BGN Aktifkan SPPG di Wilayah Stunting Tinggi per 2 Oktober

Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Nabire Marsel Asyerem bersama pihak pemerintah Distrik Nabire saat meninjau salah satu SPPG yang beroperasi di Nabire, Selasa (1/9/2026). ANTARA/Ali Nur Ichsan

BGN Aktifkan SPPG di Wilayah Stunting Tinggi per 2 Oktober

Achmad Zulfikar Fazli • 1 October 2026 19:48

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) mengaktifkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi serta daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) per 2 Oktober 2026. SPPG tersebut akan diaktifkan di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota di wilayah timur Indonesia, sebagai upaya memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan aktivasi dilakukan dengan memprioritaskan SPPG yang memenuhi sejumlah persyaratan dan kesiapan untuk beroperasi.

"Pada Jumat, 2 Oktober ini, kami akan mengaktivasi SPPG yang siap beroperasi di wilayah 3T, wilayah yang stuntingnya tinggi, dan wilayah yang stuntingnya tinggi sekali. Kita mulai dari wilayah timur Indonesia," ujar Sudaryono di Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 1 Oktober 2026.

Sebanyak 480 SPPG yang akan diaktifkan terdiri atas 211 SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil. Aktivasi mencakup 16 provinsi, yaitu Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Aktivasi bakal dilakukan serentak di 16 provinsi. Sudaryono akan berada di Provinsi Maluku, sedangkan Wakil Kepala BGN, para deputi, dan pejabat eselon II ditugaskan di sejumlah provinsi lainnya guna memastikan proses aktivasi berjalan sesuai dengan tahapan yang telah ditetapkan.

Setelah aktivasi, ada sejumlah tahapan sebelum SPPG mulai memberikan layanan kepada penerima manfaat. Tahapan tersebut antara lain pelatihan bagi penjamah makanan serta penyiapan dan penetapan jumlah penerima manfaat secara bertahap sesuai dengan kesiapan masing-masing SPPG.

"Selanjutnya, setelah kita aktivasi, akan ada tahapan-tahapan, termasuk pelatihan. Penjamah makanan harus dilatih, termasuk juga nanti penerima manfaatnya dimulai dari sekian jumlah, jumlahnya makin ditambah, dan seterusnya," ujar Sudaryono.

Ilustrasi MBG. Foto: Dok. Metrotvnews.com.


SPPG yang telah diaktifkan dapat mulai beroperasi sekitar tiga hingga empat minggu setelah proses aktivasi. Namun, waktu tersebut tetap akan menyesuaikan dengan kesiapan masing-masing dapur dan pemenuhan seluruh tahapan yang diperlukan sebelum pelayanan MBG dimulai.

"Kami prediksi tahapan-tahapan ini akan langsung dimulai pada tanggal 2 itu, kemudian, dapur-dapur tersebut siap beroperasi pada tiga sampai empat minggu setelah dilakukan aktivasi pada tanggal 2 (Oktober),” kata Sudaryono.

Perluasan layanan MBG terus dilakukan bertahap setelah aktivasi pada 2 Oktober. BGN memprioritaskan wilayah 3T, daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi, serta wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan MBG, termasuk daerah yang berada jauh dari pusat pemerintahan.

“Kami prioritaskan di wilayah 3T, wilayah stunting tinggi, wilayah stunting tinggi sekali, dan wilayah-wilayah lain yang memang banyak sekali kami mendapatkan aduan. Sekolah-sekolah masih banyak yang belum mendapatkan pelayanan MBG, tetapi khususnya yang berada di daerah-daerah yang jauh dari ibu kota, dan ini akan kami sisir," ucap Sudaryono.

(Achmad Zulfikar Fazli)