Risiko Inflasi Ancam Stabilitas Ekonomi, Christine Lagarde Desak Disiplin Fiskal

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Foto: dok Xinhua.

Risiko Inflasi Ancam Stabilitas Ekonomi, Christine Lagarde Desak Disiplin Fiskal

Eko Nordiansyah • 18 October 2026 09:57

Bangkok: Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mendesak pemerintah berbagai negara untuk menjaga keuangan publik yang berkelanjutan. Ia memperingatkan bahwa meningkatnya utang dan risiko inflasi yang dipicu oleh sektor energi dapat mengancam stabilitas ekonomi.

Dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Thailand, Lagarde menyebut keberlanjutan fiskal sebagai fondasi krusial bagi stabilitas ekonomi yang lebih luas. Ia meminta pemerintah untuk mematuhi aturan fiskal, mengurangi utang yang berlebihan, serta meningkatkan efisiensi belanja publik guna membangun kembali bantalan keuangan.

Dikutip dari Investing, Minggu, 18 Oktober 2026, Lagarde juga mendesak para pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa langkah-langkah penanganan guncangan energi yang sedang berlangsung bersifat sementara dan tepat sasaran, agar tidak menciptakan tekanan fiskal jangka panjang yang baru.

Pernyataan ini disampaikan menyusul diskusi di antara para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dunia mengenai utang publik yang terus membengkak, ketegangan geopolitik, serta dampak ekonomi dari kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Lagarde menekankan bahwa memulihkan kerangka ekonomi internasional yang berlandaskan pada keterbukaan, prediktabilitas, dan aturan yang mapan akan mendukung perdagangan serta investasi global.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Dorong kerja sama internasional

Anggota Dewan Gubernur ECB, Olli Rehn, turut menyuarakan kekhawatiran serupa, seraya menekankan pentingnya kerja sama internasional di tengah fragmentasi ekonomi yang kian meningkat.

Mengenai zona euro, Lagarde menegaskan kembali penilaian ECB bahwa pertumbuhan ekonomi menghadapi risiko penurunan (downside risks), sementara risiko inflasi cenderung meningkat.

Ia memperingatkan bahwa guncangan energi terlalu signifikan untuk diabaikan, meskipun respons kebijakan moneter yang terukur tetap menjadi langkah yang tepat.

ECB telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini, yakni pada bulan Juni dan September, sebagai upaya para pembuat kebijakan untuk meredam tekanan inflasi.

Pasar secara luas memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, mencerminkan kekhawatiran bahwa tingginya biaya energi dapat menjaga inflasi tetap berada di atas target bank sentral.

Sinyal kenaikan suku bunga lanjutan

Anggota Dewan Gubernur ECB, Joachim Nagel, mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter lebih lanjut mungkin diperlukan, seraya mendukung pendekatan bank sentral yang memutuskan kebijakan berdasarkan setiap pertemuan.

Rehn menyatakan bahwa kebijakan moneter akan terus memprioritaskan stabilitas harga guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Lagarde juga mengungkapkan bahwa lebih dari 30 bank sentral telah menyatakan minat terhadap fasilitas perjanjian pembelian kembali (repo) yang ditingkatkan dari Eurosystem, yang dirancang untuk mendukung transmisi kebijakan moneter dan memperkuat peran internasional mata uang euro.

Keputusan ECB mendatang akan dicermati dengan saksama, seiring upaya para pembuat kebijakan dalam menyeimbangkan tekanan inflasi dengan prospek ekonomi yang melemah.

(Eko Nordiansyah)