BKKBN Dorong Keterlibatan Laki-Laki dalam KB

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji. Foto: Dok. Antara.

BKKBN Dorong Keterlibatan Laki-Laki dalam KB

Fachri Audhia Hafiez • 14 October 2026 21:10

Jakarta: Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya mengubah persepsi masyarakat yang selama ini menganggap penggunaan alat kontrasepsi hanya menjadi beban kaum perempuan. Keterlibatan aktif laki-laki dinilai lebih penting.

"Urusan KB adalah urusan perempuan. Ini yang mau kita ubah, bahwa keluarga berencana itu urusan bersama," kata Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji saat menerima kunjungan Media Indonesia di kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
 


Wihaji menjelaskan, keterlibatan aktif laki-laki sangat diperlukan untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi pasangan dalam menentukan metode kontrasepsi yang sesuai. Selama ini pilihan metode kontrasepsi bagi perempuan cukup beragam seperti pil, suntik, IUD, implan, hingga tubektomi, sedangkan pilihan untuk laki-laki masih terbatas pada kondom dan vasektomi.

Padahal, tidak semua metode kontrasepsi cocok digunakan oleh perempuan sehingga pasangan suami istri perlu mendiskusikannya bersama. "Tidak hanya perempuan dijadikan objek, tetapi semuanya bisa. Karena faktanya ada juga beberapa metode kontrasepsi yang tidak cocok bagi perempuan," ujar Wihaji.

Ia menegaskan, peningkatan partisipasi laki-laki dalam program KB perlu didorong melalui edukasi yang masif. Khusus metode vasektomi, Wihaji mengingatkan pentingnya mempertimbangkan kesiapan pasangan, seperti faktor usia, jumlah anak, serta pemahaman atas konsekuensi medisnya.

Wihaji menerangkan bahwa program KB tidak sekadar mengendalikan angka kelahiran, melainkan juga menopang kesejahteraan keluarga, kesehatan mental, hingga kemampuan orang tua dalam mengasuh anak. Perencanaan jarak kehamilan memberi ruang bagi orang tua untuk mencurahkan perhatian secara optimal sekaligus menyesuaikan kondisi finansial keluarga.


Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji. Foto: Dok. Antara.

"Kalau kita KB, maka kita bisa mengatur kesehatan kita dan mengendalikan angka kelahiran sehingga ketika diatur dengan baik, pola asuh yang kita berikan kepada anak bisa terukur," kata Wihaji.

Terkait indikator keberhasilan, Wihaji menyebut angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia saat ini berada di level 2,1 yang dinilainya sudah sesuai target. Namun, edukasi masyarakat mengenai variasi metode kontrasepsi harus terus diperkuat.

Dukungan serupa disampaikan General Manager Sales and Marketing Media Indonesia Ramma Kamil. Ia menilai keterlibatan laki-laki dalam program KB merupakan isu krusial yang membutuhkan perhatian luas dari publik.

"KB bukan hanya untuk perempuan saja, tapi untuk lelaki pun juga harus," ujar Ramma.

Ramma menekankan pentingnya sosialisasi KB yang berkelanjutan agar para suami tergerak untuk ikut mengatur kehamilan, merencanakan jarak kelahiran secara aman, serta aktif menjaga kesehatan reproduksi. Lewat edukasi konsisten, perencanaan keluarga diharapkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab bersama demi terwujudnya keluarga sehat dan sejahtera.

(Fachri Audhia Hafiez)