Ilustrasi. Foto: Freepik.
Imbal Hasil Obligasi Melonjak, Yen Melemah
Eko Nordiansyah • 18 October 2026 10:40
Tokyo: Laporan riset UBS menyebut, pembalikan besar-besaran dalam yen carry trade (strategi investasi dengan meminjam dalam mata uang yen) dinilai sangat kecil kemungkinannya terjadi, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah Jepang melonjak.
Dalam laporan tertanggal 14 Oktober dikutip dari Investing, Minggu 18 Oktober 2026, analis UBS menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai pembubaran investasi yang didanai oleh yen telah meningkat menyusul aksi jual tajam pada obligasi pemerintah Jepang.
Namun, para ahli strategi suku bunga dan valuta asing di bank tersebut menilai kemungkinan terjadinya pembalikan besar sangatlah rendah. Mereka berpendapat bahwa strategi ini tetap menarik meskipun biaya pinjaman di Jepang meningkat.
Yen carry trade melibatkan peminjaman dalam mata uang Jepang, yang memiliki suku bunga relatif rendah, untuk kemudian diinvestasikan ke dalam aset-aset dengan imbal hasil lebih tinggi di luar negeri. Pembalikan strategi ini dapat memaksa investor untuk menjual aset asing mereka dan membeli kembali yen, yang berpotensi mengganggu pasar global.
UBS mencatat bahwa imbal hasil obligasi Jepang telah naik sekitar 140 basis poin dalam dua bulan terakhir, yang mencerminkan tekanan yang lebih luas pada pasar utang pemerintah.
Kendati demikian, imbal hasil di tingkat global juga turut meningkat, sehingga selisih suku bunga yang menjadi landasan strategi carry trade tetap terjaga.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Yen diprediksi tetap melemah
Bank tersebut memperkirakan yen akan tetap lemah, sementara tim makroekonomi Jepang mereka memprediksi suku bunga Bank of Japan akan mencapai puncaknya di kisaran dua persen dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.Angka ini berbeda dengan ekspektasi pasar yang mengantisipasi pengetatan kebijakan lebih lanjut.
UBS juga menelaah pasar negara berkembang (emerging markets) mana saja yang mungkin mengalami gangguan jika investor Jepang mulai menarik kembali modal mereka ke dalam negeri.
Uni Emirat Arab, Singapura, Australia, Afrika Selatan, dan India memiliki tingkat kepemilikan ekuitas oleh investor Jepang yang relatif tinggi dibandingkan dengan kapitalisasi pasar mereka, sehingga negara-negara tersebut berpotensi terpapar risiko perubahan arus investasi.
Secara historis, pasar ekuitas Korea dan Brasil sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB).
Namun, pasar ekuitas Afrika Selatan, Korea, dan Thailand cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik selama periode penguatan yen, yang mengindikasikan dampak yang tidak seragam di berbagai pasar.
Menurut para analis, saham sektor material juga secara historis diuntungkan oleh penguatan yen.
Terlepas dari risiko-risiko tersebut, UBS tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar ekuitas negara berkembang (emerging markets), dengan alasan pertumbuhan laba yang kuat serta valuasi yang lebih wajar setelah aksi jual pada bulan Juni-Juli.
Bank tersebut menyoroti Korea, Brasil, dan Tiongkok sebagai pasar pilihan utama, dengan argumen bahwa peningkatan laba perusahaan dapat mengimbangi risiko yang muncul akibat kondisi keuangan global yang lebih ketat.