Rusia Hadapi Krisis BBM, Antrean Panjang Terjadi di Sejumlah SPBU

Salah satu SPBU di Rusia. (Anadolu Agency)

Rusia Hadapi Krisis BBM, Antrean Panjang Terjadi di Sejumlah SPBU

Willy Haryono • 1 July 2026 14:43

Moskow: Rusia menghadapi kekurangan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin meluas setelah berbulan-bulan serangan Ukraina menghantam kilang minyak dan infrastruktur energi negara itu.

Kondisi tersebut memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, pembatasan pembelian BBM, hingga kenaikan harga di sejumlah wilayah.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui gangguan pasokan tersebut, tetapi menegaskan situasinya belum berada pada tingkat kritis.

"Masalah masih dirasakan pengendara maupun pelaku usaha. Masih ada antrean di SPBU dan tidak selalu mudah mendapatkan jenis bensin yang dibutuhkan," kata Putin dalam pernyataan yang disiarkan televisi dan dikutip India Today, Rabu, 1 Juli 2026.

Meski demikian, Putin menyebut kekurangan BBM hanya bersifat sementara.

Menurut laporan Associated Press (AP), dampak krisis kini dirasakan mulai dari Moskow hingga wilayah Siberia. Sejumlah daerah telah menerapkan pembatasan pembelian BBM, sementara pengendara melaporkan pompa kosong dan waktu antrean yang mencapai beberapa jam.

AP mencatat lebih dari 50 serangan Ukraina terhadap kilang minyak, depot, terminal, dan infrastruktur energi Rusia maupun Semenanjung Krimea sejak akhir Maret. Beberapa fasilitas, termasuk kilang di Tuapse, dilaporkan diserang berulang kali.

Analis pasar minyak Energy Intelligence, Gary Peach, mengatakan kapasitas pengolahan minyak Rusia turun tajam pada Juni menjadi sekitar 3,95 juta barel per hari, atau 25 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produksi bensin juga turun menjadi sekitar 850 ribu barel per hari dari sebelumnya 1,03 juta barel per hari. "Gangguan operasional kali ini sangat luar biasa," ujar Peach.

Perbaikan Kilang Minyak

Sementara itu, Kepala Eksekutif Macro-Advisory Ltd Chris Weafer memperkirakan sekitar sepertiga kapasitas pengilangan minyak Rusia saat ini tidak beroperasi. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi ketika permintaan BBM meningkat akibat musim panen.

Pemerintah Rusia telah membatasi ekspor bensin dan bahan bakar aviasi serta mempertimbangkan pembatasan ekspor solar guna menjaga pasokan domestik. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga mengatakan pemerintah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara mengenai kemungkinan impor bahan bakar untuk membantu menstabilkan pasar.

Krisis turut berdampak pada wilayah yang jauh dari lokasi serangan. Di Omsk, pemerintah membatasi pembelian hingga 40 liter per kendaraan, sementara di Irkutsk pemerintah kota menaikkan tarif transportasi umum akibat meningkatnya biaya bahan bakar.

Weafer menilai Rusia sebenarnya masih memiliki cadangan BBM yang memadai, namun distribusinya tidak merata.

"Masalahnya bukan kekurangan pasokan secara nasional, tetapi bahan bakar berada di lokasi yang salah. Memindahkannya ke wilayah yang membutuhkan akan memerlukan waktu beberapa minggu," katanya.

Selain itu, proses perbaikan kilang minyak diperkirakan berlangsung lambat karena banyak peralatan yang rusak merupakan komponen khusus yang sebelumnya dipasok dari luar negeri dan kini sulit diperoleh akibat sanksi internasional.

Menurut para analis, apabila tidak terjadi kerusakan baru pada infrastruktur energi Rusia, gangguan pasokan diperkirakan masih akan berlangsung sepanjang musim panas.

Baca juga:  Zelensky Ejek Rusia yang Alami Kelangkaan BBM di Sejumlah Wilayah

(Willy Haryono)