Desainer Australia, Shiva Yousefpour. Foto: Instagram @nationalwoolmuseum
Karya Fesyen Berkelanjutan Desainer Australia Padukan Teknik Tekstil Jepang
Muhamad Marup • 31 October 2026 21:19
Jakarta: Desainer Australia, Shiva Yousefpour, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan karya fesyen berkelanjutan melalui pemanfaatan pakaian bekas. Pendiri brand SHIYO tersebut mengolah pakaian yang sudah tidak digunakan menjadi busana baru dengan memadukan sejumlah teknik tekstil Jepang seperti teknik smocking, folding, dan sashiko.
Pendekatan tersebut ia ceritakan dalam acara Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan bersama Desainer Australia Shiva Yousefpour yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia dan RMIT Southeast Asia Hub, di Jakarta, Sabtu 31 Oktober 2026.
Dalam kunjungannya ke Indonesia, Shiva juga dijadwalkan menampilkan karya eksklusif di Jakarta Fashion Week 2027.
Teknik Tekstil Jepang
Eksplorasi teknik tekstil Jepang oleh Shiva berawal ketika ia mengerjakan koleksi kelulusannya. Saat itu, ia menerima sekotak kemeja formal pria berkualitas yang sudah tidak digunakan.Kemeja tersebut diberikan melalui sebuah program hibah agar dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk membuat karya. Shiva memutuskan menggunakan seluruh kemeja tersebut untuk koleksinya.
Ia ingin memberikan kehidupan baru pada pakaian yang sebelumnya tidak lagi digunakan. Namun, ia belum memiliki gambaran pasti mengenai bentuk busana yang akan dihasilkan.
.jpg)
Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan bersama Desainer Australia Shiva Yousefpour di World Trade Centre 2, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026. Foto: Siti Nahdia Usman
Ia kemudian mencoba menata kemeja pada manekin dengan berbagai cara. Salah satu model yang dicobanya adalah off-shoulder, tetapi hasilnya belum sesuai dengan keinginan.
Proses eksplorasi tersebut berlangsung selama tiga bulan dan melewati sejumlah percobaan. Shiva mengungkapkan bahwa dirinya sempat kesulitan menentukan bentuk busana karena belum mengetahui hasil akhir yang ingin dicapai.
"Saya tidak bisa membuat sketsa karena saya sendiri belum tahu akan seperti apa hasilnya. Saya mencoba berbagai cara dengan menata kemeja pada manekin," ujar Shiva.
Dalam proses tersebut, ia teringat pada teknik yang pernah dipelajarinya dari desainer Jepang-Australia bernama Akira. Teknik yang kemudian ia gunakan meliputi smocking, folding, dan sashiko.
Smocking merupakan teknik menghias kain dengan jahitan berulang yang menghasilkan kerutan sekaligus membentuk tekstur. Folding adalah teknik melipat kain untuk menciptakan bentuk dan detail pada busana. Sementara itu, sashiko merupakan teknik jahit tangan tradisional Jepang dengan pola jahitan berulang, salah satunya berbentuk silang.
Selain menerapkan ketiga teknik tersebut, Shiva juga menambahkan lipatan pada busana dan menggunakan pewarna alami. Ia berupaya mempertahankan bentuk kemeja secara utuh karena ingin memanfaatkan pakaian yang tersedia semaksimal mungkin.
Hasil akhirnya adalah berupa busana yang dapat dikenakan dengan dua cara, yakni dengan membalik bagian depan dan belakang. Karya tersebut juga mendapat respons positif dari mentornya karena berhasil menerapkan pendekatan zero-waste tanpa memotong material kemeja.
Raih Penghargaan
Sekitar satu bulan setelah kelulusannya, Shiva mengikuti Sustainable Fashion Prize dengan koleksi yang telah dibuat sebelumnya. Kompetisi tersebut diikuti mahasiswa internasional dari 17 negara.Ia kemudian keluar sebagai pemenangnya. Karya dari kemeja bekas itu kini masuk dalam koleksi Herman's di National Wool Museum, Melbourne, Australia.
Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan Shiva dalam mengembangkan karya fesyen dengan pendekatan upcycling. Ia kemudian melanjutkan eksplorasi melalui koleksi berikutnya yang juga memanfaatkan pakaian bekas.
Prinsip Zero-Waste
Setelah memenangkan Sustainable Fashion Pride dengan karya dari kemejanya, Shiva kemudian melanjutkan mencari material di Savers, salah satu toko sarang bekas besar di Australia. Ia memilih pakaian yang menurutnya memiliki potensi untuk diolah menjadi desain baru.Shiva mengatakan bahwa ia senantiasa menentukan material terlebih dahulu sebelum mengembangkan desain. Ia tidak selalu memulai dengan sketsa atau gambaran pasti mengenai bentuk akhir busana.
Koleksi keduanya juga menerapkan prinsip zero-waste. Shiva menyebut tidak menggunakan kain baru, melainkan memanfaatkan pakaian yang sebelumnya dimiliki orang lain dan sudah tidak mereka inginkan. Ia mengungkapkan kebanggaannya karena berhasil menghasilkan koleksi kedua dengan pendekatan tersebut.
"Koleksi kedua saya benar-benar zero-waste. Saya tidak menggunakan kain baru, hanya pakaian yang sudah dimiliki orang lain dan tidak mereka inginkan lagi," ungkapnya.
Shiva menjelaskan bahwa proses desainnya berkembang mengikuti material yang ditemukan. Sehingga, bentuk busana tidak harus ditentukan sejak awal pengerjaan.
"Saya memilih material terlebih dahulu, kemudian membiarkan desain berkembang selama proses pengerjaan. Saya tidak harus mengetahui seperti apa hasil akhirnya sejak awal," tuturnya.
Melalui SHIYO, Shiva kini berusaha untuk terus mengeksplorasi pemanfaatan pakaian bekas dan teknik tekstil, termasuk teknik Jepang yang ia pelajari dari desainer Akira.
Karya-karyanya juga akan diperkenalkan kepada publik Indonesia melalui partisipasinya di Jakarta Fashion Week 2027.
(Siti Nahdia Usman)