Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat memberikan sambutan pada ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (10/10/2026). ANTARA/Rolandus Nampu
Dewan Pers Dorong Solidaritas Jurnalis ASEAN Hadapi Dominasi Platform Digital
Whisnu Mardiansyah • 10 October 2026 13:56
Badung: Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mendorong penguatan solidaritas jurnalis di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN untuk menghadapi perubahan teknologi dan dominasi platform digital dalam ekosistem informasi.
Dalam sambutannya pada ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu, 10 Oktober 2026, Komaruddin menyoroti keragaman negara-negara ASEAN dari sisi bahasa, budaya, sistem politik, sejarah, dan tradisi.
Meski memiliki latar belakang berbeda, negara-negara di kawasan tersebut menghadapi tantangan serupa dalam menjaga nilai publik jurnalisme di tengah perkembangan teknologi.
"Jurnalis Asia seharusnya tidak hanya menjadi konsumen dari perubahan teknologi; kita harus berpartisipasi dalam membentuk perannya. Kita memerlukan ekosistem digital di mana inovasi dan jurnalisme dapat koeksistensi, platform digital dapat makmur, tetapi kreator tidak dieksploitasi," ungkap Komaruddin seperti dilansir Antara.
Komaruddin menilai perkembangan platform digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Perubahan tersebut sekaligus memunculkan persoalan mengenai keberlanjutan ekonomi industri pers dan penghargaan terhadap karya jurnalistik.
Menurutnya, jurnalis perlu mengambil peran dalam menentukan arah perkembangan teknologi agar inovasi tetap sejalan dengan kepentingan publik dan penguatan demokrasi. Peran pers tidak sebatas memproduksi informasi, tetapi juga menjalankan fungsi pelayanan publik melalui kerja jurnalistik yang profesional.
"Mereka (jurnalis, red) turun ke lapangan, memverifikasi fakta, menyelidiki kekuasaan, menceritakan kisah, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin tidak akan didengar. Jurnalisme bukan sekadar profesi. Ini adalah layanan publik dan, dalam bentuk terbaiknya, merupakan pilar demokrasi," ungkapnya.
Ia menjelaskan platform digital membuka peluang distribusi karya jurnalistik kepada khalayak yang lebih luas. Namun, pemanfaatan konten melalui berbagai layanan digital juga memunculkan pertanyaan mengenai pembagian nilai ekonomi antara perusahaan teknologi, jurnalis, dan organisasi media yang menghasilkan informasi.
Persoalan tersebut turut berkaitan dengan perkembangan AI yang dapat memanfaatkan karya intelektual manusia, termasuk konten jurnalistik, untuk mengembangkan layanan dan menghasilkan informasi. Kondisi ini mendorong pembahasan mengenai penghargaan terhadap pencipta karya serta manfaat ekonomi yang muncul dari pemanfaatannya.
Komaruddin mempertanyakan kemungkinan pemberian bagian nilai ekonomi kepada jurnalis yang karyanya digunakan sebagai sumber pembelajaran sistem AI. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kepentingan bisnis perusahaan media, tetapi juga berkaitan dengan etika dan keberlanjutan jurnalisme sebagai salah satu pilar demokrasi.
Karena itu, ia mendorong terbentuknya ekosistem digital yang memungkinkan informasi beredar secara luas tanpa mengabaikan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual para penciptanya. Ia juga menekankan pentingnya memastikan perkembangan teknologi tetap mendukung demokrasi dan tidak melemahkan institusi yang menopangnya.

Para pemimpin redaksi media massa mengikuti ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era di The Patra Hotel, Bali. Foto: Istimewa.
Komaruddin menilai kerja sama ant jurnalis di kawasan Asia perlu diperkuat melalui pertukaran pengalaman dan dialog mengenai perubahan lanskap media. Solidaritas regional diperlukan agar kepentingan jurnalisme turut diperhitungkan dalam perkembangan teknologi yang semakin luas.
"Prinsip yang harus kita pertahankan itu sederhana: Mereka yang menciptakan nilai publik seharusnya mendapatkan bagian yang adil dari nilai yang mereka ciptakan. Oleh karena itu, forum ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar jurnalisme itu sendiri. Ini adalah percakapan tentang demokrasi, teknologi, ekonomi, etika, dan masa depan masyarakat kita," katanya.
Ia menegaskan forum tersebut tidak hanya membahas keberlangsungan industri pers, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara demokrasi, teknologi, ekonomi, etika, dan masa depan masyarakat.
Komaruddin berharap forum tersebut dapat mempererat solidaritas jurnalis ASEAN sekaligus mendorong pembentukan ekosistem digital yang menempatkan teknologi sebagai pendukung jurnalisme. Ia mengajak para peserta tidak berhenti pada pembahasan mengenai masa depan pers, tetapi turut mengambil peran dalam menentukan arah perkembangannya.