Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah (kiri). Metrotvnews.com/Muhammad Adyatma Damardjati
Lonjakan Harga Minyak Bisa Berlangsung Lama, Pemerintah Harus Apa?
Eko Nordiansyah • 13 March 2026 15:48
Jakarta: Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai eskalasi konflik Timur Tengah berpotensi menjadi salah satu shock eksternal terbesar bagi ekonomi Indonesia pada 2026. Terutama jika lonjakan harga energi berlangsung dalam periode yang cukup lama.
"Di awal 2026, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya masih terlihat cukup solid. Prasasti memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,0-5,3 persen, didukung oleh permintaan domestik yang relatif stabil serta mulai membaiknya pertumbuhan kredit. Namun demikian, lonjakan harga energi berpotensi mengubah dinamika tersebut," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, dilansir dari Antara, Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar global, seiring lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian di jalur perdagangan energi internasional.
Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat-Israel juga meningkatkan risiko gangguan terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20-30 persen perdagangan minyak dunia.
Gangguan pada jalur ini berpotensi menciptakan shock pasokan energi global yang mendorong lonjakan harga minyak mentah serta meningkatkan volatilitas pasar energi internasional.
Piter menganggap salah satu kerentanan yang paling awal terlihat dalam situasi seperti ini adalah keterbatasan cadangan energi strategis nasional.
Indonesia diminta waspada
Apabila konflik geopolitik terjadi di kawasan yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, lanjutnya, negara-negara pengimpor seperti Indonesia harus lebih waspada. Cadangan energi yang terbatas membuat ruang manuver kebijakan menjadi lebih sempit apabila terjadi gangguan pasokan global.Cadangan minyak strategis Indonesia diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 23-26 hari, masih jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh International Energy Agency (IEA), yaitu sekitar 90 hari impor bersih.
Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tak terlalu terlihat, tetapi pada konteks potensi gangguan pasokan global, situasi ini dapat meningkatkan kerentanan energi nasional.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)
Tekanan pertumbuhan ekonomi
Kenaikan harga minyak disebut akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, melemahkan daya beli rumah tangga, serta menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.Jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama, ucapnya, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia turun di bawah ambang lima persen menjadi semakin besar.
Dia menambahkan, tekanan energi yang berkepanjangan berpotensi memicu perlambatan konsumsi rumah tangga, serta peningkatan inflasi melalui kenaikan biaya distribusi barang. Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko arus keluar modal serta memperbesar tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik jika dilihat dalam skenario yang lebih ekstrem.
Pengalaman masa lalu menunjukkan guncangan eksternal dapat mempengaruhi ekonomi domestik dalam waktu relatif singkat, seperti periode krisis keuangan global 2008-2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif namun melambat sekitar 1,4 poin persentase dalam satu tahun.
Selain itu, lonjakan harga minyak turut berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Harga energi lebih tinggi biasanya meningkatkan kebutuhan impor energi, yang dapat memperbesar tekanan terhadap neraca eksternal.
Piter menerangkan peningkatan ketidakpastian global juga cenderung mendorong investor internasional mengalihkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sering kali mengalami volatilitas yang lebih tinggi dalam situasi seperti ini.
"Ketika harga energi naik dan ketidakpastian global meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah biasanya ikut meningkat. Ini bukan hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika pergerakan modal global," ungkap Piter.
Fundamental makroekonomi Indonesia masih kuat
Kendati demikian, Prasasti menilai kondisi saat ini belum mengarah pada krisis. Fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat dibandingkan dengan beberapa periode guncangan sebelumnya, tetapi situasi saat ini tetap memerlukan pengelolaan kebijakan yang hati-hati.Piter menganggap pemerintah perlu memastikan komunikasi kebijakan ekonomi berjalan dengan jelas, terutama terkait strategi menjaga disiplin fiskal, mengelola tekanan subsidi energi, serta mempertahankan kepercayaan investor.
"Dalam situasi ketidakpastian global seperti sekarang, kejelasan arah kebijakan ekonomi menjadi sangat penting. Pasar akan melihat bagaimana pemerintah menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan ekonomi domestik tetap tumbuh," ujar dia.
Prasasti juga menilai bahwa perkembangan konflik geopolitik ini dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut Prasasti, saat ini penting bagi pemerintah untuk meningkatkan transparansi kepada publik mengenai arah perekonomian Indonesia di tengah eskalasi besar. Komunikasi yang jelas dan tepat waktu dianggap sangat penting, karena publik berhak mengetahui bagaimana pemerintah menilai risiko serta menyiapkan langkah antisipasi.
Pihaknya juga menyebut pemerintah perlu meninjau kembali sejumlah proyek strategis nasional apabila krisis semakin memburuk agar ruang fiskal perlu tetap fleksibel, dan penetapan prioritas proyek menjadi penting apabila tekanan eksternal terhadap anggaran negara meningkat.
Terakhir, penguatan komunikasi yang konsisten dengan investor perlu dijalankan, termasuk kepada lembaga pemeringkat dan institusi sell-side. Pihaknya merasa pemerintah harus menyampaikan secara jelas langkah-langkah konkret yang diambil untuk menjaga stabilitas fiskal dan mempertahankan kepercayaan pasar.