FMI resmi menjalin kolaborasi strategis dengan PMA. Foto: Dok. Istimewa.
FMI dan PMA Teken MOU Tata Kelola Pendakian Carstensz Pyramid
Fachri Audhia Hafiez • 8 February 2026 09:45
Jakarta: Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Papua Mountaineering Association (PMA) dalam upaya membenahi tata kelola pendakian di kawasan Carstensz Pyramid, Taman Nasional Lorentz, Papua. Kerja sama yang berfokus pada program pembangunan daerah dan penataan ragam alam (Nataraga) ini diharapkan mampu membawa standar pendakian Indonesia ke level internasional yang lebih bermartabat.
"Kerja sama ini bukan sekadar pendakian, melainkan upaya bersama untuk memastikan ragam alam Indonesia (Nataraga) memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip zero accident dan zero waste," ujar Ketua Umum PB FMI, Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, dalam acara penandatanganan MOU di Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu, 7 Februari 2026.
Buyung menekankan bahwa sinergi ini merupakan tonggak penting untuk memaksimalkan potensi bentang alam Indonesia sebagai pilar kesejahteraan rakyat. Fokus utamanya adalah sinkronisasi antara aktivitas mountaineering profesional dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di sekitar kawasan pegunungan.
Senada dengan itu, Ketua Umum PMA Maximus Tipagau menyebut kolaborasi ini sebagai jembatan emas. Khususnya untuk memperkenalkan potensi Puncak Jaya sebagai bagian dari Seven Summits dunia secara lebih profesional.
"Gunung dunia itu ada di Papua, dengan kepanjangan tangan kolaborasi PB FMI dan PMA dengan pemerintah pusat untuk memastikan Indonesia memimpin di kancah mountaineering dunia. Bersinergi ini diharapkan mampu menyederhanakan birokrasi koordinasi dengan kementerian terkait, mulai dari Kementerian Pariwisata hingga melibatkan TNI-Polri," jelas Maximus.
.jpeg)
FMI resmi menjalin kolaborasi strategis dengan PMA. Foto: Dok. Istimewa.
Sementara, Sekjen PB FMI dr. Muhammad Iqbal EL Mubarak menambahkan bahwa kerja sama ini juga menyasar pada modernisasi sistem keamanan pendakian. Hal ini mencakup pemantauan kesehatan jemaah pendaki, jaminan keselamatan, hingga standarisasi peralatan bersertifikasi internasional.
"Kerja sama PB FMI dan PMA menjadi arah yang lebih baik fokus pada keseluruhan mulai dari pemantauan kesehatan, jaminan keselamatan hingga standarisasi peralatan yang dipakai, yang bersertifikasi nasional dan internasional," ujar Iqbal.
Dengan adanya regulasi yang jelas dan sistem tanggap darurat yang modern, FMI dan PMA optimis pegunungan di Indonesia, khususnya di Papua, akan menjadi laboratorium alam yang aman bagi para pendaki domestik maupun mancanegara.