Polandia Imbau Warga Tak Bepergian ke Rusia di Tengah Dugaan Wabah Pes

Ilustrasi bendera Polandia. (Anadolu Agency)

Polandia Imbau Warga Tak Bepergian ke Rusia di Tengah Dugaan Wabah Pes

Willy Haryono • 6 October 2026 15:40

Warsawa: Inspektorat Sanitasi Utama Polandia (GIS) menyarankan warga Polandia untuk tidak melakukan perjalanan ke Rusia, di tengah laporan mengenai kematian seorang pekerja laboratorium yang diduga terpapar patogen pes.

Imbauan dikeluarkan meski GIS mengatakan belum ada sumber resmi yang mengonfirmasi kasus pes pada manusia di Rusia.

“Saat ini, sumber resmi dari pihak Rusia maupun organisasi kesehatan masyarakat internasional belum menerbitkan informasi yang mengonfirmasi kasus pes pada manusia di wilayah Federasi Rusia,” kata GIS, seperti dikutip dari Polskieradio, Selasa, 6 Oktober 2026.

GIS mengatakan imbauan perjalanan tersebut sejalan dengan rekomendasi Kementerian Luar Negeri Polandia.

Media lokal, yang dikutip situs berita AS Axios, melaporkan Daria Shipilova, 28 tahun, yang bekerja di sebuah lembaga penelitian pes di wilayah Irkutsk, Rusia, memecahkan botol berisi patogen pes pneumonik pada 25 September.

Shipilova dirawat di rumah sakit empat hari kemudian karena mengalami pneumonia parah dan meninggal pada malam 1-2 Oktober.

Media Rusia menyebut Shipilova kemungkinan terinfeksi pes. Namun, otoritas kesehatan Rusia belum mengonfirmasi dugaan tersebut.

Badan kesehatan masyarakat Rusia mengatakan Shipilova mengalami “pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui." Pemeriksaan lanjutan juga disebut tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya. Badan tersebut mengatakan situasi epidemiologis di wilayah itu tetap stabil.

Sejumlah fasilitas medis di wilayah tersebut ditempatkan dalam karantina. Sekitar 200 orang yang melakukan kontak dengan Shipilova juga berada dalam pemantauan medis.

Gubernur wilayah Irkutsk Igor Kobzev mengatakan tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gejala dan seluruh hasil pemeriksaan dinyatakan negatif. Badan kesehatan Rusia juga menyatakan situasi epidemiologis di wilayah tersebut tetap stabil.

Komisi Eropa memantau insiden tersebut dan berkomunikasi dengan para ahli di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), kata juru bicara Eva Hrncirova.

AS Pantau Situasi di Rusia

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan situasi tersebut sedang dipantau, tetapi untuk saat ini belum menjadi alasan untuk menimbulkan kekhawatiran.

GIS mengatakan penyakit pes tidak tercatat di Eropa selama lebih dari 50 tahun, meski kasusnya masih terjadi di Amerika, Afrika, dan Asia. Kasus terakhir di Polandia tercatat dalam epidemi pada akhir abad ke-18, sedangkan kasus pes terakhir yang tercatat di Rusia terjadi pada 2016.

Penyakit tersebut masih ditemukan di Mongolia, termasuk wilayah yang berada di dekat perbatasan Rusia.

GIS mengatakan penyakit pes disebabkan bakteri Yersinia pestis. Penyakit tersebut dinilai tidak lagi menjadi ancaman besar, tetapi belum menghilang karena bakterinya masih bertahan pada reservoir hewan, terutama tikus.

Pes memiliki tiga bentuk, yakni pes bubonik yang saat ini paling umum, pes pneumonik yang dapat menular antarmanusia melalui droplet, serta pes septikemik ketika bakteri berkembang biak di dalam darah.

Gejala biasanya muncul dalam hitungan hari. Antibiotik bekerja paling efektif jika diberikan dalam waktu 24 jam sejak gejala muncul.

GIS mengimbau wisatawan yang bepergian ke wilayah endemis untuk menghindari hewan pengerat liar, menggunakan penangkal kutu, dan rutin mencuci tangan.

Baca juga: Menlu AS Tegaskan Insiden Laboratorium Biologi Rusia bukan Kekhawatiran

(Willy Haryono)