1,29 Juta Warga Jabar Terdampak Kekeringan Akibat Kemarau Panjang

Pembagian air bersih di Bandung. (Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan)

1,29 Juta Warga Jabar Terdampak Kekeringan Akibat Kemarau Panjang

Roni Kurniawan • 15 October 2026 14:10

Bandung: Sebanyak 1.294.655 jiwa atau 394.052 kepala keluarga (KK) di Jawa Barat terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino. Pemerintah telah menyalurkan 38,6 juta liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, kekeringan telah melanda 276 kecamatan yang tersebar di 840 desa dan kelurahan.

"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak, pemerintah bersama sejumlah instansi telah mendistribusikan 38.695.275 liter air ke berbagai daerah," ujar Teten saat dihubungi awak media, Kamis, 15 Oktober 2026.


Kabupaten Bekasi menjadi daerah dengan distribusi air bersih terbanyak, yakni mencapai 15.869.275 liter. Selanjutnya, Kabupaten Bogor menerima 7.615.000 liter, Kabupaten Ciamis 3.003.000 liter, dan Kabupaten Pangandaran sebanyak 2.393.000 liter.

Sementara itu, distribusi air bersih di Kabupaten Purwakarta mencapai 1.787.000 liter dan Kota Tasikmalaya sebanyak 1.404.000 liter. Penyaluran dilakukan untuk membantu warga yang kesulitan memperoleh air bersih akibat terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau.

"Distribusi air bersih menjadi salah satu upaya untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat selama curah hujan masih terbatas," kata Teten.


Ilustrasi kekeringan. Foto: Antara.


Saat ini, Jawa Barat mulai memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Berdasarkan prakiraan sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan mulai turun pada minggu ketiga Oktober 2026.

Hujan diprediksi datang dari wilayah selatan Jabar, kemudian meluas ke wilayah tengah hingga utara. Meski demikian, sejumlah daerah yang telah diguyur hujan belum dapat dipastikan sudah memasuki musim penghujan.

"Jadi, sekarang Jawa Barat berada dalam masa peralihan. Berdasarkan hasil sementara BMKG yang disampaikan kemarin, diprediksi pada minggu ketiga Oktober hujan mulai terjadi dari wilayah selatan, kemudian ke tengah hingga utara," beber Teten.

Teten menambahkan, prakiraan cuaca masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. Adapun puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada akhir 2026 hingga awal 2027.

"Prediksi ini akan terus berkembang seiring waktu. Nanti ada perkiraan tiga bulanan atau perkiraan bulanan, tergantung situasi yang terjadi," ungkap Teten.

(Silvana Febiari)