Green Mining Jadi Langkah Strategis Tambang Menuju Operasional Rendah Karbon

Ketua Komite Komunikasi dan Government Relations APBI-ICMA Aditya Pratama. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda.

Green Mining Jadi Langkah Strategis Tambang Menuju Operasional Rendah Karbon

Husen Miftahudin • 12 March 2026 11:51

Jakarta: Sektor pertambangan Indonesia kini tengah berada dalam pusaran transformasi menuju praktik green mining demi menjawab tantangan dekarbonisasi global dan memenuhi target penurunan emisi nasional sebesar 31,89 persen pada 2030.

Meskipun sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi dengan kontribusi sekitar 10,5 persen terhadap PDB, ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan armada operasional masih menjadi kendala utama khususnya dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca.

Ketua Komite Komunikasi dan Government Relations Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) Aditya Pratama menekankan peralihan tambang menuju ramah lingkungan bukan lagi sekedar pilihan melainkan keharusan strategis. Namun, ia turut menyoroti tantangan regulasi yang seringkali berubah sehingga perlu adanya dukungan serius dari pemerintah.

"Tentunya dengan yang sekarang ini, tantangannya regulasi dari pemerintah seringkali berubah. Dari stakeholder juga harus saling support dan memiliki visi misi sama. Jadi artinya dengan adanya tambang seperti membuka kota baru yang padat modal,” ungkap Adit dalam Media Gathering SUN bertajuk Akselerasi Green Mining Menuju Operasional Tambang Rendah Karbon, dikutip Kamis, 12 Maret 2026.

 

Baca juga: Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat Penggunaan Transportasi Hijau
 

Kenali karakter operasional tambang


Sejalan dengan hal tersebut, CEO SUN Energy Jefferson Kuesar menjelaskan strategi green mining yang efektif harus melihat karakter operasional tambang secara menyeluruh. Integrasi antara energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi sangat penting agar perusahaan tambang dapat menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi.

Jefferson menilai, pemanfaatan panel surya (PLTS) dan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Storage System) mampu mengurangi ketergantungan pada diesel sehingga memperkuat ketahanan pasokan energi di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.

"Kontribusi tambang terhadap PDB memang besar, tapi pemakaian listrik dan dieselnya juga nomor satu. Melalui elektrifikasi kendaraan dan penggunaan PLTS, kita bisa menghemat penggunaan bahan bakar fosil hingga 80 persen," kata dia.


(
Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
 

Pecut elektrifikasi armada operasional


Selain aspek pembangkit listrik, elektrifikasi armada operasional juga menjadi pilar krusial dalam mereduksi jejak karbon di area tambang. CEO SUN Mobility Karina Darmawan mengungkapkan elektrifikasi armada operasional dan transisi menuju kendaraan listrik harus disesuaikan dengan jenis armada, rute, hingga kesiapan infrastruktur pengisian daya.

"Elektrifikasi armada perlu dipandang sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih menyeluruh. Implementasinya harus disesuaikan dengan karakteristik tambang mulai dari jenis armada, rute operasional intensitas penggunaan hingga kesiapan infrastruktur," jelas dia.

Karina menambahkan, jika dirancang dengan tepat elektrifikasi tidak hanya membantu perusahaan tambang menekan emisi, tetapi juga meningkatkan biaya operasional secara signifikan. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)