Ilustrasi ISPA. Foto: Freepik.
Pemprov DKI Tingkatkan Kapasitas Nakes untuk 'Berburu' ISPA
Anggi Tondi Martaon • 24 June 2026 10:37
Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan (nakes) di fasilitas pelayanan primer dan rujukan tingkat lanjutan. Hal itu dilakukan untuk menemukan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara cepat, tepat, dan menata laksana dengan tuntas.
"Dari berbagai kasus ISPA, pneumonia merupakan bentuk yang paling beresiko. Oleh sebab itu, saat ini, Dinas Kesehatan mengadakan peningkatan kapasitas petugas," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, dikutip dari Antara, Rabu, 24 Juni 2026.
Dalam seminar daring yang diadakan pada Rabu, dia mengingatkan ISPA yang berkembang menjadi pneumonia dapat menjadi beban, khususnya bagi rumah sakit. Data Kementerian Kesehatan pada 2023 menunjukkan, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga pada balita.
"Penemuan pneumonia ini kita jadikan indikator kinerja dan target renstra (rencana strategis), baik itu di Kementerian Kesehatan maupun di Dinas Kesehatan sendiri," ujar Sri.
Salah satu upaya peningkatan kapasitas nakes yang dilakukan yaitu menggelar seminar daring. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pakar kesehatan dari Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
.jpg)
Ilustrasi ISPA. Foto: Medcom.id.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan pada 2019 terkait belanja program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk penyakit pernapasan, pneumonia, menduduki posisi ke-16 dengan total Rp1,83 triliun. Jumlah tersebut di atas Tuberkulosis (TB).
Kemudian pada 2023, posisi tersebut naik menjadi peringkat 11. Total biaya mencapai Rp4,48 triliun.
Di sisi lain, cakupan penemuan kasus pneumonia pada balita pada 2025 secara nasional mencapai 60 persen, atau melebihi target, yaitu 40 persen. Sedangkan untuk wilayah Jakarta, cakupan penemuan kasus penyakit tersebut mencapai 139 persen.
Dari sisi pengobatan, DKI Jakarta mencatat angka 100 persen, yang berarti seluruh pasien mendapatkan pengobatan pneumonia, sedangkan kasus kematian balita di Jakarta tercatat nol persen.