Rerie Soroti Peran Museum Bahari untuk Jaga Identitas Maritim

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat atau Rerie. Metro TV/Kautsar

Rerie Soroti Peran Museum Bahari untuk Jaga Identitas Maritim

Kautsar Widya Prabowo • 30 September 2026 18:28

Jakarta: Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat atau Rerie menyoroti kelayakan fasilitas museum bahari di Indonesia. Museum yang menyimpan berbagai artefak maritim harus mampu menggambarkan aktivitas nenek moyang bangsa Indonesia pada masanya.

"Bagaimana fasilitas museum-museum yang ada, yang menyimpan berbagai artefak maritim secara otentik ini, dapat kemudian menyajikannya sebagai sebuah 'dokumen material' yang mampu menggambarkan aktivitas nenek moyang kita pada masanya," kata Rerie dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertema Peringatan Hari Maritim Nasional 2026, Laut yang Menyatukan Indonesia: Menghidupkan Kesadaran Kebangsaan dari Museum Bahari, Rabu, 30 September 2026.

Rerie juga menyoroti persoalan standardisasi kelayakan fasilitas museum di Indonesia. Berdasarkan laporan statistik kebudayaan yang disampaikannya, terdapat 49,2 persen fasilitas museum yang belum memiliki standardisasi kelayakan.

"Ketiadaan standardisasi kelayakan pada 49,2 persen fasilitas museum di Indonesia. Nah, inilah yang tentu harus menjadi catatan kita semua," ujar Rerie.

Ilustrasi. Antara

Menurut Rerie, Indonesia telah memiliki sejumlah regulasi yang menjadi payung hukum dalam pelindungan dan pengelolaan museum, di antaranya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2022 sebagai aturan pelaksana dari PP Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.

Namun, Rerie mempertanyakan efektivitas penerapan regulasi tersebut. Termasuk dukungan anggaran pemerintah daerah untuk menjamin keberlangsungan operasional institusi sejarah maritim.

"Pertanyaannya, apakah kebijakan yang telah ditetapkan yang mewajibkan pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran khusus bagi kelangsungan operasional institusi sejarah maritim terlaksana? Sudah cukupkah? Apakah implementasinya dapat berjalan dengan baik?" tutur Rerie.



Rerie juga mendorong tata kelola kolaboratif dalam pengembangan museum bahari. Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan institusi pendidikan yang memiliki keahlian di bidang permuseuman maritim.

Dia menilai museum bahari memiliki peran penting dalam menjaga identitas Indonesia sebagai bangsa bahari. Pelestarian sejarah kemaritiman dinilai penting agar jejak peradaban maritim Indonesia tidak hilang.

"Keberadaan museum bahari mencerminkan jati diri masyarakat Indonesia sebagai entitas kebudayaan laut. Pengabaian terhadap institusi sejarah kelautan akan menghilangkan jejak peradaban maritim bangsa Indonesia," ujar Rerie.

(Achmad Zulfikar Fazli)