Larangan Hijab di Sekolah Picu Demonstrasi di Azerbaijan

Siswa berhijab di Azerbaijan yang dilarang masuk kelas. Foto: BBC

Larangan Hijab di Sekolah Picu Demonstrasi di Azerbaijan

Muhammad Reyhansyah • 16 October 2026 23:04

Baku: Penerapan aturan seragam sekolah yang membatasi pakaian keagamaan memicu demonstrasi di Azerbaijan setelah sejumlah sekolah menolak siswi yang mengenakan hijab. 


Perselisihan tersebut juga memicu ketegangan dengan Turki, sekutu dekat Azerbaijan, yang mengecam pembatasan itu. Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, seorang siswi remaja berjilbab biru tua terlihat mempertanyakan keputusan petugas sekolah yang melarangnya masuk.

“Jadi, Anda mengatakan saya tidak boleh datang ke sekolah?” katanya, dikutip dari BBC, Jumat, 16 Oktober 2026. 

Sekelompok siswi berhijab yang berdiri di belakangnya terdengar memberikan dukungan.

“Mengapa saya harus meninggalkan agama saya?” lanjutnya.

Pada Senin, Kementerian Pendidikan Azerbaijan mulai menerapkan aturan seragam baru yang berujung pada penolakan siswi berhijab di sejumlah sekolah. Demonstrasi kemudian berlangsung di luar sekolah negeri di ibu kota Baku serta sejumlah distrik selatan, termasuk Masally dan Jalilabad.

Aksi protes semacam ini tergolong jarang di Azerbaijan, negara penghasil minyak dan gas dengan populasi sekitar 10,5 juta jiwa.

Aturan Sekolah Picu Penahanan

Aturan yang disetujui pada 21 September melarang pakaian yang dianggap bertentangan dengan “prinsip sekularisme dalam pendidikan” di sekolah negeri. Ketentuan tersebut tidak secara eksplisit menyebut hijab. Pedoman serupa juga diperluas untuk guru pada 6 Oktober.

Dalam salah satu video, para siswi di luar Sekolah Nomor 69 di Balakhany, dekat Baku, membentangkan spanduk bertuliskan, “Hijab tidak menghalangi siapa pun untuk mendapatkan pendidikan.”

Pada Senin, Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan menyatakan 37 orang ditahan karena berupaya menghalangi penerapan aturan dan dinilai “sangat melanggar ketertiban umum”.

Shahiza Huseynova, seorang ibu yang ikut berunjuk rasa di luar sekolah di Distrik Mashtaga, Baku, dilaporkan ditahan pada Selasa.

Dalam wawancara dengan Meydan TV, saluran independen berbahasa Azerbaijan yang berbasis di Jerman, suaminya, Agha, mengatakan istrinya mendapat peringatan agar memilih antara mengirim anaknya ke sekolah tanpa hijab atau menghadapi hukuman penjara.

Sementara itu, teman-teman Ilkin Huseynov, seorang aktivis yang meluncurkan platform daring “Let Leyli Go to School” pada Selasa, kehilangan kontak dengannya.

Platform tersebut menyediakan pelajaran gratis dari guru sukarelawan bagi siswa yang dilarang mengikuti kelas.

Menurut seorang teman, Huseynov meninggalkan rumahnya di Baku bersama sejumlah pria tak dikenal sekitar pukul 16.00 pada Rabu. Ponselnya tidak lagi aktif sejak saat itu.

Otoritas belum memberikan komentar mengenai keberadaannya, tetapi teman-temannya menduga ia telah ditahan. Pada Kamis, halaman Instagram platform tersebut juga tidak dapat diakses.

Sejak demonstrasi dimulai, sejumlah pengguna melaporkan kesulitan mengakses Instagram dan TikTok tanpa menggunakan jaringan privat virtual (VPN).

Pemerintah Pertahankan Aturan Sekuler

Sebagian besar demonstrasi berlangsung di permukiman pinggiran Baku yang konservatif secara keagamaan serta distrik-distrik selatan dekat perbatasan Iran sepanjang 765 kilometer.

