Di tengah lahan gersang akibat kemarau di Desa Nusa Jaya, Dompu, seorang perempuan menimba air dari sumur tua untuk memberi minum sapi dan pedet miliknya. ANTARA/Ady Ardiansah
Dua Kecamatan di Bima Masih Berstatus Siaga dan Awas Kekeringan
Silvana Febiari • 2 November 2026 07:25
Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kekeringan meteorologis di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini hanya tersisa di dua kecamatan di Kabupaten Bima. Kedua wilayah tersebut yakni Kecamatan Lambu dan Kecamatan Sape.
"Kekeringan meteorologis level siaga ada di Kecamatan Lambu, sedangkan status awas terletak di Kecamatan Sape," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana, dilansir Antara, Senin, 2 November 2026.
Fenomena hujan lokal yang terjadi sejak akhir Oktober 2026 hingga saat ini telah menyebabkan banyak daerah keluar dari status kekeringan meteorologis tersebut.
Baca Juga :
Hujan lokal yang turun merata secara sporadis di hampir seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat yang disebabkan oleh dinamika atmosfer. Kemunculan hujan lokal menjadi penanda periode pancaroba, yaitu peralihan musim kemarau ke musim penghujan.
Sepanjang dasarian III Oktober atau 21-31 Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB masih tergolong rendah. Angkanya berkisar 0 sampai 10 milimeter per dasarian.
Meski demikian, sebagian kecil wilayah tercatat mengalami hujan kategori menengah sebesar 51 hingga 150 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kotaraja (Montong Gading) Kabupaten Lombok Timur sebesar 104 milimeter dasarian.
Pada dasarian I November atau periode 1-10 November 2026, BMKG memperkirakan peluang curah hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian mencapai lebih dari 90 persen. Potensi tersebut diprakirakan terjadi di hampir seluruh wilayah Pulau Lombok, Sumbawa Barat, dan sebagian wilayah Sumbawa.

Peta peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Nusa Tenggara Barat. ANTARA/HO-BMKG
Sementara potensi hujan lebih dari 50 milimeter per dasarian dengan peluang 50 hingga lebih dari 90 persen diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Mataram, Narmada, Lingsar, Gunungsari, Kediri, Pringgarata, Mantang, Batukliang Utara, Kopang, dan Jonggat.
"Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak bencana hidrometeorologi," ungkap Nindya.
Berdasarkan laporan BMKG, fenomena El Nino yang menimbulkan kemarau panjang saat ini berada pada kategori sangat kuat. Indeks ENSO mencapai +3,05 derajat Celcius. El Nino diprediksi berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada fase positif dengan indeks +0,765. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga akhir 2026.