Yen Jepang Menguat, Investor Tinggalkan Dolar AS

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Yen Jepang Menguat, Investor Tinggalkan Dolar AS

Ade Hapsari Lestarini • 23 October 2026 08:23

New York: Dolar AS melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.

Kondisi ini mendorong investor institusional untuk mengalihkan dana ke instrumen yang lebih likuid serta mata uang selain dolar AS. Yen Jepang, yang dianggap sebagai aset aman, mengalami peningkatan permintaan dan naik ke level tertinggi dalam lima minggu terhadap dolar AS.

Melansir Investing, Jumat, 23 Oktober 2026, para pelaku pasar mata uang juga tengah bersiap menyambut keputusan suku bunga yang akan diumumkan pekan depan oleh Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank Sentral Jepang (BOJ).

Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang Negeri Paman Sam tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,2 persen ke level 101,61.
 

Investor AS beralih ke aset aman


Mengingat kalender ekonomi AS yang minim agenda pekan ini dan The Fed yang sedang berada dalam periode blackout (masa tenang sebelum rapat kebijakan), pergerakan dolar AS lebih banyak dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak, pasar obligasi, dan dinamika di Wall Street.

Jumat menjadi sesi yang mencerminkan sikap penghindaran risiko (risk-off), yakni investor melepas saham-saham sektor teknologi dan layanan komunikasi yang berorientasi pada pertumbuhan tinggi, lalu beralih ke sektor-sektor defensif serta obligasi pemerintah AS (US Treasuries).

Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terkait besarnya utang yang diterbitkan oleh berbagai perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI mereka. Meta Platforms, salah satu perusahaan besar di sektor AI, dalam laporan kuartalan terbarunya mengindikasikan kenaikan tipis pada proyeksi belanja modal, sekaligus mengumumkan penerbitan kelas saham baru tanpa hak suara guna menggalang modal bagi ambisi AI mereka.

Di pasar mata uang, dolar AS, yang sangat sensitif terhadap kekhawatiran seputar belanja modal, ditinggalkan oleh para pelaku pasar yang lebih memilih keamanan yen Jepang.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

Kini, perhatian tertuju pada laporan kuartalan dari perusahaan-perusahaan besar lainnya di sektor AI yang akan dirilis pekan depan, serta keputusan suku bunga The Fed pada Oktober. Federal Open Market Committee (FOMC) diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga di level saat ini, dan pasar akan mencermati konferensi pers yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed.

"Warsh kemungkinan akan mengisyaratkan data inflasi terkini memperkuat ekspektasi dari pertemuan September, yakni pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan seiring berjalannya waktu," ujar para analis Deutsche Bank yang dipimpin oleh Matthew Luzzetti.

"Namun, tidak mengambil tindakan pada Oktober memberikan lebih banyak waktu bagi para pejabat untuk menilai tren dalam data tersebut. Menyusul konferensi pers Juli, yang memicu kekhawatiran mengenai komitmen The Fed terhadap stabilitas harga, Warsh tentu ingin menghindari kesan apa pun The Fed enggan mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi inflasi yang sulit turun," tambah mereka.
 

Yen menguat, penembusan teknikal memicu aksi lepas posisi dolar


Yen Jepang muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan dari pelemahan dolar. Mata uang ini berhasil keluar dari pola konsolidasi Oktober dan memicu aksi penutupan posisi jual (short-covering). Yen melonjak ke level 156,80 per dolar, posisi tertinggi sejak 18 September.

Meskipun pasar uang telah sepenuhnya mengantisipasi Bank of Japan (BOJ) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang, para investor kini mencermati proyeksi inflasi terbaru dari Gubernur Kazuo Ueda. Pasar swap semakin mengantisipasi kenaikan suku bunga berikutnya oleh BOJ pada awal tahun depan.

Kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai kemungkinan intervensi mata uang oleh otoritas Jepang, di sekitar level 158 untuk yen, membuat para pedagang enggan untuk kembali membangun posisi beli (long) dolar secara agresif.

(Ade Hapsari Lestarini)