Pergerakan Suku Bunga Dinilai Lebih Berpengaruh ke Ekonomi Dibandingkan Valuasi Saham

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Pergerakan Suku Bunga Dinilai Lebih Berpengaruh ke Ekonomi Dibandingkan Valuasi Saham

Eko Nordiansyah • 18 October 2026 08:23

New York: Para analis Citi mengungkapkan, suku bunga mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi dibandingkan terhadap valuasi pasar saham. Hal ini dikarenakan dorongan dari kecerdasan buatan (AI) serta pergeseran struktural dalam perilaku investor telah melemahkan hubungan tradisional antara imbal hasil obligasi (yield) dan ekuitas.

Keputusan alokasi tradisional antara saham dan obligasi kini sebagian telah dipengaruhi oleh fundamental yang didorong oleh AI serta perubahan dalam kepemilikan ekuitas, menurut para analis. Meskipun biaya pinjaman yang lebih tinggi tetap penting bagi prospek ekonomi, dampaknya terhadap valuasi pasar saham dan arus modal antaraset telah berkurang seiring berjalannya waktu.

Dikutip dari Investing, Minggu, 18 Oktober 2026, model nilai wajar (fair value) milik Citi, yang menggunakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebagai acuan dan menyertakan penyesuaian makroekonomi, menempatkan kisaran nilai wajar S&P 500 di angka 17,1 hingga 22,1 kali laba.

Saat ini, indeks tersebut diperdagangkan pada level 22,4 kali laba, atau di atas kisaran tersebut. Menurut para analis, hal ini menunjukkan bahwa valuasi yang ada mencerminkan sentimen yang terlalu optimistis serta posisi investor yang cenderung lengah (complacent).


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Perbedaan kinerja antar-sektor saham

Citi menjelaskan, saham sektor siklikal dan defensif telah mengalami penurunan sejak akhir Agustus sementara saham sektor pertumbuhan (growth stocks) terbukti lebih tangguh berkat ekspektasi pertumbuhan laba yang berkelanjutan dari sektor AI.

Indikator ekonomi yang beragam menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini mungkin sebagian mencerminkan ekspektasi penerbitan utang pemerintah tambahan, bukan sekadar tanda ekonomi yang mengalami overheating (terlalu panas).

Jika kenaikan suku bunga terutama didorong oleh peningkatan pasokan obligasi, investor mungkin akan menuntut tingkat valuasi yang berbeda sebelum mengalihkan modal dari ekuitas ke instrumen pendapatan tetap (fixed income), pungkas para analis. 

Perubahan struktural arus investasi menopang pasar ekuitas

Peralihan dari program pensiun dengan manfaat pasti (defined-benefit) ke program dengan iuran pasti (defined-contribution), dana investasi berbasis tanggal target (target-date funds) yang didominasi ekuitas serta meningkatnya investasi asing di pasar saham telah melemahkan hubungan tradisional antara valuasi relatif saham dan obligasi.

Dengan demikian, budaya investasi ekuitas yang telah mengakar kuat mungkin akan terus menopang pasar, meskipun valuasi saat ini tergolong tinggi. Namun, Citi menyatakan bahwa tren ini memunculkan satu pertanyaan krusial: siapa yang akan menjadi sumber gelombang permintaan ekuitas berikutnya?

(Eko Nordiansyah)