Lestari Moerdijat: Skrining Kesehatan Jiwa Siswa Tak Cukup di Sekolah

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Foto Istimewa

Lestari Moerdijat: Skrining Kesehatan Jiwa Siswa Tak Cukup di Sekolah

Muhamad Marup • 10 March 2026 16:52

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan skrining atau deteksi dini masalah kesehatan mental pada siswa di sekolah. Guru akan dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada peserta didik.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mengapresiasi langkah tersebut tersebut. Menurutnya, pembekalan untuk meningkatkan kemampuan para guru melakukan skrining kesehatan mental siswa harus segera direalisasikan.

"Langkah kolaborasi sejumlah pihak terkait untuk mengatasi secara menyeluruh ancaman kesehatan jiwa siswa di sekolah harus mendapat dukungan bersama," kata Lestari, yang akrab disapa Ririe itu, Selasa, 10 Maret 2026.

Sebagai informasi, berdasarkan survei Kemenkes pada awal tahun 2026, tercatat sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.

Pada kelompok remaja usia 10-17 tahun, terdapat 34,9 persen yang mengalami masalah mental. Parahnya, hanya 2,6 persen yang mendapatkan penanganan profesional.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Foto Istimewa

Peran Orang Tua

Berdasarkan kondisi tersebut, ujar Rerie menekankan, kemampuan deteksi dini kesehatan mental peserta didik juga harus dimiliki para orang tua. Menurutnya, peran para orang tua yang berinteraksi dengan putra-putrinya di keluarga juga penting dalam melakukan skrining kesehatan jiwa anak-anaknya.

"Meningkatkan kemampuan para tenaga pengajar dan orang tua dalam melakukan deteksi dini kesehatan mental siswa merupakan fondasi dari upaya mengatasi ancaman gangguan jiwa generasi penerus bangsa," terangnya.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kemendikdasmen itu diikuti dengan kesiapan fasilitas kesehatan primer, seperti Puskesmas, dalam memberikan layanan kesehatan jiwa.

"Jangan sampai hasil deteksi dini kesehatan jiwa siswa yang dihasilkan sekolah tidak dapat ditindaklanjuti oleh fasilitas kesehatan terdekat," tegasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)