Pemerintah Azerbaijan telah lama mewaspadai pengaruh keagamaan dari Iran, negara yang memiliki lebih banyak penduduk etnis Azerbaijan dibandingkan Azerbaijan sendiri.

Pada malam 13 Oktober, Dinas Khusus Komunikasi dan Keamanan Informasi Azerbaijan menyatakan sebuah “kelompok peretas asing” menyerang lebih dari 100 situs web pemerintah. Kelompok pro-Iran yang menamakan diri 313 Team atau Cyber Islamic Resistance mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pejabat Azerbaijan membela aturan seragam baru itu. Anggota parlemen Nigar Arpadarai mengatakan kepada situs 1news.az bahwa anak-anak tidak memilih sendiri untuk mengenakan hijab, melainkan dipengaruhi keluarga mereka.

“Seorang anak tidak memiliki kebebasan untuk memilih agama. Itu merupakan hak orang dewasa yang diambil secara sadar,” katanya.

Azerbaijan secara konstitusional merupakan negara sekuler. Presiden Ilham Aliyev telah berkuasa sejak 2003 dan pemerintahannya dikenal tidak toleran terhadap perbedaan pendapat. Sejumlah politikus oposisi dan jurnalis independen dilaporkan berada di penjara.

Perselisihan Meluas ke Turki

Kontroversi hijab kini merembet ke Turki, sekutu terdekat Azerbaijan yang memberikan dukungan penting selama perang Azerbaijan melawan Armenia pada 2020 terkait Nagorno-Karabakh. Kedua negara kerap menggambarkan hubungan mereka sebagai “satu bangsa, dua negara”.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang dikenal sebagai Muslim taat, pernah menyampaikan keinginannya untuk membentuk “generasi yang saleh”.

Penasihat utama Erdogan, Oktay Saral, menyebut pembatasan hijab di Azerbaijan “tidak dapat diterima” dan mendesak Baku untuk membatalkan kebijakan tersebut.

“Kerudung bukanlah penghalang; itu merupakan bagian dari kewajiban iman seseorang!” tulis Saral di platform X.

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang berkuasa di Turki turut mengkritik kebijakan tersebut.

Demonstrasi kecil digelar di luar Kedutaan Azerbaijan di Ankara oleh gerakan Islamis Köklü De?i?im, yang memiliki hubungan dengan Hizb ut-Tahrir, serta di luar konsulat Azerbaijan di Istanbul oleh kelompok Islamis konservatif Özgür-Der.

Partai Azerbaijan Baru pimpinan Aliyev menuduh pejabat Turki menjalankan kampanye informasi yang “secara terbuka mencemarkan nama baik” Azerbaijan dan menyampaikan “tuduhan tanpa dasar”. 

Partai tersebut memperingatkan bahwa komentar Saral berisiko merusak hubungan bilateral dan meminta Turki tidak mencampuri urusan dalam negeri Azerbaijan.

Awal bulan ini, Aliyev sendiri mengatakan tidak seorang pun boleh “mencampuri cara hidup kami”.

Hubungan dengan Israel Jadi Sorotan

Di balik perselisihan itu, terdapat kemungkinan sumber ketegangan lain. Para demonstran di Turki mengaitkan aturan hijab dengan hubungan dekat Azerbaijan dan Israel. Israel memasok senjata kepada Baku dan membeli minyak Azerbaijan.

Hubungan Turki dengan Israel memburuk akibat perang di Gaza, sementara Azerbaijan berupaya mempertahankan hubungan dengan kedua negara.

Pada Kamis, Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan pidato dalam konferensi tingkat tinggi keamanan regional yang diselenggarakan Azerbaijan di Baku. Delegasi dari Turki, Iran, dan sejumlah negara lain dilaporkan meninggalkan ruangan ketika Herzog berpidato.

(Fajar Nugraha)