Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Foto: Antara Foto/M Agung Rajasa
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sekolah Garuda Buka Jalan Anak Daerah Mendunia
Gabriella Thesa Widiari • 5 October 2026 19:12
Jakarta: Pendidikan menjadi jalan paling masuk akal untuk mengubah nasib anak-anak bangsa dari berbagai daerah. Menyadari tingginya ketimpangan ekonomi, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama dua tahun terakhir terus memperluas akses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi.
Komitmen tersebut kini berwujud nyata melalui kehadiran SMA Unggul Garuda sebagai wadah belajar berstandar internasional yang tetap berakar pada nilai kebangsaan. Memasuki tahun kedua kepemimpinan, program ini mulai merangkul tunas-tunas bangsa dari ujung barat hingga timur Indonesia.
Gagasan besar tersebut diterjemahkan secara taktis oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto membagi kerangka kerja ini ke dalam dua jalur, yakni SMA Unggul Garuda Transformasi dan SMA Unggul Garuda Baru.
Sepanjang tahun 2026, sebanyak 47 instansi pendidikan resmi digandeng di bawah payung sekolah transformasi, sementara empat sekolah baru sukses beroperasi penuh. Alhasil, total 51 pusat keunggulan pendidikan bermutu tinggi kini berdiri kokoh dan tersebar di 20 provinsi serta 39 kabupaten dan kota.
Selaras dengan target Presiden, Menteri Brian menegaskan komitmen jajarannya untuk memacu jumlah tersebut hingga menyentuh 100 Sekolah Unggul Garuda pada 2029. Lompatan ambisius ini dipersiapkan secara matang sebagai landasan peningkat kualitas sumber daya manusia demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pemilihan titik lokasi pembangunan juga merefleksikan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan yang tidak berpusat di Jawa. Empat SMA Unggul Garuda Baru secara strategis didirikan di Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.
Dari segi kualitas, para peserta didik ditempa menggunakan kurikulum pengayaan global seperti International Baccalaureate Diploma Program (IBDP) yang dikawinkan dengan kurikulum nasional berbasis STEM. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti sistem sekolah berasrama guna mengoptimalkan pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.
.jpg)
Sejumlah siswa mengoperasikan alat penyiram tanaman otomatis di Sekolah Garuda Transformasi di SMAN 10 Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: ANTARA/ M Risyal Hidayat
Atmosfer pembelajaran dijaga melalui pembatasan kapasitas ketat, yakni maksimal 160 siswa per sekolah baru dengan rata-rata 20 siswa per kelas. Pendekatan yang jauh lebih personal ini diyakini mampu melahirkan proses transfer ilmu yang mendalam serta inklusif.
Bagi keluarga prasejahtera, pemerintah memberikan garansi berupa bantuan biaya pendidikan dalam skala besar melalui alokasi lebih dari 3.400 beasiswa penuh. Kuota tersebut terbagi atas 640 beasiswa untuk peserta didik di sekolah baru dan 2.798 beasiswa bagi siswa di sekolah transformasi.
Guna menjamin keadilan akses, pemanfaatan teknologi digital juga dilibatkan melalui portal resmi terpadu sebagai etalase informasi dan data sekolah. Selain itu, jadwal pendaftaran siswa baru sengaja dimajukan lebih awal agar anak-anak di daerah pelosok memiliki waktu leluasa untuk mempersiapkan diri.
(ANTARA)