Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem sekaligus Ketua APN Amelia Anggraeni. Foto: Istimewa.
APN Woman’s Writing Clinic: Perempuan Menulis, Agensi Strategis
Anggi Tondi Martaon • 16 October 2026 19:14
Jakarta: Akademi Perempuan NasDem (APN) menggelar APN Woman’s Writing Clinic Perempuan Menulis, Agensi Strategis. Kegiatan tersebut merupakan pengembangan kapasitas perempuan dalam membaca persoalan sosial dan mengolahnya menjadi gagasan serta tulisan yang berorientasi pada perubahan.
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem sekaligus Ketua APN Amelia Anggraeni menyampaikan, APN meneladani R.A. Kartini yang menunjukkan bagaimana pemikirannya mengubah keadaan bahkan melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menyampaikan kegelisahan, pemikiran, dan harapannya tentang pendidikan, kehidupan perempuan, serta masyarakat yang lebih adil.
“Gagasannya terus dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya hingga kini,” kata Amelia melalui keterangan tertulis, Jumat, 16 Oktober 2026.
Semangat Kartini masih relevan dengan tantangan perempuan hari ini berupa ketimpangan pembagian kerja perawatan, terbatasnya kesempatan ekonomi, kekerasan berbasis gender, hingga rendahnya keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan, membutuhkan lebih banyak suara dan perspektif perempuan di ruang publik.
Menulis dinilai menjadi salah satu bentuk soft power. Sebab, dapat memengaruhi cara masyarakat memahami persoalan, membangun percakapan publik, dan mendorong perubahan tanpa harus selalu bertumpu pada kekuasaan formal.
“Perempuan tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk memimpin perubahan. Melalui pengetahuan, gagasan, dan tulisan, perempuan dapat membangun kesadaran serta memengaruhi arah kebijakan dan kehidupan masyarakat,” kata Pengarah APN sekaligus Ketua Bidang Migran DPP Partai NasDem Eva Sundari.
Pada sesi Pra-Clinic, Eva Sundari akan menjadi narasumber dengan moderator Arimbi Heroeputri, Komisioner Komnas Perempuan periode 2007–2014. Pengantar kegiatan disampaikan oleh Amelia Anggraeni.
Peserta diajak memahami Feminisme Pancasila sebagai lensa untuk membaca realitas sosial dengan menghubungkan pengalaman perempuan, struktur ketimpangan, relasi kuasa, nilai kemanusiaan, dan cita-cita keadilan sosial.
Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan konsep. Peserta juga diajak membaca persoalan secara kritis: siapa yang terdampak, apa penyebab strukturalnya, bagaimana ketimpangan dipertahankan, dan perubahan apa yang perlu diperjuangkan.
Pendekatan ini diharapkan menggeser cara pandang dari menyalahkan individu menuju pemahaman mengenai pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan kesetaraan, termasuk melalui pembagian tanggung jawab perawatan yang lebih adil, kebijakan yang responsif gender, dan ruang partisipasi yang setara.
Pra-Clinic pada 16 Oktober menjadi fondasi perspektif dan penyiapan gagasan. Writing Clinic pada 22 Oktober berfokus pada teknik menulis opini dan op-ed, penguatan argumen, penggunaan fakta dan data, serta penyusunan draf tulisan. Selanjutnya, Post-Clinic pada 29 Oktober hingga 19 November diarahkan pada penyuntingan, finalisasi, dan pengembangan peluang publikasi melalui media.
Melalui proses tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan menulis, tetapi juga mengembangkan agensi untuk mendefinisikan persoalan publik, menyampaikan posisi berdasarkan bukti, menawarkan solusi, dan berkontribusi dalam percakapan mengenai masa depan Indonesia.
Program ini sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya jejaring penulis perempuan yang mampu mengangkat pengalaman dan pengetahuan dari berbagai latar belakang menjadi gagasan yang relevan bagi masyarakat.