedung lama berlantai satu yang dinilai lebih aman. Meski menghadapi keterbatasan fasilitas dan persediaan medis yang mulai menipis, pelayanan kesehatan tetap berlangsung.
 


Visite dokter spesialis, tindakan operasi, cuci darah, hingga pelayanan poliklinik masih dilakukan. Rumah sakit juga memindahkan alat rontgen ke tenda darurat untuk menjaga pelayanan pemeriksaan pasien tetap berjalan.

Pascagempa, RSUD dr. Ben Mboy menerima 28 pasien rujukan dari sejumlah fasilitas kesehatan. Pasien tersebut berasal antara lain dari Puskesmas Reo, Dampek, Wae Ri'i, Mano, dan Pagal. Sebagian besar pasien rujukan mengalami patah tulang setelah tertimpa reruntuhan bangunan.

Penanganan operasi juga tetap dilakukan sejak hari pertama gempa. Rumah sakit melaksanakan operasi sesar atau sectio caesarea (SC) darurat bagi pasien yang membutuhkan tindakan tersebut.

Memasuki hari kedua dan ketiga, dukungan dokter spesialis ortopedi memungkinkan rumah sakit melakukan operasi tulang terhadap korban yang mengalami cedera akibat reruntuhan. Sebagian tindakan operasi kemudian dipusatkan di Rumah Sakit Lapangan yang didirikan di Stadion Golodukal.


Tenda khusus ruang operasi di RS Lapangan NTT. Foto: dok. Kemenkes.


Butuh Obat Antinyeri dan Alat Kesehatan

Di tengah kebutuhan penanganan korban yang masih tinggi, persediaan medis menjadi salah satu kendala di rumah sakit. RSUD dr Ben Mboy membutuhkan tambahan obat antinyeri dan sejumlah alat kesehatan dasar.

Kondisi tenda darurat juga menghadirkan tantangan bagi pasien dan tenaga kesehatan. Suhu dingin membuat kebutuhan perlengkapan tambahan, terutama selimut, semakin diperlukan.

“Kondisi sangat tidak kondusif di tenda. Kami sangat membutuhkan selimut untuk pasien dan kursi, karena untuk sekadar duduk berjaga bagi perawat dan keluarga pasien saja tidak ada,” ujar Yohana, Kamis, 20 Agustus 2026.

“Selain itu, kami butuh alat kesehatan dasar dan obat antinyeri, karena mayoritas pasien rujukan datang dengan kondisi patah tulang akibat tertindih reruntuhan,” lanjutnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, tenaga kesehatan RSUD dr. Ben Mboy tetap memberikan pelayanan kepada pasien. Penanganan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi ruang, fasilitas, dan persediaan medis yang tersedia pascagempa. (Marianus Marselus)

(Whisnu M)