116,2 Hektare Kawasan Hutan di Palolo Sigi Terdampak Karhutla

Ilustrasi: Hutan di wilayah Palolo, Kabupaten Sigi terbakar. Antara/Anas Masa

116,2 Hektare Kawasan Hutan di Palolo Sigi Terdampak Karhutla

Silvana Febiari • 1 November 2026 16:38

Sigi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat seluas 116,2 hektare kawasan hutan di Desa Berdikari terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemadaman karhutla di gunung Ranindi Palolo itu menghabiskan waktu selama 10 hari.

"Alhamdulillah, karhutla di Desa Berdikari, Kecamatan Palolo sudah dapat ditangani dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah desa dan masyarakat setempat. Saat ini tim gabungan masih tetap melakukan pemantauan perkembangan situasi di kawasan tersebut," kata Kepala Bidang Bencana BPBD Kabupaten Sigi Ahmad Yani, dikutip dari Antara, Minggu, 1 November 2026. 

Berdasarkan data pemetaan, total luasan lahan yang terdampak terbagi ke dalam dua titik utama wilayah penanganan karhutla di Palolo. "Ada dua titik karhutla di Desa Berdikari terdiri atas kawasan pertama seluas 75,8 hektare dan titik lainnya mencakup 40,4 hektare," ucapnya.


Menurut dia, seluruh tim gabungan sudah turun ke kantor desa untuk melakukan apel tanda operasi penanganan karhutla di Palolo sudah berakhir. "Untuk selanjutnya tim yang terlibat ini akan tetap melakukan koordinasi dan pemantauan titik api kepada masyarakat, sehingga jika ada lagi titik api, bisa segera ditangani," sebutnya.


Tim gabungan saat melakukan apel usai menyelesaikan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Desa Berdikari Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu, 1 November 2026. ANTARA/HO-BPBD Sigi


Selama proses penanganan, sebanyak 151 personel gabungan dan masyarakat terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di Palolo.

Tim gabungan itu terdiri atas Brimob Polda Sulteng, Ditsamapta Polda Sulteng, Satsamapta Polres Sigi, Polsek Palolo, Koramil Palolo, BPBD Sigi, Manggala Agni, Pemerintah Kecamatan Palolo, Pemerintah Desa Berdikari, Kelompok Pecinta Alam (KPA), serta masyarakat Desa Berdikari.

(Silvana Febiari)