Harga Minyak Dunia Melonjak usai AS Serang Iran, Brent Dijual USD75/Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Carsurin.com

Harga Minyak Dunia Melonjak usai AS Serang Iran, Brent Dijual USD75/Barel

Husen Miftahudin • 8 July 2026 08:20

Houston: Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Rabu setelah militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangan baru terhadap Iran. Sentimen pasar juga dipengaruhi pemberlakuan kembali sanksi terhadap minyak Iran menyusul meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
 
Mengutip Investing.com, Rabu, 8 Juli 2026, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,9 persen menjadi USD72,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent belum memulai perdagangan setelah ditutup menguat 5,5 persen ke level USD75,94 per barel pada perdagangan Selasa.
 
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran. Langkah tersebut disebut sebagai upaya memberikan "biaya yang berat" atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial. Dalam pernyataannya, Centcom juga menuduh Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
 

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Kekhawatiran gangguan pasokan minyak meningkat

 
Meningkatnya kembali konflik serta munculnya indikasi gangguan pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
 
Situasi tersebut terjadi setelah AS mencabut konsesi yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional. Langkah itu dipandang berpotensi memperketat pasokan minyak global dalam beberapa pekan mendatang.
 
Laporan juga menyebutkan Iran menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut memperburuk ketegangan antara kedua negara sekaligus meningkatkan ketidakpastian terhadap keamanan jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia.
 
Sebelumnya, harga minyak sempat turun ke level sebelum konflik pada Juni setelah AS dan Iran menyepakati kerangka perdamaian. Kesepakatan tersebut mendorong meningkatnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
 
Namun, meningkatnya kembali aksi permusuhan berpotensi mengganggu implementasi kesepakatan tersebut. Prospek perundingan damai antara kedua negara juga kembali dibayangi ketidakpastian.
 

Kenaikan produksi OPEC+ belum mampu redam sentimen pasar

 
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah untuk sementara menutupi sentimen peningkatan produksi minyak dari negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya (OPEC+).
 
Sebelumnya, OPEC+ menyepakati peningkatan produksi minyak dalam pertemuan yang digelar pada akhir pekan. Namun, perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang lebih dominan memengaruhi pergerakan harga minyak pada perdagangan kali ini.

(Husen Miftahudin)