Transformasi Danantara Dorong Kinerja Krakatau Steel dan Kimia Farma

Ilustrasi Gedung Danantara. Foto: dok Danantara.

Transformasi Danantara Dorong Kinerja Krakatau Steel dan Kimia Farma

Ade Hapsari Lestarini • 13 August 2026 23:24

Jakarta: Upaya pemulihan kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan PT Kimia Farma Tbk mulai menunjukkan hasil setelah keduanya berada dalam pengelolaan Danantara Indonesia.

Melalui penguatan modal kerja, restrukturisasi, dan disiplin pengelolaan portofolio, dua BUMN strategis tersebut mulai bergerak dari fase tekanan menuju pemulihan kinerja yang lebih sehat.

Di Krakatau Steel, dukungan Danantara menjadi salah satu faktor dalam menjaga keberlanjutan operasional dan memperkuat fundamental perusahaan. Emiten baja yang berdiri sejak 1970 di Cilegon itu sebelumnya menghadapi tekanan akibat beban operasional, termasuk kebakaran fasilitas Hot Strip Mill (HSM) 1 pada 2023.

Setelah memperoleh dukungan pendanaan dan restrukturisasi, Krakatau Steel mulai mencatatkan perbaikan kinerja. Posisi keuangan perusahaan berbalik dari kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar-Rp185 miliar.

Perbaikan tersebut mengingat Krakatau Steel memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baja nasional. Dengan struktur keuangan yang lebih terkendali dan operasional yang kembali diperkuat, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mendukung kebutuhan baja bagi sektor infrastruktur, konstruksi, dan manufaktur nasional.


Ilustrasi Gedung Krakatau Steel. Foto: dok Krakatau Steel.

 

 

Pemulihan kinerja Kimia Farma


Sinyal pemulihan juga terlihat pada Kimia Farma. Perusahaan farmasi yang memiliki sejarah panjang sejak 1817 itu mulai menunjukkan perbaikan kinerja setelah masuk dalam ekosistem Danantara. Serta memperoleh dukungan restrukturisasi dan capital support.

Kimia Farma membukukan laba Rp54,07 miliar dari sebelumnya rugi Rp135,61 miliar. Perbaikan tersebut menjadi langkah awal bagi Kimia Farma untuk memperkuat kembali perannya di industri farmasi dan layanan kesehatan nasional.

Kinerja yang mulai membaik memberikan ruang bagi perusahaan untuk menata ulang prioritas bisnis, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat layanan di tengah kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.

Transformasi melalui Danantara Asset Management (DAM), unit di bawah BPI Danantara yang mengelola aset dan investasi BUMN, menjadi bagian dari pendekatan baru dalam pengelolaan portofolio BUMN. Langkah yang ditempuh telah mengembalikan perusahaan pada jalur pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Direktur eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengapresiasi langkah Danantara Indonesia dalam mendorong pemulihan kinerja BUMN.

"Menurut saya, kita apresiasi jika banyak BUMN meningkatkan keuntungannya dan berhasil pulih dari kerugian berkat transformasi, perampingan serta pemangkasan lapisan manajemen, dan efisiensi biaya operasional secara besar-besaran," kata Esther.
   

Pengelolaan portofolio secara lebih aktif


Menanggapi keberhasilan turnaround sejumlah BUMN seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma, Esther menilai, restrukturisasi yang didukung Danantara Asset Management (DAM) telah memberikan hasil nyata.

"Mengingat suntikan dana restrukturisasi yang diberikan oleh Danantara Asset Management sukses membuat BUMN seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma berbalik dari posisi rugi menjadi mencetak laba," kata dia, Kamis, 13 Agustus 2026.

Pemulihan Krakatau Steel dan Kimia Farma sekaligus menjadi contoh awal bagaimana pengelolaan portofolio secara lebih aktif dapat membantu BUMN melewati fase tekanan dan kembali memperbaiki kinerja.

Jika tren ini dapat dijaga, model serupa berpotensi diterapkan pada perusahaan BUMN lain yang membutuhkan penguatan fundamental, baik dari sisi keuangan, operasional, maupun tata kelola.

Di sisi tata kelola, reformasi BUMN juga diperkuat melalui penerapan prinsip Business Judgment Rule (BJR), yang memberi ruang bagi direksi untuk mengambil keputusan bisnis secara profesional sepanjang dilakukan dengan itikad baik dan menghindari tindakan melawan hukum.

Peneliti Nagara Institute, Satya Arinanto, mengatakan perlindungan tersebut penting agar pengambilan keputusan strategis di BUMN dapat berjalan lebih efektif, namun tetap dalam koridor akuntabilitas.

"Aturan perlindungan hukum tersebut bertujuan memberikan kepastian bagi manajemen dalam mengambil keputusan bisnis yang memiliki risiko usaha," ujar Satya.

Menurut Satya, penerapan BJR menjadi salah satu elemen penting dalam memperkuat tata kelola BPI Danantara, karena doktrin hukum tersebut memberikan ruang bagi direksi untuk mengambil keputusan bisnis secara profesional dengan tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik.

(Ade Hapsari Lestarini)