Seniman, Jay Subyakto dalam program Q&A Metro TV, Minggu, 20 September 2026, pukul 21.05 WIB. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Jay Subyakto, Proses Kreatif Seniman 'Hitam Putih'
Muhamad Marup • 21 September 2026 18:15
Jakarta: Seniman, Jay Subyakto, identik dengan fesyen hitam putih yang selalu ia kenakan. Atas penampilannya, ia juga dinobatkan sebagai seniman paling stylish pada tahun 2025 dari Tatler Asia untuk kategori Asia's Most Stylish Indonesia.
"title-nya sih terlalu berat banget. Saya enggak nyangka gitu ya bisa masuk, tiba-tiba dipilih," ujar Jay, dalam program Q&A Metro TV, Minggu, 20 September 2026, pukul 21.05 WIB.
Ia mengaku, tidak ada yang pertimbangan khusus ketika ia memilih dan mengenakan pakaian. Terkait identitas yang lekat dengan warna hitam putih, Jay merasa dirinya kurang cocok untuk mengenakan warna-warna yang lebih cerah.
"Saya menganggap bahwa saya tidak cocok pakai warna merah, warna kuning," jelasnya.
Jay juga merasa, ia merasa sulit mengenakan pakaian formal. Ia lebih suka mengenakan jaket dan pakaian-pakaian yang simpel.
Meski begitu, ketika membuat suatu karya ia memisahkan kepribadiannya. Warna hitam putih tidak jadi warna dominan di setiap karyanya.
"Dalam berpakaian mungkin lebih untuk kepraktisan, tapi kalau lagi membuat sesuatu yang karya itu pasti harus berwarna, karena untuk banyak orang gitu ya," katanya.
Jay mengungkapkan, ketimbang pakaian, rambut adalah bagian yang sering diperhatikan untuk penampilan. Ia menceritakan identitas rambut panjang mulai digunakan ketika berkuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia.
"Jadi memang (rambut) perawatannya harus extra lebih rajin lah," terangnya.
.jpg)
Seniman, Jay Subyakto dalam saat sesi pemotretan. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Proses Kreatif
Terkait proses kreatif, Jay mengungkapkan, menghadirkan sesuatu yang baru merupakan filosofinya dalam berkarya. Untuk menambah referensi, ia bahkan mencoba melakukan berbagai aktivitas seperti melihat pameran lukisan atau mendaki gunung."Dari situ justru dapat ide-ide yang orisinal, dan juga dari pengalaman pribadi, karena buat saya itu yang penting," ucapnya.
Ia juga menyoroti Artificial Intelligence (AI) yang telah masuk ke seluruh aktivitas, termasuk seni. Menurutnya, AI yang ia sebut sebagai Akal Imitasi menjadi tantangan tersendiri dalam proses kreatif para seniman.
"Apalagi zaman sekarang, orang kan dulu selalu lihat referensi, sekarang lebih bahaya lagi ada akal imitasi atau AI," tuturnya.
Ia tidak membenci kehadiran AI dalam seni sebab menurutnya AI hanya alat. Hanya saja, saat ini AI tidak sekadar sebagai referensi, tapi juga bisa membuat sesuatu.
AI sebagai referensi, lanjut Jay, justru dapat membantu para seniman. Menurutnya, seniman harus lebih terpacu untuk membuat sesuatu yang otentik seiring kehadiran AI.
"Sebenarnya ini memacu kita untuk jangan bikin yang pernah udah dibikin. Karena itu semua sudah dirangkum oleh AI," ungkapnya.
Baca Juga :
Hitam Putih Jay Subyakto
Ia yang kala itu menyenangi dunia seni akhirnya memilih jalan tengah. Menurutnya, jurusan arsitektur dapat mewadahi dua kebutuhan tersebut.
"Akhirnya ya sudah, saya harus masuk teknik. Dan karena saya senang gambar, saya senang bangunan, akhirnya saya pilih arsitektur," paparnya.
Seiring berjalannya waktu, ia mulai mencintai ilmu arsitektur. Lulusan Arsitektur Universitas Indonesia itu juga terbantu dengan keilmuan yang dipelajari ketika kuliah.
Jay menilai, arsitektur mengajarkan berbagai macam pengetahuan yang membantunya dalam berkarya. Menurutnya, arsitektur tidak hanya ibu dari segala ilmu, tapi juga mengajarkan untuk memperhatikan manusia dalam setiap karya.
"Karena arsitektur itu harus menyehatkan warganya. Dari bikin rumah, sampai merancang kota. Jadi sebuah kota itu bisa dibilang sehat kalau memang dirancang oleh arsitek yang benar," tutupnya.