Kekhawatiran Regulasi AI Membayangi Pergerakan Dolar AS

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Kekhawatiran Regulasi AI Membayangi Pergerakan Dolar AS

Ade Hapsari Lestarini • 6 November 2026 08:03

New York: Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Perhatian pasar tertuju pada aksi jual besar-besaran di Wall Street.

Pelaku pasar khawatir mengenai regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (AI), menyusul kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS. Hal ini mendorong para pedagang untuk melepas saham-saham teknologi dan beralih ke aset aman (safe-haven) seperti obligasi pemerintah AS (Treasury bonds) dan yen Jepang.

Melansir Xinhua, Jumat, 6 November 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,02 persen menjadi 101,546 pada pukul 15.00 waktu setempat (2000 GMT).

Dalam perdagangan akhir di New York, euro naik menjadi 1,1225 dolar dari 1,1223 dolar pada sesi sebelumnya. Sementara poundsterling turun menjadi 1,3459 dolar dari 1,3468 dolar pada sesi sebelumnya.

Selain itu, dolar AS diperdagangkan pada level 157,85 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan 158,49 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah menjadi 0,8165 franc Swiss dari 0,8172 franc Swiss, serta menguat menjadi 1,3998 dolar Kanada dari 1,3972 dolar Kanada. Dolar AS juga naik menjadi 9,7948 krona Swedia dari 9,7435 krona Swedia.


Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok MI.
 

 

Investor mencermati data pasar tenaga kerja AS


Para pelaku pasar mata uang juga mencermati data pasar tenaga kerja AS yang cukup kuat, serta keputusan Bank of England untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Hal ini menjadi langkah yang memang telah diantisipasi secara luas.

Melansir Investing, sehari setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS, yang sempat meredakan ketidakpastian pasar, perhatian kini beralih pada potensi dampak politik dari hasil tersebut.

Dengan kendali atas kedua kamar di Kongres, muncul kekhawatiran Partai Demokrat mungkin akan menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap sistem AI dan berupaya membatasi penyebaran pusat data (data center) berskala masif.

Mengingat pembangunan infrastruktur AI berskala besar telah menjadi motor penggerak utama ekonomi AS, hambatan apa pun di sektor ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan melemahkan daya tarik dolar AS.

"Kemarin kita sempat mengira situasi sudah aman karena pasar menguat pasca-pemilihan paruh waktu, namun tiba-tiba kondisi di Wall Street berubah menjadi sangat buruk," ujar ekonom senior di Interactive Brokers, José Torres.

(Ade Hapsari Lestarini)